
#aku meeting sampai siang. Nanti siap-siap kita jalan-jalan.#
Pesan WhatsApp dari Arkan membuat Alita berbunga-bunga.
Barusan ada petugas hotel datang mengantar paper bag barang pesanan Arkan untuknya.
Ternyata sebelum berangkat meeting tadi Arkan memesan HP baru untuknya, katanya untuk mempermudah komunikasi. Dan meminta pihak hotel mengantarnya ke kamar Alita.
Selama ini ia tidak mau punya HP menghindari dilacak Pak Burhan. Lagipula ia berpindah-pindah kontrakan membutuhkan biaya lebih. Hingga uangnya hanya cukup untuk sehari-hari.
Tapi sekarang, Arkan memberi segala sesuatu yang belum ia miliki.
Baju bagus, sepatu bagus.
Sekarang penampilannya tidak lusuh seperti biasa.
Hatinya berbunga-bunga mendapat perhatian manis dari majikannya.
Ia terhenyak dan menghempaskan HP ke kasur.
"Majikan? Kenapa aku lupa dia itu majikanku? Kenapa aku malah kebawa suasana cuma karena sekali dicium aja? Duuhh Alita,, bodoh banget sih, kenapa kamu malah ada perasaan sama Tuan Arkan?" Ia merutuki diri sendiri.
Ia jadi gelisah menata perasaannya sendiri.
***
Hari ini Arkan sibuk mengunjungi lokasi proyek.
Yang ternyata cukup jauh dari hotel.
"Jadi ini lokasinya, Pak Arkan." Pak Wira menjelaskan. "Nanti kita akan bangun fasilitas lengkap. Pemandangan di sini juga bagus. Saya yakin ini lokasi yang cocok."
Arkan mengedarkan pandangan dan mengangguk angguk. "Saya rasa pembangunan bisa dimulai secepatnya, Pak. Membayangkan hotel megah dibangun di pusat kota ini membuat saya bersemangat." Katanya membuat Pak Wira tertawa.
"Benar, Pak. Kita tidak boleh membuang waktu. Time is money."
"Baik, Pak. Semoga lancar. Saya akan kembali memantau setiap bulannya ke mari."
"Tentu saja, Pak. Terima kasih. Jarang CEO mau terjun langsung ke lokasi seperti Pak Arkan."
"Saya hanya ingin memastikan semua berjalan sesuai rencana, Pak."
"Oh ya ini sudah jam makan siang. Bagaimana kalau saya ajak Pak Arkan ke restoran bagus dekat sini."
Arkan terdiam memikirkan Alita yang menunggu di hotel.
"Ngg... Maaf Pak, mungkin lain kali saja. Saya ada janji soalnya."
"Oh apa Pak Arkan membawa istri Bapak? Kalau iya, saya ingin mengajak makan bersama."
Arkan tersenyum getir. "Pernikahan saya sudah berakhir, Pak. Saya hanya ada janji pribadi. Saya permisi Pak."
Pak Wira mengangguk-angguk. "Baik, Pak. Kelanjutannya kita akan berkomunikasi by phone saja."
"Tentu Pak."
***
Sudah jam makan siang, Alita menunggu di lobi hotel.
Gelisah menunggu kedatangan Arkan.
Ia duduk di sofa, dekat pintu masuk agar Arkan melihatnya.
"Semoga Tuan senang aku dandan begini." Ia senyum-senyum membayangkan reaksi Arkan melihatnya berdandan.
Dress putih selutut dengan lengan panjang. Sebelum datang sekretaris Arkan yang bernama Stacy membawakan beberapa baju pesanan Arkan untuknya. Arkan meminta Stacy karena tahu selera fashion sekretarisnya nggak diragukan lagi melihat ia selalu tampil stylish.
Alita berdebar mengingat akan pergi dengan Arkan. Ia berusaha tampil cantik. Rambutnya digerai. Wajahnya dipoles make up tipis natural dengan lipstik pink muda.
Minimal Arkan tidak akan malu mengajaknya jalan. Orang-orang tidak akan menyangka dirinya hanya seorang ART.
Mending aku lupain semua dan nikmati saat ini, batinnya.
Nikmati aja saat-saat seperti ini yang belum tentu akan aku alami lagi, batinnya yakin.
Sesekali ia memastikan riasan wajahnya masih sempurna.
Menunggu Arkan dengan hati berdebar.
Saat ini perasaannya begitu berbunga-bunga seperti bahagia diajak kencan.
Muncul seorang wanita berwajah cantik blasteran dengan pakaian ketat yang seksi, duduk di sofa berhadapan dengan Alita.
Sepertinya wanita ini masih berusia 20an, namun riasannya begitu tebal dan mencolok hingga terlihat jauh lebih tua.
Alita gelisah melihat pintu masuk. Tuan mana ya?
"Halo, Daddy.. yes Clara udah check in di hotel tempat Arkan. Yes Daddy.. Clara lagi nunggu Arkan kok. Nanti biar Clara pulang ke Jakarta bareng Arkan aja ya. Oke Daddy don't worry, Clara di sini kan dijagain Arkan."
DEG.
Hah? Arkan? Apa Tuan Arkan maksudnya? Batin Alita mulai cemas.
Tiba-tiba muncul Arkan di pintu masuk. Alita tercekat dan berdiri melambaikan tangan.
Arkan melihatnya dan tersenyum balas melambai.
Tiba tiba..
"Arkan!!!" Jerit wanita bernama Clara itu langsung berlari ke arahnya mengira Arkan tersenyum melambai padanya.
Arkan terkejut kedatangan Clara.
"Arkan, I miss you so much.." tanpa malu Clara mencium pipi Arkan dan memeluknya.
Alita berdiri mematung, tubuhnya bergetar, menggigit bibir kuat-kuat menahan tangis.
Arkan melihat ke arah Alita, merasa tidak enak.
"Clara, ngapain kamu ke sini?" Tanya Arkan berusaha biasa, gawat kalau Clara ngadu yang aneh-aneh sama Mr.Jason.
"Really miss you, Arkan. Aku mau ketemu kamu."
"Ngg tapi, aku.."
"I'm so hungry, kita ngobrol sambil lunch. Aku dikasih tau restoran bagus di dekat sini. Come on.." Clara langsung menggandeng Arkan tak membiarkannya menolak.
Arkan memandangi Alita yang terlihat cemas.
Begitu Arkan dan Clara pergi, Alita terduduk lagi di sofa, berusaha keras untuk tidak menangis.
Memang apa yang diharapkan?
Arkan nggak serius mengajaknya.
Mungkin hanya basa basi.
Buktinya ia janjian dengan wanita lain yang jauh lebih berkelas.
HP-nya berbunyi ada pesan masuk.
#pesan makan di kamar. Secepatnya aku kembali.#
Ia menggigit bibir kuat-kuat, air matanya menetes.
Rasanya sungguh sakit, sesak. Kecewa, marah, bercampur jadi satu.
Marah pada dirinya sendiri sudah berpikir berlebihan majikannya menaruh hati padanya.
Kecewa karena itu hanya harapan semata.
***