
Sebelumnya mohon maaf karena update-nya sempat mandek karena karena emak lagi kecewa banget. Karena novel ini levelnya langsung di terjunin bebas awal bulan ini. Berasa nggak di hargai banget karyaku iniðŸ˜.
Yuk cekidot, lanjut baca...
Kondisi Anaya baik-baik saja setelah di periksa oleh dokter. Gadis cantik itu hanya kelelahan karena menempuh perjalanan belasan jam. Anaya dan keluarganya pun melanjutkan perjalanan menuju rumah utama keluarga Clark.
"Kenapa kita ke rumah Oma dan Opa?" tanya Anaya bingung.
"Karena ada kejutan untukmu, Sayang," jawab Nathan yang menyetir mobil.
"Benarkah?" tanya Anaya berbinar merasa sangat bahagia.
"Iya," jawab Ansel yang duduk di jok depan, samping Nathan yang mengemudi mobil.
Anaya bertepuk tangan kecil, dan tersenyum bahagia. Aiden dan Gwen memeluk Anaya bersamaan.
Sebenarnya ia masih merasakan sakit kepala, akan tetapi ia berusaha untuk menahannya. Karena tidak ingin membuat orang di sekitarnya cemas.
Kebahagiaan yang di rasakan oleh Keluarga Clark saat melihat kedatangan Anaya. Tangis haru dan bahagia pun pecah.
Begitu pula dengan Anaya merasa sangat bahagia sedih bercampur menjadi satu. Satu persatu keluarganya ia peluk dengan penuh kehangatan dan penuh haru.
"Terima kasih atas kejutan yang kalian berikan," ucap Anaya dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi.
"Sama-sama, Sayang. Ini bukanlah hal yang besar. Ini hal kecil yang kami tunjukan karena kami semua menyayangimu," jawab Jeje lalu mengelus pucuk kepala cucunya dengan penuh kelembutan.
Anaya menjadi sangat terharu, kemudian segera memeluk Jeje dengan erat, menumpahkan tangisnya di sana.
*
*
Beberapa hari telah berlalu, Anaya sudah kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa serta melanjutkan pengobatannya di Jakarta. Akan tetapi rasa trauma atas pembullyan yang pernah ia rasakan membuat dirinya menjadi gadis yang introvert.
Ia melanjutkan pendidikannya dengan jalur Home schooling. Serta menjalani beberapa les di rumah juga, termasuk les vocal. Tentu saja keinginannya untuk menjadi seorang penyanyi terkenal tetap tidak pupus.
"Teman yang mana?" tanya Anaya tanpa mengalihkan pada pandangannya dari tuts-tuts piano yang sedang ia mainkan.
"Kamu tidak mengingatnya?" tanya Gwen lagi.
"No, aku tidak mempunyai teman sama sekali. Mereka tidak ada yang tulus berteman denganku," ucap Anaya dengan suara yang datar.
"Kamu semakin mahir bermain piano, bersiaplah karena guru les vocal-mu sebentar lagi akan tiba." Gwen mengalihkan pembicaraan, lalu segera beranjak dari sana menuju ruangan suaminya.
Anaya menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh menatap punggung ibunya yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Aku benarkan? Jika mereka tidak ada yang tulus kepadaku saat mengetahui kekuranganku," gumam Anaya, lalu segera bersiap untuk menyambut guru lesnya.
Gwen mengadukan keluh kesahnya kepada suaminya.
"Untuk sementara biarkan Anaya sendiri. Dia butuh waktu, hatinya saat ini masih terluka begitu dalam," ucap Aiden kepada istrinya.
"Tapi, Dad—"
"Mom!!" tegas Aiden tidak ingin di bantah.
"Baiklah," jawab Gwen pasrah.
"Jangan terlalu cemas," ucap Aiden. Gwen mengangguk sebagai jawaban.
"Lalu bagaimana dengan kabar Ica?" tanya Gwen.
"Dia sudah resmi masuk fakultas kedokteran," jawab Aiden.
"Daddy tetap membiayai pendidikannya?" tanya Gwen lagi, menatap suaminya yang duduk penuh wibawa di balik meja kerjanya.
"Ya, sesuai janjiku yang akan membiayainya sampai sarjana."
Gwen mengangguk dan tersenyum tipis.