
Dan kejadian itu selalu terulang nyaris setiap malam.
Selalu dalam kegelapan percintaan panasnya terjadi. Membuat Arkan hilang kendali. Hanya suara d*sahan yang menggoda yang keluar dari mulut wanita itu.
Bahkan ia jadi melupakan kesedihannya setelah pernikahannya kandas.
Pernah Arkan begadang menunggu kedatangan Athena yang ia tidak tahu siapa.
Tapi Athena tidak pernah datang jika Arkan menunggunya.
Siapa Athena sebenarnya?
Apa hanya khayalannya yang datang untuk melampiaskan hasratnya?
***
"Lo yakin Athena itu ada?" Firas ragu mendengar cerita Arkan.
Ya.
Akhirnya Arkan menceritakan semua kejadian aneh yang dialaminya. Karena Firas mendesaknya yang sering kedapatan melamun ketika rapat. Tidak biasanya Arkan gagal fokus.
"Lo pasti ngira gue halusinasi," kata Arkan mengusap kepalanya yang berdenyut. "Tapi enggak, gue nggak halusinasi atau mimpi. Athena itu ada. Dia selalu datang kalau malam gue ngerasa kesepian."
"Dan lo making love sama dia?" Tanya Firas heran.
"She's very hot, bro. Gue nggak pernah nemu perempuan seagresif itu. Gue nggak bisa berhenti mikirin dia. Gue harus tau dia siapa."
Firas nggak habis pikir karena wanita aneh yang muncul tiba-tiba, Arkan jadi tidak fokus bekerja.
"Di rumah cuma ada lo sama ART lo itu. Lo curiga nggak sama ART lo sendiri?" Tanya Firas membuat Arkan menyipit.
"Bukan Alita orangnya."
"Lo yakin? Lo bilang tiap Athena dateng selalu gelap. Lo nggak bisa lihat wajahnya jelas."
"Tapi dia beda banget. Mereka, jauh banget tingkah sama penampilannya. Walau gelap, gue samar-samar lihat wajahnya dan itu bukan Alita."
"Lo coba geledah aja kamarnya. Jangan-jangan Alita bawa orang ke rumah lo dan disembunyiin di kamarnya."
Arkan menggeleng. "Nggak sampe sejauh itu, Ras. Gue yakin Alita nggak akan seberani itu. Lagipula sejak dia datang sampai tadi malam, gue udah cek CCTV. Nggak ada yang datang ke rumah."
"Ya kemungkinan selalu ada. Atau lo mau gue bantu cari tau?" Tawar Firas.
"Gimana caranya?"
"Biar gue yang cari cara."
Arkan mendelik. "Lo mau teken dia lagi? Gue nggak ngijinin. Kalo dia nggak betah kerja di rumah gue gara-gara lo, gue bakal pecat lo."
Firas geleng geleng kepala. "Gue nggak bakalan marah sama dia lagi. Janji. Lagian, dia udah minta maaf dan ngirim sop buah buatannya buat nyokap gue. Gue makin yakin dia nggak bohong. Sekarang gue damai kok sama Alita. Nyokap juga udah terima dan maafin Alita."
"Bagus deh. Alita itu cekatan dan bagus kerjanya. Gue nggak mau dia nggak betah karena tertekan."
Firas mengangguk. "Biar gue cari cara untuk nemuin Athena itu siapa. Kayaknya yang pertama gue lakuin gue kudu geledah kamarnya Alita."
***
"Mas Firas, ngapain di sini?" Alita kaget Firas tiba-tiba muncul ketika ia menggosok baju di belakang.
"Enggak, pengen ngobrol aja sama lo, Al." Firas duduk di kursi tak jauh dari Alita.
"Ooo.." Alita acuh saja sambil melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu Firas sudah berdamai dengannya dan tidak berniat marah-marah lagi. Malahan ibunya Firas menyukai sop buah buatannya.
Firas mengamati wanita berbaju kusam itu. Memang cukup cantik, hanya saja wanita ini kurang merawat diri sehingga kurang enak dilihat. Rambutnya diikat dan kusam. Jauh dari ciri-ciri yang dibeberkan Arkan tentang Athena.
"Betah nggak kerja di sini?" Firas berbasa-basi.
Alita mengangguk sambil menyusun pakaian yang sudah rapi. "Betah Mas."
"Untung aja Bu Lanni udah nggak di sini. Kalau ada, lo pasti udah dipecat."
"Kok gitu? Bu Lanni mantan istri Tuan kan?" Alita jadi tertarik mengobrol.
Alita jadi paham kenapa Arkan membuang semua barang Lanni.
"Kasian Tuan Arkan. Semoga Tuan cepet dapet pendamping yang tulus sayang sama Tuan," kata Alita sambil mencabut colokan listrik setrika.
"Mas, aku mau ke kamar Tuan dulu beresin baju ini. Mas tunggu aja di depan nanti aku buatin minum." Tanpa menunggu tanggapan Firas, Alita membawa keranjang baju menuju kamar Arkan.
"Kesempatan nih.." Firas mengendap-endap masuk ke kamar Alita.
Menggeledah laci, tempat tidur, di balik bantal, kolong ranjang. Namun ia tidak menemukan keanehan.
"Kayaknya nggak ada apa-apa." Firas membuka lemari dan mengecek tumpukan pakaian.
Nggak ada yang aneh.
Firas hendak menutup pintu lemari ketika matanya tiba-tiba tertuju pada sesuatu di balik pintu lemari.
"Lho? Ini?" Firas bergegas mengeluarkan HP dan mengambil gambar kejanggalan yang dia dapat.
Bergegas ia meninggalkan kamar Alita.
***
"Apa yang lo dapet?" Tanya Arkan di ruang kerjanya.
Barusan Alita baru datang mengantar dua cangkir kopi ke ruangan.
"Kayaknya lo mesti hati-hati sama ART lo itu."
"Kenapa?"
"Gue ngerasa ada yang dia sembunyiin. Tapi gue nggak nemu bukti yang mengarah keberadaan Athena."
Firas menunjukkan foto di HP nya.
"Apa ini?" Arkan menyipit melihat foto gambar yang ditempel.
Ada sketsa seorang pria.
"Lo ngerasa familiar nggak sama laki-laki di gambar ini?"
Arkan memicingkan mata, melihat di gambar itu. "Ini kan...?"
"Bang Arden. Iya kan?"
Tidak mungkin Arkan salah mengenali, sketsa kakaknya yang meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan.
Sketsa Arden ditandai silang merah. Dan ada sketsa siluet tiga orang laki-laki di belakangnya.
"Ini gue temuin ditempel di lemarinya Alita."
"Ini maksudnya.. Alita kenal Bang Arden?" Arkan nggak habis pikir.
"Kita belum tau ini maksudnya apa. Gue rasa lo kudu hati hati. Gue curiga dia dendam sama Bang Arden, dan mau bales ke lo."
Melihat Alita yang polos ia tak yakin dugaan Firas benar.
"Gue masih nggak yakin, Ras. Kalo emang dia dendam, harusnya dari awal dia udah celakain gue. Dia bisa racunin gue atau apa lah. Tapi nggak ada tanda tanda dia..."
"Belum," potong Firas. "Pesen gue, lo waspada sama Alita. Sampai kebongkar rahasia apa antara dia sama Bang Arden."
Sejujurnya ia penasaran, ada masalah apa Alita dengan kakaknya.
Dan apa iya Alita datang ke mari untuk membalas dendam?
Siapa siluet tiga laki-laki di belakang gambar Arden?
Terlalu banyak pertanyaan yang perlu ia cari jawabannya.
***