Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 38


Beberapa hari kemudian.


Anaya tersenyum bahagia karena dirinya saat ini sudah bisa berjalan seperti sedia kala.


"Apakah kamu sudah siap pulang ke Indonesia?" tanya Gwen kepada putrinya yang duduk di tepian tempat tidur pasien.


"Mom, bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?" ucap Anaya tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Apa Sayang? Katakanlah," jawab Gwen, lalu mendekati putrinya yang sudah sehat seperti sedia kala.


Anaya terdiam sejenak, ia menundukkan kepalanya, lalu mendongak dan menatap ibunya dengan tatapan memohon.


"Mommy, aku ingin melanjutkan pendidikanku di sini," jawab Anaya.


Kali ini Gwen yang terdiam sejenak kamudian tersenyum tipis seraya menangkup wajah putrinya dengan kedua tangannya. "Kenapa?" tanya Gwen.


"Mom, aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Bullyan hingga kecelakaan, aku sulit untuk melupakannya," jawab Anaya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Aku takut jika hal itu terulang kembali," lanjut Anaya dengan lirih. Meskipun ia mendapatkan suport dari kedua orang tuanya untuk kuat dan melupakan kejadian itu, namun dari hatinya yang paling dalam, ia merasa ketakutan dan trauma akan kejadian itu.


Gwen memahami perasaan putrinya. Tentu Anaya merasa sulit untuk melupakan kejadian mengerikan itu, yang sudah membuat putrinya mengalami kecelakaan dan koma selama 3 bulan lamanya.


"Kita bicarakan lagi saat Daddy kembali," jawab Gwen, karena ia tidak bisa memberikan keputusan, tanpa persetujuan suaminya.


Anaya mengangguk dan tersenyum tipis.


*


*


Aiden sudah kembali ke rumah sakit. Setelah seharian berada di Apartemen untuk melakukan rapat virtual dengan direksi perusahaannya.


"Tidak apa-apa, Dad. Ada Mommy yang menjagaku," jawab Anaya mengulas senyum yang sudah terbaring di atas tempat tidur.


"Kalian sudah makan? Daddy membawa pizza dan burger untuk kalian." Aiden mengangkat paper bag yang ada di tangan kanannya.


"Aku sudah makan, Dad, tapi aku merindukan junk food," jawab Anaya antusias lalu beranjak dan menuju sofa, mendudukkan dirinya di samping Gwen yang tersenyum melihatnya.


"Kamu hanya boleh makan sedikit saja." Gwen mengingatkan putrinya sembari membelai punggung putrinya dengan lembut.


"Baiklah, Mommy, satu atau dua gigitan tidak masalah untukku," jawab Anaya tersenyum lebar, sembari menerima burger yang di berikan oleh ayahnya.


Aiden dan Gwen tersenyum geli melihat putrinya menggigit burger dengan gigitan yang sangat besar, hingga mulutnya penuh dan kesulitan untuk mengunyah.


"Kamu curang," ucap Aiden seraya tergelak.


"Satu atau dua gigitan, Dad," jawab Anaya dengan susah payah. "Hemm, ini sangat nikmat dan lezat." Anaya merindukan makanan tersebut, tiba-tiba saja ada sekelebat bayangan melintas di benaknya.


"Gerald," batin Anaya.


"Ada apa?" tanya Gwen saat melihat putrinya terdiam dan berhenti mengunyah.


Anaya menggeleng lalu tersenyum tipis. "Ini sangat enak, terima kasih, Dad, sudah membawakannya untukku," ucap Anaya menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Sama-sama," jawab Aiden.


"Dad, bisa berbicara sebentar?" Gwen bertanya kepada suaminya yang sedang memerhatikan putri mereka yang sedang asik mengunyah burger.


"Ada apa, Mom?" tanya Aiden, karena Gwen terlihat sangat serius.


Gwen beranjak lalu di ikuti oleh suaminya. Mereka keluar dari ruang rawat Anaya dan membicarakan sesuatu yang serius.