Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 37


Satu minggu kemudian di Universitas XX.


Pendaftaran Murid baru telah di buka. Banyak Calon Mahasiswa dan Mahasiwi baru yang telah mendaftar di sana terutama Ica, Gerald dan Lucky.


"Kita setiap hari masih bisa bertemu, hanya beda fakultas saja 'kan," ucap Ica kepada kedua temannya itu.


"Ya," jawab Gerald sambil tersenyum.


"Sepertinya kalian berdua akan menjadi Mahasiswa populer di tahun ini." Ica berucap sembari memperhatikan sekelilingnya di mana pada senior ataupun calon Mahasiswi yang nampak curi pandang ke arah kedua temannya.


"So pasti dong. Kita 'kan memang ganteng. Yo ora Rald?" Lucky berkata dengan bahasa jawanya yang medok.


Gerald hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, menanggapi ucapan Lucky yang super narsis.


"Andai ada Anaya di sini, pasti seru banget." Ica mengeluh sambil menghela nafas panjang.


Gerald menepuk pundak Ica dengan pelan. "Dia pasti akan kembali bersama kita," ucap Gerald dengan penuh keyakinan.


Sedangkan Anaya sendiri yang masih berada di rumah sakit Amerika dan saat ini baru selesai menjalani Fisioterapi pasca kecelakaan.


"Anaya kamu merasa lebih baik?" tanya Aiden kepada putrinya yang duduk di kursi roda. Kini mereka sudah kembali ke ruang rawat Anaya. Sedangkan Gwen membeli makan siang di restoran di dekat rumah sakit.


Anaya mengangguk dan tersenyum tipis. Keadaan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Gadis cantik itu sudah bisa berbicara lagi, namun hanya kedua kakinya saja yang masih terasa lemas.


Aiden berjongkok di depan putrinya lalu memasangkan sandal di kedua kaki putrinya itu. "Kamu harus banyak bergerak agar bisa cepat berjalan, ingat kata dokter tadi, jika kamu minggu ini sudah bisa berjalan, kemungkin besar kamu bisa melanjutkan pengobatanmu di Indonesia," ucap Aiden, mendongak menatap putrinya yang terlihat sendu.


"Aku takut," lirih Anaya. Bayangan saat dirinya di bully melintas di benaknya.


"Ada Daddy yang akan melindungimu." Aiden semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Anaya.


"Ingat kata-kata Daddy, jangan pernah terlihat lemah, tampar dan bungkam mereka dengan kelebihanmu! Kamu adalah anak yang cerdas dan mempunyai banyak bakat, kamu spesial, Sayang. Bagi Daddy dan Mommy, kamu adalah anak yang paling sempurna di seluruh dunia ini!" ucap Aiden memberikan semangat untuk putrinya agar mau bangkit dan menghadapi dunia yang begitu kejam.


"Terima kasih, Dad." Air mata Anaya luruh dan membasahi pipinya, kemudian memelek leher Ayahnya dengan sangat erat. Menumpahkan tangis dan kesedihannya di bahu pria yang sangat di sayanginya.


Aiden menepuk lembut punggung putrinya beberapa kali hingga putrinya itu merasa tenang.


"Jangan bersedih lagi. Daddy akan selalu di belakangmu untuk selalu menjagamu." Aiden mengurai pelukan tersebut lalu ia berdiri dan mulai mengajak Anaya untuk berlatih berjalan.


Gwen memasuki ruang rawat putrinya sembari membawa tentengan paper bag di tangannya. Ia terharu saat melihat putrinya sedang berjalan pelan walau pun masih berpegangan kepada Aiden.


Ini adalah memajuan yang begitu besar dan sangat luar biasa.


"Sayang, semangat!" seru Gwen kepada Anaya yang terseyum ke arahnya.


"Iya, Mommy," jawab Anaya.


Aiden tersenyum melihat putrinya yang sudah bisa tersenyum. "Daddy menjadi teringat masa kecilmu jika seperti ini," ucap Aiden sambil terkekeh saat membantu putrinya berjalan.


"Ya, anggap saja saat ini aku adalah baby," jawab Anaya, tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.