
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Anaya memalingkan wajahnya, menjadi salah tingkah saat di tatap Gerald.
"Ada yang salah?" tanya Gerlad mengulas senyum.
"Tidak sih, tapi aku malu," jawab Anaya lalu menepuk pundak Gerald. "Ayo, antarkan aku pulang." Anaya segera mengalihkan pembicaraan.
Gerald tersenyum tipis sembari menatap pundaknya yang baru saja di tepuk gadis itu.
Gerald mengantarkan Anaya sampai di depan pintu gerbang rumah gadis itu. Anaya berterima kasih kepada Gerald yang sudah mengantarkan dirinya.
Gerald memperhatikan rumah yang tiga kali lebih besar dari rumahnya. Ada sedikit rasa minder di hatinya, karena Anaya adalah anak orang kaya yang artinya memiliki segalanya.
"Ada apa?" tanya Anaya, sembari menyerahkan helm yang ia kenakan kepada Gerald.
"Tidak ada apa-apa," jawab Gerald, menerima helm tersebut lalu menggantungkannya di bawah stang motornya.
"Gerald, apakah kamu masih mau berteman denganku jika sudah mengetahui tentang diriku yang sebenarnya?" tanya Anaya dengan ragu.
"Tentu aku akan selalu menjadi temanmu, bahkan kalau bisa lebih dari itu," jawab Gerald namun terdengar ambigu bagi Anaya.
"Maksud kamu apa?" tanya Anaya.
Gerald gelagapan karena ia sudah keceplosan berbicara. "Maksudku, aku heru segera pulang, Bye ..." Gerald segera memutar gas motornya lagi meninggalkan kawasan perumahan elite itu.
"Bye ..." Anaya melambaikan tangan kanannya ke arah Gerald yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.
Anaya memasuki rumahnya dengan sedikit berlari, sampai di ruang tamu, ia terkejut saat melihat Ica sedang mengobrol dengan ibunya.
"Loh, Ca?" Anaya keheranan saat melihat temannya ada di sana.
"Naya, aku dari tadi siang sudah berusaha untuk menghubungimu jika aku akan datang ke sini, untuk mengatarkan kue buatan ibuku sebagai ucapan terima kasih," ucap Ica dan di angguki Gwen.
"Benarkah?" Anaya segera merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, dan benar saja ada beberapa panggilan dan pesan dari Ica. "Maaf ya, Ca. Aku tidak mendengar ponselku berdering," jelas Anaya.
"Iya, lagi pula aku sudah ingin pulang," jawab Ica.
"Aduh, jangan dong! Aku baru datang loh," rengek Anaya, mencegah Ica agar tidak pulang.
"Benar itu. Lagi pula ini masih siang." Gwen menimpali. "Memangnya kamu nggak betah di rumah ini?" tanya Gwen kepada Ica.
"Betah, Tante," ucap Ica, pada akhirnya ia memutuskan untuk tetap berada di sana menemani Anaya sampai sore hari.
*
*
"Lancar dong," jawab Anaya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, sedangkan Ica duduk di tepian sembari memegang buku novel yang akan dia baca.
"Nay, si Angel katanya sudah keluar dari rumah sakit. Aku jadi takut," ucap Ica dengan gelisah, takut Trio racun membuat ulah lagi.
"Iya, biarkan saja, aku yakin jika dia sudah jera," jawab Anaya.
"Nay, aku takut kalau dia melukai kamu, apa lagi kedekatanmu dengan Gerald sudah menyebar luas di seluruh sekolah. Cinta itu bisa membuat buta mata dan buta hati, Nay," ucap Ica, di iringi dengan helaan nafas kasar.
"Yang penting aku dan Gerald nggak ada hubungan apa pun," jawab Anaya sambil memejamkan kedua mata.
"Aku sudah mengingatkan kamu, Nay." Ica menjadi kesal sendiri karena temannya itu keras kepala tidak mau mendengarkan ucapannya.
"Aku pulang ya." Pamit Ica.
"Kamu marah?" tanya Anaya, mendudukkan dirinya sembari menatap Ica sedang mamakai jaket.
"Nggak, sudah sore, Nay. Lagi musim begal, jadi aku nggak berani pulang terlalu malam," jawab Ica, sebenarnya ia merasa kesal dengan temannya itu.
"Aku antarkan sampai depan," ucap Anaya, namun Ica menolaknya.
"Kalau begitu hati-hati, Ica," ucap Anaya kepada Ica yang sudah keluar dari kamarnya.
"Oke," sahut Ica.
*
*
"Mau pulang, Ca?" tanya Aiden saat mereka bertemu di halaman rumah. Kebetulan Aiden baru turun dari mobilnya.
"Eh, iya, Om," jawab Ica, tersenyum canggung.
"Kalau begitu hati-hati," ucap Aiden sambil mengulas senyum, lalu memasukin rumahnya.
Hati Ica sudah ser-seran melihat senyum pria berusia matang itu. "Sadar, Ca." Ica rasanya ingin memukul kepalanya sendiri karena sudah mengagumi suami orang.