Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 34


Sudah menjadi rutinitas Gwen setiap pagi dan sore akan membasuh badan putrinya dengan air hangat dan mengganti pakaiannya. Di bantu oleh seorang perawat, Gwen dengan hati-hati membasuh badan putrinya.


"Lihatlah kamu selalu terlihat sangat cantik," ucap Gwen yang sudah selesai membasuh badan Anaya dan menggantikan pakaian putrinya.


Perawat yang membantunya sudah pamit undur diri untuk mengecek pasien lainnya.


Gwen mengambil sisir lalu menyisir rambut putrinya yang terlihat semakin panjang. "Rambutmu sudah sangat panjang, Sayang. Kamu tidak ingin ke salon bersama Mommy?" ucap Gwen kepada putrinya yang terpejam. Gwen berharap Anaya bisa merespon semua ucapannya.


"Mommy kemarin juga mendengar lagu dari penyanyi favoritemu. Kamu tidak ingin mendengarnya?" ucap Gwen yang kini sudah selesai menyisir rambut putrinya, lalu beralih mengambil ponselnya dari dalam tasnya.


Gwen memutar lagu dari ponselnya, sebuah lagu dari penyanyi favorite putrinya yang baru merilis single terbaru beberapa hari yang lalu. Gwen meletakkan ponsel tersebut di dekat telinga Anaya.


"Dengarkan, Sayang. Bukankah kamu ingin menjadi penyanyi terkenal seperti dia? Ayo, bangunlah, Mommy akan mendukungmu hingga kamu mencapai panggung kesuksesan," ucap Gwen, sembari menatap putrinya yang masih asik terpejam.


"Jangan siksa Mommy dan Daddy seperti ini, Nak. Mommy mohon bangunlah, agar kamu bisa kembali ke Indonesia dan bertemu dengan teman-temanmu lagi," ucap Gwen dengan segala lara hati yang ia rasakan. Lagi-lagi dirinya tidak kuasa menahan tangisnya.


Aiden memasuki ruang rawat putrinya sembari membawa goodie bag di tangannya. Ia menghentikan langkahnya di ambang pintu saat melihat istrinya terduduk di kursi di sebelah tempat tidur pasien sambil menangis sedih.


Aiden melangkahkan kakinya ke dalam kamar tersebut. Miris memang saat melihat kondisi putrinya yang memprihatinkan. Banyak alat medis yang menempel di tubuh putrinya. Alat medis yang membantu Anaya bertahan hidup hingga saat ini.


Aiden meletakkan goodie bag di atas sofa, lalu mendekati Anaya yang terbaring tidak berdaya di atas pembaringan. Lalu mengampil ponsel yang ada di dekat telinga Anaya dan menyerahkan kepada Gwen.


Gwen menatap suaminya yang sedang membisikkan sesuatu kepada putrinya, lalu beralih menatap Anaya.


"Apa yang Daddy bisikkan kepada Anaya?" tanya Gwen seraya beranjak dari duduknya.


"Aku memarahi anak bandel ini yang sudah membuat kita semua bersedih," jawab Aiden.


"Daddy, lihatlah kelopak mata Anaya bergerak," ucap Gwen seraya membekap mulutnya dengan telapak tangannya, dan air matanya terus menetes membahasi pipinya. Setelah sekian lama, putrinya baru kali ini merespon ucapan mereka.


Sungguh terharu dan bahagia yang di rasakan oleh Gwen dan Aiden.


"Kenapa Daddy diam saja? Cepat marahi anak bandel ini," ucap Gwen kepada suaminya.


Aiden mengangguk lalu membisikkan kata-kata ancaman kepada putrinya.


Sedangkan Gwen memanggil dokter dengan cara menekan tombol yang ada di dekat tempat tidur pasien.


Tidak berselang lama, dokter dan perawat memasuki ruangan tersebut dengan tergesa.


"Dokter cepat periksa putriku. Dia merespon ucapan kami."