Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 31


Angel dan kedua temannya di tahan oleh pihak berwajib. Bullying yang Trio racun lakukan masuk ke dalam kategori Bullying Verbal.


Bullying Verbal juga dapat di katakan sebagai awalan untuk menuju proses intimidasi ke tingkat selanjutnya. Pelaku Bullying Verbal mendapatkan ancaman pidana sesuai pasal yang sudah di tentukan oleh UDD. Dan akan di penjara selama 3 tahun atau denda.


Semua usaha orang tua Trio racun pun di buat bangkrut hingga sampai ke titik yang paling rendah.


Gwen membuktikan ucapannya jika akan membuat orang yang sudah melukai putrinya akan menderita selamanya.


Dan untuk pria yang menabrak Anaya telah pun sudah di bebaskan oleh Aiden. Karena pria tersebut mempunyai keluarga dan juga bayi. Aiden dan Gwen memaafkan pria penabrak itu, karena bukan murni kesalahannya.


***


“Maaf, Pak, sepertinya saya tidak bisa maju ke kompetisi,” ucap Gerald kepada Pak Chandra.


Pak Chandra menghela nafas berat, ia sangat menyayangkan hal ini, namun ia juga tidak memaksa. “Tidak apa-apa, lagi pula masih banyak waktu, jadi saya bisa mencari penggantimu dan Anaya,” ucap Pak Chandra.


“Baik, terima kasih, Pak,” ucap Gerald, menundukkan sedikit kepalanya lalu segera pamit undur diri.


Gerald berjalan menyusuri koridor sekolah, ia hari ini akan menjenguk Anaya yang masih koma di rumah sakit.


“Rald!” seru Ica yang berlari ke arah Gerald.


“Kamu mau ke rumah sakit?” tanya Ica.


“Iya, kamu juga?” Gerald balik bertanya.


“Iya, kita bareng saja. Sudah tiga hari aku tidak menjenguk Anaya,” ucap Ica berjalan bersisian dengan Gerald.


“Oke,” jawab Gerald.


Gerald dan Ica menuju rumah sakit mengendarai kendaraanya masing-masing.


Sudah satu minggu Anaya berada di rumah sakit dengan keadaan koma, dan belum menunjukkan perubahan.


Sampai di rumah sakit, Gerald dan Ica berjalan bersama menuju ruang ICU di mana Anaya di rawat di sana.


“Loh?!” Ica terkejut saat sampai di depan ruang ICU tersebut yang kosong dan Anaya tidak ada di sana.


Jantung Ica berdetak dengan cepat, segala pemikiran buruk melintas di benaknya.


“Rald.” Ica menepuk pundak Gerald yang sama terkejutnya dengan dirinya.


“Tidak mungkin.” Gerald menggeleng pelan dan kedua matanya berkaca-kaca.


“Rald, jangan berpikiran seperti itu. Siapa tahu Anaya sudah sadar dan di pindahkan di ruang rawat. Sebentar, itu ada suster ...” Ica menghampiri Perawat yang baru memasuki ruangan ICU tersebut yang sedang mempersiapkan kamar tersebut untuk pasien lainnya.


“Sus, saya ingin bertanya. Pasien yang bernama Anaya yang kemarin di sini di pindahkan ke mana ya?” tanya Ica kepada Perawat tersebut.


“Yang korban kecelakaan itu ya? Keluarganya memindahkannya ke rumah sakit di luar negeri,” jawab Perawat tersebut.


Ica sangat terkejut saat mendengarnya. “Sejak kapan?” tanya Ica lagi.


“Sejak dua hari yang lalu.”


Ica terdiam beberapa saat lalu keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Gerald dengan lesu dan sedih.


“Bagaimana?” tanya Gerald.


“Kita terlambat Rald. Anaya sudah di pindahkan ke rumah sakit di luar negeri,” jawab Ica, kedua matanya berkaca-kaca. Sedangkan Gerald mengusap wajahnya dengan kasar.


Gerald dan Ica berjalan lesu, dan tidak bersemangat keluar dari rumah sakit tersebut. Keduanya memikirkan keadaan Anaya.


***


So, mungkin sampai di sini adakah pelajaran yang bisa di petik?