RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 38


Sudah pukul 21.15 begitu Arkan tiba di rumah.


Barusan ia menelepon Alita agar tidak menunggunya untuk makan malam. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Tuan, baru pulang." Bi Endah asisten rumah tangga yang baru menyambutnya.


"Istri saya mana?" Tanya Arkan sambil melonggarkan dasinya.


"Ada di kamar, Tuan. Tuan mau makan atau minum?"


"Nggak perlu, Bi. Bibi istirahat saja. Saya mau ke kamar."


"Baik, Tuan. Selamat istirahat."


Begitu tiba di kamar, ia melihat Alita sedang nonton TV.


"Eh sayang udah pulang." Alita mendekat dan memeluknya erat.


"Iya banyak pekerjaan di kantor. Aku mandi dulu ya."


Alita mengangguk. "Ya udah kamu tunggu di sini. Biar aku siapin air hangatnya." Ia mengecup bibir Arkan sekilas dan bergegas ke kamar mandi.


Ia memperhatikan sikap istrinya yang benar-benar tulus dan polos. Tidak ada kepura-puraan.


Hanya saja ia ingin mengetahui segala sesuatu tentang istrinya, meski menyakitkan.


"Sayang, udah ni aku udah tambahin sabun juga. Kamu tinggal berendam aja." Alita mendekat membantu membuka kancing kemeja Arkan satu per satu.


"Makasih ya."


Alita tersenyum melihat suaminya. "Ya udah mandi sana. Aku tau kamu capek banget. Nanti aku pijitin."


Tanpa bicara, Arkan masuk kamar mandi dan mulai berendam air hangat.


Sambil memikirkan kemungkinan mereka akan sulit untuk punya anak karena Alita punya riwayat keguguran.


Ia jadi galau, gelisah, cemas. Campur aduk nggak karuan.


Selesai mandi, ia melilitkan handuk sebatas pinggang dan keluar kamar mandi.


Seketika terpana melihat Alita duduk di kasur. Hanya mengenakan baju tidur putih yang transparan.


Alita menatapnya penuh sayang. Tanpa sabar ia mendekat dan memeluk Arkan erat.


"Aku kangen suamiku.."


Arkan tersenyum kecil. Kegelisahannya luntur menjadi rasa nyaman yang membuatnya tak sabar menghabisi istrinya di ranjang.


"Aku kan seharian kerja, sayang.."


Alita mengendus aroma sabun di tubuh suaminya dengan mata terpejam membuat Arkan gemas setengah mati melihat istrinya begitu cantik, seksi, dan aroma tubuhnya begitu harum.


"Kamu pengen?" Goda Arkan.


"Emang kamu nggak pengen?" Alita balas cemberut.


"Enggak."


Alita cemberut melepaskan pelukannya dan berbalik.


Arkan langsung memeluknya dari belakang.


"Lepasin ah.." Alita ngambek beneran.


"Kamu gemesin banget sih lagi ngambek gini." Arkan menyusupkan tangannya ke dalam pakaian istrinya mulai memainkan tangan di dadanya.


"Katanya nggak pengen.. ini apa.."


Belum sempat menjawab, Arkan sudah membungkam bibirnya dengan ciuman lembut.


Menimbulkan suara d*sahan dari bibir mungil istrinya.


Perlahan ciuman mereka semakin panas dan menuntut. Tangan Alita sudah menarik rambut Arkan penuh gairah.


Tak sabar Arkan mengangkat tubuh istrinya menuju ranjang dan menanggalkan semua pakaiannya.


Sepasang suami istri memadu kasih membuat malam terasa panas di kamar ber-AC itu dengan backsound e*angan dan d*sahan bersahutan.


***


Hampir tengah malam Arkan terbangun dari tidurnya merasakan sentuhan yang tidak asing di dadanya.


Ia mengerjapkan mata karena gelap. Lalu dinyalakannya lampu meja dan ia terkejut istrinya memakai lingerie merah yang seksi dengan bibir merah dipoles lipstik merah menyala. Duduk di sisi ranjang menatapnya.


"Sayang.. kamu ngapain?"


Istrinya hanya diam menatapnya dan posenya sangat seksi menggoda.


Arkan terdiam dan heran tumben Alita menggunakan warna mencolok begitu. Kok dia...??


Ia terhenyak.


"Athena??"


"Apa kabar, Arkan? Kamu mau ketemu aku kan?" Tanya Athena membuat Arkan terduduk menghadapnya.


"Aku kira kamu udah nggak ada."


"Aku nggak bisa pergi kalau Alita belum sepenuhnya bahagia."


Arkan merasa bersalah. "Maaf kamu jadi tau. Aku lagi bingung banget Alita nggak bilang apa-apa."


"Tentang dia pernah keguguran?" Tanya Athena.


"Kamu tau?"


"Nggak ada yang aku nggak tau tentang Alita, Arkan. Aku rasakan semua yang dia rasakan. Mengenai itu, dia emang nggak tau pernah hamil dan keguguran. Aku menjaganya supaya dia nggak tau. Semua itu terjadi nggak lama setelah kejadian naas dia dip*rkosa. Dia hamil. Cuma aku yang tau. Aku hanya cemas dia berniat bunuh diri kalau tau hal ini. Karena dia pernah ditiduri empat pria. Jelas dia akan frustasi kalau sampai hamil tanpa tau benih siapa yang dia kandung. Dia kerja terus tanpa tau sedang hamil. Pada akhirnya dia kelelahan dan sakit pada kandungannya. Ketika itu aku mengambil alih tubuhnya dan merasakan sakit karena keguguran. Ketika dia sadar kembali dia hanya mengira sedang menstruasi. Aku nggak bisa biarin dia tau hal ini untuk lindungi dia," jelas Athena panjang lebar membuat Arkan terkejut.


Tak menyangka hidup istrinya jauh lebih miris hingga tidak sadar pernah hamil dan keguguran.


"Kamu kecewa karena ini?" Tanya Athena tajam membuat Arkan tersentak.


"Ngg..."


"Kamu bilang akan terima dia apa adanya. Sekarang kamu jadi ragu dan berniat tinggalin dia?"


Arkan menggeleng cepat dan meraih tangan Athena. "Aku cuma perlu penjelasan. Nggak ada sedikitpun niat aku tinggalin Alita. Aku cinta mati sama Alita. Sampai kapanpun, kamu jangan cemas lagi. Aku akan jaga dia. Dan aku akan jaga rahasia ini darinya. Aku juga nggak mau dia frustasi karena tau pernah kehilangan calon anaknya. Kamu juga tau sekali dia begitu ingin punya anak."


Air mata Athena menetes. "Jangan pernah sakiti Alita, Arkan. Aku udah nggak bisa jaga dia. Aku serahkan dia sepenuhnya sama kamu. Jangan pernah kamu sia-siakan dia. Waktu aku menjaganya sudah habis kalau ada yang tulus mencintainya."


Arkan mengangguk dan menghapus air mata di pipi Athena. "Aku janji. Dan terima kasih, kehadiran kamu di hidupku membawa perasaanku yang sesungguhnya pada Alita. Aku nggak akan pernah lupain kamu."


Athena mendekat dan mencium bibir Arkan cukup lama, hingga akhirnya pegangan tangan Athena melonggar, tubuhnya terkulai di ranjang, kesadarannya hilang.


Begitu Athena sudah pergi, Arkan menatap istrinya berkaca-kaca.


"Sudah cukup penderitaan kamu, sayang. Mulai sekarang nggak ada lagi keraguan, kita akan berjuang bersama untuk rumah tangga kita. I love you my wife..."


Arkan mengecup kening Alita penuh sayang.


***