RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 13


"Saya mau ketemu Mas Arkan."


Stacy berdiri menghadap wanita cantik berpenampilan elegan ini. Begitu canti dan seksi.


"Pak Arkan sedang meeting."


Wanita itu melenggang masuk ruangan, namun ditahan Stacy. "Maaf Ibu dilarang masuk."


Ia mengacuhkan larangan sekretaris Arkan itu, langsung nyelonong masuk ruangan Arkan.


"Duuhh... Nanti kalo Pak Arkan marah gimana?"


Tak lama kemudian, Arkan selesai meeting dan kembali ke ruangan.


"Pak Arkan.." Stacy berdiri. "Ada Bu Lanni menunggu di ruangan Bapak."


Arkan sudah mengira, karena kemarin Arkan tidak datang terlalu banyak pekerjaan di kantor.


"Honey.." Arkan menghindar ketika Lanni berusaha mencium pipinya.


"Ada apa?" Arkan duduk tanpa melihat wajah cantik mantan istrinya yang dulu selalu membuatnya jatuh cinta setiap detiknya.


"Aku mau kita rujuk."


Arkan mendelik heran. "Rujuk? Buat apa?"


Lanni duduk di hadapan Arkan menatapnya. "Setelah kita pisah aku baru sadar cuma kamu yang aku cinta."


Skenario basi.


"Sorry, bisa kamu pergi. Aku sibuk." Arkan mengangkat gagang telepon. "Stacy, panggil dua security ke ruangan saya sekarang juga."


Lanni terkejut. "Kok security? Aku ngomong baik-baik lho."


"Aku yang nggak suka baik-baik ngomong sama pengkhianat!" Seru Arkan emosi.


"Maafin aku, honey.. aku janji nggak akan..."


Arkan angkat tangan mengisyaratkan diam. "Nggak mungkin lagi kita rujuk. Kamu jangan buang-buang waktu nemuin aku. Sekarang kan kamu bebas mau nikah sama Riga."


"Tapi honey.."


Pintu terbuka, dua security masuk ruangan.


"Beritahukan pada semua keamanan, wanita ini dilarang masuk kantor ini. Ingat baik-baik."


"Arkan!"


"Maaf Bu.. anda harus pergi."


"Nggak saya nggak mau! Arkan kamu nggak bisa berbuat ini sama aku!"


"Bawa dia!"


"Arkan.. Arkaaann..!"


Arkan mendengus keras begitu pihak keamanan berhasil membawa Lanni pergi.


Sungguh ia muak pada mantan istrinya.


Ia bekerja mati-matian untuknya. Pengkhianatan yang diterimanya.


***


"Tiga hari ke depan aku sendirian di rumah." Alita membuka koper dan mulai menata pakaian Arkan.


Ia sedikit lega Arkan tidak memecatnya begitu ia jujur hubungan masa lalu nya dengan Arden.


Lagipula ia nggak tahu Arden sudah menikah.


Ia ditipu mentah-mentah oleh lelaki kaya itu.


Mengingat yang diperbuat Arden padanya membuat emosi di dadanya naik, membuatnya harus menarik napas dalam-dalam menurunkan emosinya.


"Sabar, Al.. orangnya juga udah mati. Nggak ada gunanya marah-marah."


Begitu semua barang rapi di koper, ia menutup koper dan menyimpan di ujung kamar.


Baru berbalik, langkahnya terhenti melihat sosok berdiri di ambang pintu.


Seorang pria jangkung berwajah tampan yang licik, menyeringai memandanginya.


"Hai.. Inget gue?"


Alita spontan mundur, mulai takut. "Ngapain kamu di sini?!"


Pria itu tersenyum licik dan masuk kamar. "Emang jodoh nggak kemana. Lo asli cantik banget meski lo lusuh begini."


"Jangan macem-macem!!"


"Come on, beauty.."


"Toloongggg!!!"


***


Telepon di ruangan Arkan berdering.


Sambil sibuk dengan laptopnya, Arkan mengangkat telepon.


"Halo?"


"Halo, Tuan!"


"Lho Pak Adul? Ada apa?"


"Gawat Tuan! Tuan Riga masuk rumah!"


"Riga???" Emosi Arkan naik seketika.


"Saya sudah melarang dia masuk, tapi saya malah dipukul dan saya pingsan. Bu Lanni juga masuk rumah."


Arkan mengepalkan tangan emosi, mengingat mantan istri dan saudara tirinya yang menusuk dari belakang.


"Cepat lapor polisi! Saya akan pulang sekarang juga!"


"Segera, Tuan!"


Arkan segera melarikan mobilnya menuju rumah.


Gawat!


Ada Alita di rumah.


Lanni dan Riga ada perlu apa menerobos rumahnya?


Dengan melumpuhkan security di rumah sudah menunjukkan tidak ada niat baik.


Kalau security saja dilumpuhkan, bukan nggak mungkin Alita juga akan diserang.


Arkan menambah kecepatan mobilnya.


Mobil tiba di rumah.


Pak Adul langsung melapor. "Polisi sedang dalam perjalanan Tuan. Saya melaporkan ada dua perampok masuk rumah."


Melihat luka di kepala Pak Adul membuat Arkan meradang.


Dan mencari jalan masuk karena pintu utama dikunci dari dalam.


***