Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 42


Masih di hari libur. Karena suntuk berada di rumah, Ica memutuskan untuk berjalan-jalan di Mall untuk melepaskan kejenuhannya.


Dan di sinilah dia saat ini berada, di salah satu toko pakaian wanita yang ada di Mall tersebut. Ica memilih pakaian di stand hanger.


Gadis berkacamata itu mendongak sambil tersenyum saat mendengar lagu Anaya di putar di toko tersebut.


Suara Anaya yang merdu membuat Ica menjadi ikut bersenandung.


"Dia sudah populer sekarang. Tapi, sayang sekali dia tidak mengingat sahabatnya." Ica berbicara pada dirinya sendiri, dan tanpa di sadari ada seorang gadis cantik yang memakai topi dan masker menoleh ke arahnya, karena mendengar ucapan Ica.


"Ica?" gumam gadis cantik itu yang sebenarnya adalah Anaya. Ya, ia melakukan penyamaran karena tidak ingin di kerubungi oleh fans-nya.


"Mungkin dia sudah melupakan sahabatnya yang selama ini merindukan dan mengkhawatirkannya," ucap Ica lagi sambil mengambil satu dress yang menurutnya sangat bagus. "Dress ini sangat bagus, kira-kira berapa harganya?" gumam Ica, lalu menatap harga dress yang ada di bandrol.


"Ish! Mahal sekali." Ica meletakkan kembali dress tersebut dengan berat hati.


Anaya mendengar semua ucapan Ica tetang dirinya. Ia menatap punggung Ica dengan perasaan bersalah. Ia tidak menyangka jika Ica selama ini merindukan dan mencemaskan dirinya.


Jadi yang di katakan ibunya selama ini benar? Jika Ica sangat tulus dengannya.


Anaya memberanikan diri untuk mendekati Ica, ia berdehem pelan saat akan menyapa Ica.


"Permisi," sapa Anaya.


Ica menoleh menatap gadis yang memakai topi dengan rabut terurai serta masker yang menutupi sebagian wajah gadis tersebut.


"Iya, Nona?" jawab Ica.


"Emh, bolehkah aku melihat dress yang kamu pegang tadi?" tanya Anaya.


"Tentu," jawab Ica tersenyum lalu mengambilkan dress tersebut dan menyerahkannya kepada Anaya.


"Terima kasih, ini dress-nya bagus. Kamu tidak mengambilnya?" tanya Anaya, saat menerima dress tersebut.


"Tidak, itu terlalu mahal untukku," jawab Ica tersenyum malu.


Anaya tersenyum di balik maskernya, dan kedua matanya berkaca-kaca saat melihat senyuman Ica yang tidak pernah berubah.


"Ya, ampun, Ca. Maafkan aku yang selama ini melupakanmu," batin Anaya menangis.


"Tunggu, Ca!" seru Anaya.


Ica menoleh dan terkejut saat mendengar panggilan gadis tersebut. "Maaf, kenapa kamu tahu nama panggilanku?"


"Emh ..." Anaya bingung harus menjawab apa, kemudian ia membuka maskernya untuk sesaat. "Ca ..." Lirih Anaya.


"Naya ..." Kedua mata Ica berkaca-kaca saat melihat sahabatnya. "Kamu benar, Anaya?" tanya Ica yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


Anaya yang sudah memakai maskernya kembali pun mengangguk pelan, dan ia juga menangis terharu, bisa bertemu dengan sahabatnya lagi.


Ica tidak mampu berkata-kata lagi, kemudian ia langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Aku pikir kamu sudah melupakan aku," lirih Ica.


"Maafkan aku, Ca. Selama ini aku berpikir jika kamu—" Anaya tidak melanjutkan perkataannya, terlalu menyakitkan jika di ingat.


"Tidak apa-apa, aku mengerti, Nay," jawab Ica seraya mengurai pelukan tersebut.


"Kamu sekarang terlihat semakin cantik dan juga dewasa," puji Ica sambil memegangi kedua tangan Anaya.


"Kami semua merindukanmu, Nay," lanjut Ica.


"Kami?" beo Anaya.


Ica mengangguk. "Gerald dan Lucky, kamu tidak melupakan mereka 'kan?" tanya Ica.


"Oh, tentu saja tidak." Anaya kembali menangis terharu, karena masih ada sahabat yang tulus dan menerima dirinya apa adanya.


"Selama ini kami sangat mencemaskan dan merindukanmu, Nay," ucap Ica.


"Maafkan aku, Ca. Maafkan aku," ucap Anaya penuh sesal.


"Sebagai permintaan maafku, aku akan mentraktirmu berbelanja hari ini," lanjut Anaya dengan nada memohon.


"Kamu ingin menyuapku? Baiklah, aku akan menguras isi ATM-mu hari ini," jawab Ica lalu tertawa terbahak.


Anaya ikut tertawa terbahak lalu mencubit gemas hidung Ica.