
"Gimana ini? Tuan Arkan kenal sama orang itu?" Alita gelisah mengingat seseorang dari masa lalunya.
"Gimana kalo dia muncul di sini?"
Alita menuangkan air panas pada gelas hendak membuat teh.
"Alita.."
Kaget dengan suara yang memanggilnya..
"Aawww.."
Tangannya terkena air panas.
"Astaga.." Arkan muncul di dapur kaget melihat tangan Alita merah.
Alita menggigit bibirnya, menahan sakit.
Tanpa bicara, Arkan menarik tangan Alita ke wastafel dan membasuhnya dengan air dingin.
"Tuan maaf, saya nggak tau Tuan udah pulang.." Alita gugup sambil menahan sakit.
"Kenapa bisa begini? Kamu ngelamun?"
"Maaf sekali lagi Tuan." Alita menarik tangannya, karena gugup Arkan menyentuhnya.
"Ngg Tuan, saya sudah masak untuk makan malam. Tuan mau makan?" Tawar Alita.
"Kebetulan aku bawa teman. Siapkan makanan."
"Baik, Tuan." Alita bergegas menyiapkan makan malam.
"Kan, rumah lo rapi amat." Kata Firas duduk di ruang tengah, sibuk mengamati seisi rumah.
"Asisten rumah tangga gue yang ngerjain." Arkan menyalakan TV.
Firas menegakkan duduk. "Udah ada ART? Baru kemarin gue mau cariin ke agen. Pantes lo diem aja. Dapet dari mana?"
Arkan berdiri tanpa menjawab. "Mau makan nggak?"
"Mau dong." Firas mengikuti Arkan ke ruang makan.
Tak lama Alita muncul membawa dua piring masakan.
Mata Firas menyipit melihat Alita.
Alita menghidangkan tiga masakan. Capcay, bakwan jagung, dan ayam goreng mentega.
"Eh kamu,.." Firas ingat sesuatu membuat Arkan menoleh.
Alita melihat Firas dan terdiam. Ia ingat pernah kerja di minimarket, namun karena ditemukan Pak Burhan ia pergi begitu saja tanpa pamit.
"Lo kenal ART ini?" Tanya Arkan.
"Ini lho, gue pernah cerita sama lo waktu gue nggak bisa ikut meeting sama Pak Ello? Gue kan buru-buru ke minimarket nyokap gue di Tangerang, karena denger minimarket kerampokan. Nah dia ini kasir di sana. Tapi dia ngilang gitu aja. Minimarket nyokap diobrak abrik sama perampok."
Alita takut-takut menjelaskan. "Maaf sebelumnya, sebenernya mereka itu datang mau mencelakai saya. Karena saya takut, saya kabur. Tapi sepertinya mereka semua membuat onar di sana."
Firas belum bisa terima. "Tapi lo nggak bisa gitu dong, nyokap sampe sakit denger tempatnya.."
"Lo apaan sih, dia kan udah jelasin, dia dikejar orang, kenapa diperpanjang?" Arkan membalik piring dan menyendok nasi.
Alita mengangguk. "Permisi, Tuan." Ia kembali ke dapur.
Firas jadi curiga. "Kok lo belain dia? Emang lo tau dia siapa?"
"Dia ART di rumah gue." Arkan mulai makan. "Makan aja dulu. Baru lo bisa ngobrol sama dia."
Firas masih penasaran namun perutnya keroncongan. "Udah lama gue nggak makan masakan rumahan gini." Ia membalik piring dan menyendok nasi.
Rasa masakan cukup memanjakan lidah, hingga Firas ikut makan lahap.
Walau dalam hati ingin cepat buat perhitungan dengan Alita.
***
"Gue belum selesai bicara sama lo," kata Firas membuat Alita yang sedang mencuci piring kaget.
"Saya udah jelasin semuanya. Waktu itu saya bener-bener ketakutan, mereka terus mencari saya." Alita menjelaskan takut takut.
Firas belum puas. "Emang lo ngapain? Sampe mereka nyariin lo?"
Firas mencengkeram lengan Alita yang mengaduh. "Heh lo tau nggak segimana shock nya nyokap gue gara-gara lo. Kalo lo ada masalah jangan kerja di tempat rame. Bikin heboh aja.."
"Duhh Pak, sakit.. tolong lepas." Alita mulai takut.
"Jangan lo kira gue bisa terima alasan lo yang nggak jelas. Udah lama gue cari lo bahkan mau gue lapor polisi karena lo dicurigain kelompok perampokan itu. Tapi sayang identitas lo nggak kelacak."
"Saya nggak bohong Pak, saya bukan perampok.." Alita menangis karena kesakitan.
"Tapi..."
"Firas!"
Firas dan Alita tersentak Arkan sudah muncul di dapur. Spontan Firas melepaskan tangan Alita.
"Gue ngijinin lo bicara baik-baik sama Alita. Tapi kalo lo malah teken dia begini, gue nggak terima. Dia kerja sama gue dan gue punya tanggung jawab. Mending sekarang lo pergi, kalo lo perlu ganti rugi mengenai minimarket gue akan bayar."
Firas menyipit heran melihat Alita yang menunduk takut sambil terisak.
"Sorry Kan.. gue agak kebawa emosi." Firas angkat tangan. "Gue pamit dulu."
Bergegas Firas pergi sebelum Arkan marah.
Alita melanjutkan pekerjaannya sambil menyisakan tangisnya.
"Buatkan kopi, antar ke ruang kerja."
"Baik Tuan." Jawab Alita pelan.
Arkan meninggalkan dapur.
***
HP berbunyi membuat perhatian Arkan teralih. Sambil terus bekerja dengan laptop, ia menjawab telepon.
"Halo?"
"Halo, Arkan..." Suara begitu manja.
"Siapa?"
"Ini Clara, anak Daddy Jason."
Mata Arkan membulat dan berdiri. "Oh Clara, ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu ke pesta temanku besok malam. Temani aku ya? Daddy tidak mengizinkanku pergi sendiri."
"Besok malam?" Arkan mengingat meeting pasti berlangsung sampai malam.
"Ayolah.. kita bisa bersenang-senang di sana. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu."
"Mungkin meeting selesai malam. Aku akan menjemputmu setelah pekerjaan ku selesai."
"Baiklah thank you. I'm waiting for you."
"See you."
Begitu telepon diputus, Arkan mendengus malas.
Clara, anak tunggal Mr.Jason yang baru menyelesaikan study di New York.
Tadi siang ia baru bertemu Clara yang cantik, namun manja dan merepotkan.
Kalau bukan karena Mr.Jason adalah investor utama ketika sebelumnya perusahaan kolaps, malas sekali meladeni Clara yang berusia 5 tahun di bawahnya.
Bahkan barusan Mr.Jason menyinggung tentang pernikahan Arkan yang gagal.
Dari omongannya, Mr.Jason menginginkan Arkan menjadi menantunya. Karena Clara tertarik padanya.
Arkan tidak tertarik pada gadis manja itu.
Tiba-tiba berkelebat bayangan sosok wanita misterius yang tidur dengannya semalam.
Sentuhan wanita itu sungguh mengganggu pikirannya.
"Siapa kamu sebenarnya?"
***