RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 23


Pukul 6 pagi.


Arkan terjaga dan membuka mata. Ia mengerjapkan mata dan bangun.


Baru ingat semalam ia memeluk Alita yang kedinginan.


Ternyata Alita tertidur di sampingnya.


Ia memeriksa suhu tubuhnya dan lega.


"Syukurlah udah kembali normal." Tubuh Alita sudah menghangat.


Bahkan wajahnya tidak sepucat tadi malam.


Ia membuka selimut dan mengenakan kembali bajunya.


Alita masih tertidur pulas.


"Aku ke kamar dulu ya, Al. Nanti aku jemput lagi untuk sarapan." Arkan mengelus rambut Alita, dan meninggalkan kamar kembali ke kamarnya.


Keluar dari kamar mandi, Arkan menyeka rambutnya dengan handuk sambil membuka lemari mengambil baju.


Melihat tempat tidur ia agak heran.


"Kenapa kusut? Semalam kan gue nggak tidur di sini. Tapi kayak ada yang nempatin makanya jadi kusut gini selimut sama seprainya."


Matanya menyipit melihat benda di meja.


Kunci kartu.


"Kok ada kunci? Kayak kunci cadangan. Kenapa bisa di sini? Lho terus ini,..." Ia makin heran melihat ada sehelai rambut di bantal.


"Rambut siapa? Kok ada di sini?"


Rambut panjang berwarna kecokelatan membuat Arkan bingung.


Lagi bingung gitu, bel berbunyi.


Ia bergegas membuka pintu. "Lho Alita?"


Spontan Alita menundukkan kepala melihat Arkan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.


"Kamu udah bangun? Mending kamu istirahat."


"Saya udah lebih baik, Tuan. Bahkan tadi saya baru mandi air hangat. Badan saya sudah lebih nyaman. Terima kasih bantuannya semalam, Tuan." Alita tersenyum membuat Arkan salah tingkah.


"Ngg.. iya, kamu masuk deh."


Alita masuk kamar, sementara Arkan mengambil pakaian dan masuk kamar mandi.


Sambil berpakaian, Arkan senyum-senyum melihat Alita yang pagi ini sangat cantik. Meski wajahnya masih agak pucat, tak dipungkiri senyum Alita membuatnya berdebar.


Mengingat semalam mereka tidur berpelukan membuat pikiran Arkan terganggu.


"Padahal itu cuma pertolongan pertama. Kenapa gue jadi kepikiran mulu?" Ia menggeleng kuat-kuat dan merapikan rambutnya.


Begitu keluar, dilihatnya Alita sedang telaten membereskan koper Arkan.


Alita cantik banget, batinnya kagum.


Dress abu tua lengan panjang yang dikenakan begitu pas di tubuhnya memberi kesan sederhana yang manis.


Wajahnya dipoles make up tipis. Rambutnya digulung dengan sumpit rambut.


"Tuan, baju kotor Tuan cuma ini? Di kamar mandi masih ada?" Tanya Alita dan heran Arkan malah mematung memandanginya.


Kontan Alita menundukkan kepala, malu. Mengingat semalam ia sakit meminta Arkan menemaninya, sampai majikannya memeluknya tanpa mengenakan baju.


"Tuan, maaf.." Alita mendekat dan merapikan kerah baju Arkan.


Perhatian kecil saja membuat Arkan makin salah tingkah.


"Itu ada baju kotor di kamar mandi."


"Baik Tuan." Alita bergegas masuk kamar mandi sementara Arkan merutuki bisa salah tingkah di depan Alita.


Arkan duduk di sofa sambil menyalakan HP-nya. Banyak pesan masuk.


Dari Clara.


Semalam pasti Clara ribut karena gue nggak dateng ke kamarnya, batinnya.


Bodo amat deh, nanti biar gue bikin alasan. Daripada dia ngadu macem-macem sama Mr.Jason.


Alita mondar-mandir membereskan barang-barang.


Arkan berdiri dan memeluknya dari belakang membuatnya kaget.


"Eh Tuan?"


"Sebentar aja. Aku cuma kesel sama kamu."


Alita kontan heran. "Sama saya? Memang salah saya apa? Saya minta maaf kalau begitu."


Arkan mengeratkan pelukannya dan menempelkan kepalanya.


"Aku kesel kemarin kamu hujan-hujanan sampai sakit. Kamu nggak tau segimana khawatirnya liat kondisi kamu semalam. Jangan diulangi lagi. Aku nggak mau kejadian kemarin terulang."


"Ba-baik Tuan." Alita jadi gugup dan menggeliat kegelian karena bibir Arkan menyentuh telinganya.


Melihat Alita malu-malu begitu membuat Arkan tersenyum gemas. "Yuk kita sarapan. Setelah itu kita check out, siang kita on the way ke bandara."


Alita mengangguk patuh. "Baik Tuan."


Berdua mereka turun ke restoran untuk sarapan.


***