Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 41


3 tahun kemudian.


Kehidupan berputar begitu cepat dan tidak terasa sudah 3 tahun berlalu semenjak kecelakaan yang menimpa Anaya.


Anaya gadis tuna rungu itu kini bertransformasi menjadi gadis yang lebih dewasa dan sangat cantik. Meskipun ia masih merasa minder dengan kekurangan yang ia miliki. Tapi, berkat dukungan dan semangat dari keluarganya, Anaya kini berhasil meraih cita-citanya—menjadi penyanyi terkenal.


Tentu saja perjuangannya bisa mencapai titik ini sangatlah berat, tidak mudah bagi Anaya untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.


Gerald saat ini sudah menjadi seorang CEO muda di perusahaannya. Pemuda tampan itu kini terlihat semakin matang dan gagah. Sedangkan Lucky sahabatnya. Memilih melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


Lalu Ica? Gadis culun dan berkaca mata itu masih menempuh pindidikkannya di fakultas kedoteran. Cita-citanya menjadi dokter spesialis THT.


*


*


"Minggu depan, kosongkan jadwalku," ucap Anaya kepada manajernya.


Badannya terasa lelah, karena hampir sebulan ini dirinya kenbajiran job. Namanya sudah melambung tinggi, dan saat ini Anaya menjadi penyanyi terkenal yang sedang di gandrungi oleh para remaja, hingga orang tua. Suaranya yang sangat merdu membuat semua orang menjadi candu mendengarnya.


"Baiklah, aku akan mengaturnya," ucap Manajernya. "Kamu butuh liburan? Aku akan mengurusnya."


"Hemm, Bali, aku ingin ke sana," jawab Anaya sembari menyandarkan punggungnya di sofa, saat ini dirinya sedang berada di kantor menagement-nya.


"Oke, kamu akan mendapatkan liburanmu," ucap Manjernya itu segera mengurus liburan Anaya. Ia akan menyiapkan penginapan dengan fasilitas terbaik untuk artisnya itu.


"Aku juga menyiapkan bodyguard untukmu."


"No! Aku tidak menginginkannya. Aku bisa menjaga diriku sendiri," tolak Anaya, karena kali ini ia ingin berlibur tanpa ada gangguan apa pun.


"Anaya, kamu lupa siapa dirimu sekarang?" kesal Manajernya yang cemas dengan keamaan Anaya.


"Percaya kepadaku. Apakah kamu lupa jika keluarga adalah nomer satu di negara ini? Mereka juga tidak akan membiarkanku pergi sendirian, mereka tetap akan mengirimkan bodyguard bayangkan untukku! Ish, menyebalkan!" sewot Anaya, merasa kebebasannya sedikit di batasi, namun ia sadar jika yang di lakukan keluarganya demi kebaikannya sendiri.


"Huh, dasar sialan!" umpat Anaya.


*


*


Ica saat ini sedang menonton televisi di rumahnya. Hari libur ia manfaatkan untuk bermalas-malasan.


"Hei, bukankah itu temanmu? Anaknya Tuan Aiden?" Ibu Ica yang ikut menonton televisi terkejut saat melihat Anaya bernyanyi di salah satu stasiun televisi.


"Iya, dia sudah berhasil meraih cita-citanya. Tapi, sampai saat ini aku dan dia belum pernah bertemu lagi semenjak kejadian naas itu," jawab Ica seraya menghela nafas kasar.


"Kamu sudah berbicara dengan keluarganya?" tanya Ibu sambil mengelus lengan putrinya dengan lembut, mengerti jika saat ini Ica sedang merasa sedih.


"Dia sudah tidak percaya dengan siapa pun lagi, Bu. Padahal aku sangat merindukannya," ucap Ica yang kini terisak.


"Ibu tidak tahu harus berkata apa, tapi semoga kamu dan dia segera di pertemukan kembali. Belajar dengan giat, agar kamu tidak mengecewakan keluarga Tuan Aiden yang selama ini sudah membiayaimu kuliah," ucap Ibu, lalu beralih mengusap pucuk kepala putrinya.


"Ya, Bu," jawab Ica yang kini sudah menangis di pelukan ibunya.


*


*


*


"Apakah harus aku yang menangani proyek ini?" tanua Gerald kepada Asistennya.


"Iya, Pak, dan tiket Anda ke Bali, sudah saya persiapkan," jawab asisten tersebut.


"Oh, God!" Gerald mengusap wajahnya dengan kasar.