
"Terima kasih atas waktunya Pak. Pembangunan akan segera dilaksanakan."
"Sama-sama Pak."
"Senang bekerja sama dengan anda."
Arkan bersalaman dengan Pak Wira.
Pak Wira berencana membuka hotel di Semarang. Hotel yang sama dibangun dengan jasa perusahaan milik Arkan sudah tersebar di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar.
Begitu Pak Wira dan rekannya meninggalkan restoran hotel, seorang wanita berumur lima puluhan dengan penampilan mewah, memasuki restoran.
Arkan sungguh malas bertemu, berbalik hendak pergi.
"Arkan! Tunggu!" Panggilnya membuat Arkan terpaksa menghentikan langkah dan berbalik.
"Ada apa, Tante?" Semenjak bercerai, Arkan enggan memanggil mantan ibu mertua nya ini dengan sebutan MAMA. Apalagi Andini kerap ikut campur urusan rumah tangganya hingga masalah sekecil apapun selalu panas dan panjang.
"Kamu sadar diri harusnya! Sudah kamu ceraikan Lanni tanpa memberi apa-apa sekarang kamu laporkan dia ke polisi atas tuduhan perampokan? Keterlaluan kamu, Arkan!"
Sebenarnya Arkan malas berbicara dengan Andini, namun Andini tidak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi.
"Duduk dulu, Tante." Arkan menarik kursi restoran mempersilahkan Andini duduk.
Dengan wajah jutek, Andini menghempaskan tubuhnya di kursi.
Arkan duduk di hadapannya. "Saya hanya melaporkan sesuai fakta."
"Kamu kan cuma dapet laporan dari pekerja di rumah kamu. Bisa aja mereka bohong supaya Lanni ditangkap. Asal kamu tau, security rumah kamu itu yang kurang aj*r menghalangi Lanni masuk rumah. Padahal Lanni punya hak atas rumah itu. Dan ART kamu yang murahan itu, menghalangi Lanni ingin mengambil barang miliknya di kamar. Lalu sekarang kamu laporkan dia dengan kasus perampokan? Kamu terlalu naif lebih percaya orang lain daripada Lanni."
Andini bicara panjang lebar. Arkan hanya mendengarkan tanpa minat memotong.
"Alasan kalian cerai saja nggak masuk akal. Kamu ceraikan Lanni karena Lanni selingkuh. Ciihh... Tuduhan kamu kejam sekali, Arkan! Lanni tuh anak baik-baik. Dia tidak mungkin melakukan hal rendah begitu. Lanni udah bilang semua sama saya kalau kamu punya hubungan dengan wanita lain, makanya kamu bikin alasan supaya mudah cerai."
Nah kan, Lanni tuh paling pintar memutarbalikkan fakta. Drama queen juga paling jago akting. Di mata orangtua, Lanni adalah wanita paling baik, paling jujur, paling wow di dunia.
"Kalau memang begitu, kenapa Lanni nggak membela diri di pengadilan?" Tanya Arkan skakmat.
"Itu kan karena.." Andini bingung memberi pembelaan apa, tapi wanita judes ini tidak mau kalah.
"Bagaimanapun juga kamu bersalah, Arkan. Lanni cerita sama saya, kalau kamu jarang ada di rumah. Dia jadi kesepian. Kamu suami macam apa ninggalin istri kamu di rumah?"
Arkan tertawa geleng-geleng kepala. "Kesepian? Dia kan punya selingkuhan gimana bisa kesepian."
Andini meradang tidak bisa terima. "Dia nggak selingkuh. Lanni tuh istri setia. Dia bilang sama saya, dia cuma minta bantuan Riga untuk memindahkan barang di kamar. Karena kamu nggak pulang juga kamu bepergian terus ke luar kota. Tapi kamu malah menuduh mereka..."
"Tante..." Arkan mulai gerah mendengar skenario drama retaknya rumah tangga ini. "Mengenai saya jarang di rumah, udah bukan alasan. Karena Lanni sendiri tau seperti apa kondisi perusahaan saya. Saya juga bekerja untuk dia. Tapi apa, dia saja nggak bisa memberi saya anak. Dua kali saya harus kehilangan calon anak saya. Karena keegoisan anak Tante. Dia lebih mementingkan karirnya ketimbang kelangsungan masa depan rumah tangga kami."
Baru Andini mau menjawab, Arkan angkat tangan.
"Saya belum selesai, Tante. Tolong dengarkan dulu." Nada tegas Arkan membuat Andini menutup mulut.
"Sepertinya Lanni tidak jujur mengenai ini. Saya pergoki dia dan Riga sedang t*lanjang berdua di ranjang rumah saya. Kalau Tante masih nggak percaya dan menyebut saya hanya mengada-ada, apa perlu saya berikan rekaman CCTV perselingkuhan mereka di kamar?"
Andini tidak bisa menjawab lagi.
"Saya sudah curiga gerak gerik 'anak baik-baik' Tante, maka begitu saya pergi, saya pasang CCTV di kamar untuk memantau apa istri saya nggak macam-macam. Saya diam saja ketika melaporkan hanya beralasan klise, tidak ada kecocokan lagi. Seandainya video itu saya beberkan, apa Tante nggak lebih malu?"
Andini mulai gelisah, kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Arkan.
Melihat seseorang masuk restoran sambil lihat kanan kiri, Arkan mengangkat tangan.
"Alita, di sini.."
Alita melihat arah Arkan dan tersenyum bergegas mendekat. Sedikit lega penampilan Alita cukup sopan dan rapi berhadapan dengan Andini. Kalau nggak, Andini bisa mencelanya habis-habisan.
Langsung saja Arkan menggenggam tangannya.
"Ini Alita. Kemarin dia jadi korban penganiayaan Riga dan Lanni anak Tante. Alita dianiaya karena nggak mau memberitahu letak brankas. Lanni bilang masih ada barangnya yang tertinggal kan? Sayangnya dia nggak ninggalin apa-apa dan nggak punya urusan di rumah saya. Dan saya akan tuntut dia. Atas perampokan di rumah saya. CCTV sudah membuktikan."
Arkan menarik tangan Alita. "Saya permisi."
Andini menahan Arkan sambil memasang wajah panik. "Arkan... Arkan.. Tante mohon maafin Lanni. Dia pasti nggak sengaja. Maafin dia Arkan.. dia pasti nggak serius. Lagipula dia tu mantan istri kamu. Masa' kamu lebih belain ART ini daripada mantan istri kamu sendiri? Kamu kan lebih tau..."
"Ya! Saya lebih tau, Tante.." potong Arkan jengah.
"Kalau gitu kamu maafkan Lanni. Tante yakin Lanni akan berubah. Kalian rujuk ya? Tante nggak mau Lanni.."
Arkan sungguh gerah meladeni mantan mertua nya yang nggak pernah mau kalah.
"Baik. Saya akan cabut laporan atas Lanni."
Andini tersenyum lega. "Terima kasih Arkan.. kamu memang menantu baik.."
"Tapi saya nggak sudi rujuk sama dia," sambungnya membuat Andini kaget.
Sementara Alita hanya diam, berada di antara drama 'mantan menantu-mertua'. Kurang lebih ia bisa menangkap maksud pembicaraan ini.
Tiba-tiba Arkan merengkuh bahunya posesif membuat tubuh mereka menempel.
"Dia calon istri saya. Kami akan segera menikah." Perkataan Arkan membuat Alita dan Andini kaget bersamaan.
"Apa?? Kamu mau nikahin ART ini? Dia cuma pembantu, nggak ada selevel sama kamu.."
"Kenapa enggak? ART atau bukan, saya lebih menghargai dia, yang menjaga harga diri. Dan kalau Tante sayang sama anak Tante, ajarkan dia juga bagaimana menjaga harga dirinya, dan menghargai orang lain. Saya permisi."
Arkan menggandeng tangan Alita meninggalkan restoran.
Alita hanya bengong dijadikan calon istri mendadak.
Sementara Andini geram karena merasa diinjak-injak harga dirinya. Sudah meminta agar rujuk dengan anaknya, malah dengan bangganya memperkenalkan ART sebagai calon istri.
Ini sungguh penghinaan!
***