
Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya. Jika hari ini Gerald dan Anaya akan berlatih bersama. Dan sini lah mereka saat ini berada, di studio musik milik Pak Candra—guru mereka.
"Kalian sungguh luar biasa," puji Pak Candra ketika kedua muridnya selesai berlatih vocal. Ia merasa puas dan yakin jika kedua muridnya itu akan menjadi juara dan akan menjadi the next star.
Sebenarnya Pak Candra adalah seorang musisi terkenal, namun beliau juga mengabdikan diri menjadi guru musik di Sekolah SMA tempat Gerald dan Anaya berlajar.
"Terima kasih, Pak," ucap Gerald dan Anaya bersamaan.
"Karena latihan sudah selesai, bagaimana jika kita makan siang bersama?" ucap Pak Candra.
Anaya dan Gerald saling pandang, kemudian mereka menganggukkan kepala, sebagai tanda setuju.
*
*
"Silahkan, pilih yang kalian mau," ucap Pak Candra ketika mereka sudah duduk di salah satu restoran cepat saji yang tidak jauh dari sana.
"Wah, sungguh keberuntungan untuk kami karena di traktir oleh musisi terkenal di Tanah Air," ucap Gerald dengan bahagia.
"Jangan terlalu banyak memujiku, nanti aku menjadi besar kepala, ha ha ha." Pak Candra tertawa di ujung kalimatnya.
"Anda sangat keren, Pak." Kali ini Anaya yang memuji.
"Ah, kalian ini." Pak Candra tertawa sembari mengibaskan salah satu tangannya.
"Sudah, kalian pilihlah menu makanan yang kalian sukai," ucap Pak Candra lagi.
"Baiklah," jawab Gerald, melihat buku menu dan memilih menu makanan yang dia inginkan. Begitu pula dengan Anaya yang melakukan hal yang sama.
Kemudian salah satu waitress mencatat menu makanan mereka.
Ponsel Pak Candra berdering panjang bertanda jika ada panggilan masuk. "Aku permisi dulu." Pak Candra menujukkan ponselnya yang berarti jika dirinya ingin mengangkat telepon. Lalu segera menjauh dari sana.
"Ya, Pak. Tidak apa-apa," jawab Gerald.
"Semoga putri Bapak cepat sembuh," ucap Anaya dengan tulus.
"Iya, terima kasih. Dan kalian jangan khawatir, aku tetap mentraktir kalian," ucap Pak Candra berjalan menuju kasir, lalu membayar pesanan dua muridnya.
"Pak, terima kasih," ucap Gerald kepada Pak Candra yang sudah akan keluar dari restoran tersebut.
Pak Candra mengangkat jempol tangannya di iringi dengan senyuman, lalu segera keluar dari restoran tersebut.
Anaya dan Gerald saling pandang, lalu mereka menghela nafas bersamaan.
"Kenapa kita terlihat seperti sedang kencan but—" Gerald segera membekap mulutnya saat dirinya hampir keceplosan berbicara.
"Kencan apa? Kencan buta?" tanya Anaya membuat Gerald menjadi salah tingkah.
"Emh, bukan ..." Gerald menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
Pesanan mereka datang, sudah tersaji di atas meja. Obrolan mereka terjeda karena mereka fokus pada makanan masing-masing.
Selesai menghabiskan makanan mereka, Gerald dan Anaya keluar dari restoran tersebut.
"Aku antar pulang, Nay," ucap Gerald kepada Anaya.
Anaya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. "Tunggu deh. Aku baru sadar kalau kamu sekarang bicaranya sudah nggak pakai Gue-Lo," ucap Anaya.
Gerald tersenyum menanggapinya, lalu memakaikan helm ke kepala Anaya.
"Memangnya kenapa?" tanya Gerald menatap wajah cantik Anaya dengan dalam.