Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 23


"Papa tidak akan pernah mengizinkan kamu bermain musik!" tegas Papa Gerald semberi membanting gitar yang baru saja di rampas dari kamar putranya itu.


"Mau jadi apa kamu?! Hah! Hidup kamu sudah enak Gerald. Fokus pada belajar karena kelak kamu akan menjadi pewaris tunggal Papa! Masa depan kamu sudah tertata rapi!" bentak Papa Gerald kepada putranya.


Awal mula Gerald meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mengikuti lomba bernyanyi. Namun, siapa sangka kedua orang tuanya bukannya memberikan izin malah sebaliknya. Papa Gerald mengamuk dan tidak mengizinkan putranya bermain musik atau pun bernyanyi.


BRAK


BRAK


Papa Gerald, membanting gitar putranya berulang kali hingga hancur tidak berbentuk.


Gerald diam, mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Kedua matanya memerah, menahan amarah dan juga air matanya.


"Pa, hentikan! Sesekali berikan Gerald kesempatan," ucap sang istri kepada suaminya yang masih di selimuti emosi.


"Aku bilang tidak! Tetap tidak!!" jawabnya penuh emosi, lalu keluar dari kamar Gerald dengan perasaan marah yang masih di bergelung di dalam dada.


"Gerald, maafkan Papa kamu. Kamu tenang saja, Mama akan berusaha untuk membujuk Papa agar dia memberikanmu Izin untuk mengikuti lomba yang kamu inginkan itu." Setelah mengatakan hal itu, Mama Gerald beranjak dari sana tanpa memedulikan perasaan Gerald yang saat ini sangat terluka.


Gerald mengusap sudut matanya, lalu menghembuskan nafas berat. Menatap gitarnya dengan nanar. Gitarnya sudah hancur tidak berbentuk, tidak bisa di perbaiki lagi.


***


Sementara itu. Ica sedang memandangi wanita cantik yang berdiri di hadapannya.


"Ya ampun. Ini barbie apa manusia? Cantik sekali?" batin Ica. Ia bahkan menyamakan dengan penapilannya sendiri yang lusuh dan bau kecut.


"Ica! Ini Mommy aku." Anaya menyenggol lengan Ica yang sejak tadi bengong.


Ica tersentak kaget ketika tangannya di senggol. " Eh, ada apa?" tanya Ica gelagapan.


"Mommy aku, mau kenalan sama kamu." Anaya mengulangi ucapannya.


Ica menatap Gwen yang tersenyum lembut ke arahnya.


"Ah, Tante, jangan memujiku berlehihan," jawab Ica tersipu malu, seraya menaikkan kaca mata minusnya. Kemudian Ica mencium punggung tangan Gwen dengan sopan.


"Memamg kamu cantik. Mommy kalau melihat Ica menjadi teringat Bunda Irene," ucap Gwen kepada putrinya.


"Iya, ya. Bedanya kalau Bunda orangnya pendek kalau Ica tinggi kayak model," jawab Anaya membenarkan.


"Ayo, kalian duduk lagi, kenapa menjadi berdiri," ucap Gwen kepada putrinya dan juga Ica


"Iya, Tante," jawab Ica sembari duduk lagi di atas sofa yang ada di dalam kamar Anaya.


"Mom, aku mau mandi dulu. Temani Ica dulu," ucap Anaya kepada ibunya.


Gwen mengangguk sebagai jawaban sembari menatap Anaya yang berjalan menuju kamar mandi.


"Tante senang karena Anaya membawa temannya ke sini," ucap Gwen kepada Ica.


"Memangnya sebelumnya belum pernah temannya datang ke sini?" tanya Ica hati-hati.


"Anaya susah untuk bergaul," jawab Gwen.


Ica berpikir keras, benarkah anak dari seorang crazy rich sulit bergaul? Jika sulit bergaul pun pasti banyak teman sebayanya yang mendekati.


"Tante mau menyiapkan makan malam. Kamu mau ikut atau di sini saja?" tanya Gwen.


"Ikut, Tante. Pasti Naya lama di kamar mandinya," jawab Ica.


"Ayo!" ajak Gwen, keluar dari kamar tersebut dan di ikuti oleh Ica.


Sampai di pertengahan anak tangga. Ica di buat sesak nafas ketika melihat Aiden bertelanjang dada, sepertinya pria itu baru selesai berolah raga.


"Daddy!!" tegur Gwen kepada suaminya. Lalu melirik Ica yang mendongak ke atas, menatap langit-langit.


"Aku tidak melihat apa-apa," batin Ica.