
Seharian itu Anaya dan Ica menghabiskan waktu bersama. Hingga mereka harus berpisah saat sore tiba. Tapi, sebelumnya itu Anaya dan Ica sudah saling bertukar nomor ponsel agar memudahkan mereka berkomunikasi.
Anaya mengantarkan Ica pulang ke rumah gadis tersebut. Sampai di sana, ia pun mampir dan berbincang dengan ibunya Ica.
"Bye, Ica." Anaya melambaikan tangannya kepada Ica dan ibu, saat dirinya sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk pulang.
"Hati-hati, Nay. Dan terima kasih traktirannya hari ini," ucap Ica kepada Anaya yang sudah menyalakan mesin mobil.
"Sama-sama. By the Way, aku satu minggu ke depan akan liburan ke Bali, kamu mau ikut?" ajak Anay, namun Ica menggeleng sebagai jawaban.
"Aku tidak bisa ikut," ucap Ica.
"Tidak apa-apa, aku lupa kalau kamu ini adalah mahasiswi kedokteran yang teladan," ucap Anaya, menggoda Ica.
"Semua ini berkat keluargamu, Nay," jawab Ica.
"Karena kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Ca," ucap Anaya, kemudian ia melambaikan tangannya sekali lagi, dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Ica yang sederhana itu.
*
*
Anaya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang pada pada hari sore hari itu. Setengah jam kemudian ia sampai di rumahnya. Ia turun dari mobil dengan perasaan yang bahagia, sembari menenteng beberapa paper bag.
"Sepertinya kamu sedang bahagia, Sayang?" Gwen menyambut kepulangan putrinya dengan pelukan hangat.
"Yes, Mommy. Aku hari ini sangat bahagia sekali," jawab Anaya.
"Coba ceritakan kepada Mommy." Gwen menuntun putrinya menuju ruang keluarga, dan duduk di sofa yang ada di sana.
"Aku hari ini bertemu dengan Ica, Mom. Aku tidak menyangka jika selama ini dia menungguku, dia benar-benar sahabat yang sangat tulus." Anaya menceritakan semuanya kepada ibunya dengan perasaan bahagia dan juga terharu.
"Mommy, sudah pernah bilang 'kan kalau Ica adalah sahabat yang baik, tapi saat itu kamu terlalu takut untuk membuka diri," jawab Gwen seraya mengusap lengan putrinya dengan lembut.
"Ya, hanya dia yang aku percaya," jawab Anaya.
"Sekarang istirahatlah karena kamu besok akan berangkat ke Bali," ucap Gwen, dan Anaya menganggukkan kepalanya.
*
*
Esok harinya, Anaya sudah bersiap berangkat ke Bandara. Ia di antarkan oleh kedua orang tuanya.
"Sudah siap semuanya? Apakah kamu yakin ingin berlibur sendiri? Tidak ingin Daddy temani?" tanya Aiden saat memasukkan koper putrinya ke bagasi mobil.
"Dad!" protes Anaya agar ayahnya itu tidak bertanya lagi.
"Baiklah ... baiklah, kamu membutuhkan ruang dan waktu sendiri. So, nikmati liburanmu," jawab Aiden lalu memeluk putrinya dengan erat.
"Ayolah, ini sudah siang. Apakah kalian ingin berpelukan seperti itu terus?" seru Gwen kepada anak dan suaminya.
"Sepertinya Mommy sudah tidak sabar ingin aku pergi," sungut Anaya memasuki mobil, dan duduk di jok belakang.
"Ya, kami juga membutuhkan ruang dan waktu untuk bermesraan, tanpa ada pengganggu," sindir Gwen kepada putrinya.
"Ya, ya, ya, nikmati honey moon kalian tapi jangan sampai membawa adik bayi untukku!" jawab Anaya melipat kedua tangannya di dada.
"Astaga, Mommy-mu sudah terlalu tua untuk mengandung," jawab Aiden sambil melajukan mobil yang ia kendarai.
"Hei, siapa yang kamu bilang tua?" protes Gwen, melotot horor kepada suaminya.
"Kamu, apakah kamu tidak sadar?" jawab Aiden menunjuk istrinya. "Daddy, benar 'kan?" Aiden meminta persetujuan dari putrinya.
Anaya menjawab dengan anggukan kepala, yang berhasil membuat Gwen marah.
"Kalian ini sama saja!" omel Gwen.