
Aiden sudah mengambil keputusan untuk masa depan putrinya. Dan Anaya pun harus menerima keputusan ayahnya dengan lapang dada.
Hari ini Anaya dan kedua orang tuanya akan kembali ke Indonesia.
"Kamu sudah siap?" tanya Aiden kepada putrinya yang sejak tadi diam. Taksi yang akan mengantarkan mereka menuju Bandara sudah siap sejak tadi, akan tetapi putrinya seolah enggan untuk beranjak.
"Dad, aku—"
"Jangan di teruskan!" potong Aiden dengan cepat, lalu mengangkat tas dan koper mereka menuju lobby rumah sakit.
Gwen menggandeng tangan putrinya mengikuti Aiden dari belakang. "Mom, aku takut," lirih Anaya.
"Sayang, kamu harus bisa melawan rasa takutmu itu. Jika kamu terus merasa takut, kapan kamu bisa menghadapi dunia yang kejam ini," ucap Gwen memberikan semangat untuk putrinya.
Anaya terdiam, membenarkan perkataan ibunya, jika dirinya terus menjadi pengecut seperti ini maka ia selamanya akan menjadi seorang pengecut.
Anaya menarik nafas panjang guna menenangkan pikiran dan juga hatinya.
Sementara itu di Indonesia, tepatnya di rumah mewah keluarga Clark, seluruh penghuni rumah tersebut sedang heboh karena sedang menyiapkan penyambutan Anaya.
"Kalian tahu ini adalah mukjizat nyata dari Tuhan, aku pernah berpikir jika Anaya akan ..." Jeje tidak melanjutkan perkataannya, ia menghela nafas kasar dan kedua matanya berkaca-kaca, tidak menyangka jika cucu kesayangannya masih diberikan umur panjang.
"Mom, sudah jangan menangis, hari ini Anaya sudah berangkat dari Amerika, ini adalah hari bahagia kita, jadi jangan ada yang bersedih," ucap Xander kepada istrinya.
"Baiklah, anggap saja ini adalah tangis bahagiaku," jawab Jeje, lalu memeluk suaminya dengan erat.
*
*
*
"Anaya, kamu baik-baik saja?" tanya Gwen panik.
"Kepalaku sangat sakit, Mom," jawab Anaya dengan lirih.
"Daddy, apakah kita bisa ke rumah sakit terdekat?" Gwen bertanya kepada suaminya yang berjalan di belakangnya sambil mendorong troli koper.
Aiden meninggalkan trolinya, ia segera memegangi pundak putrinya lalu membawa putrinya duduk di kursi yang tidak jauh dari sana.
"Ambilkan obatnya, Mom." Aiden memberikan perintah kepada istrinya.
"I-iya." Gwen segera mengambil obat putrinya yang ada di dalam tasnya. Lalu memberikan kepada Anaya agar segera di minuim oleh putrinya itu.
"Sepertinya kita terlalu buru-buru pulang ke Indonesia," ucap Gwen penuh sesal.
"Aku baik-baik saja, Mom. Mungkin hanya Jetlag," jawab Anaya yang kini bersanda di pundak ayahnya.
"Kita pergi ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaanmu," ucap Aiden lalu menggendong putrinya, sedangkan Gwen mendorong troli koper mereka.
"Dad, aku baik-baik saja," ucap Anaya yang ada di gendongan sang ayah.
"Baik apanya? Lihatlah wajahmu terlihat sangat pucat!" Aiden sangat cemas dengan kesehatan putrinya. Ia menggendong Anaya sampai di lobby bandara tersebut.
Nathan dan Ansel yang di tugaskan untuk menjemput keluarga kecil Aiden pun terkejut saat melihat Aiden tergesa menggendong Anaya.
"Apa yang terjadi?!" Nathan segera membuka pintu mobil bagian belakang, sedangkan Ansel membantu Gwen untuk memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil.
"Kita ke rumah sakit terdekat, Othan!" Aiden tidak menjawab pertanyaan saudara kembarnya.
"Baiklah," jawab Nathan, setelah semua orang sudah masuk dan duduk di dalam mobil.