RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 45


Malamnya, Faldo dan Firas datang ke rumah Arkan.


Mereka bertiga berkumpul di ruang kerja Arkan.


"Istri lo mana?" Tanya Faldo.


"Udah tidur. Jadi gimana Do? Udah ketemu?" Tanya Arkan langsung.


Faldo membuka laptop dan memutar video.


"Ini rekaman CCTV yang gue dapet dari taman itu."


Arkan dan Firas mengamati video.


Ada Alita memasuki taman sendirian.


"Nah lho ada siapa tuh?"


"Ada cewek pake topi baju hitam, ngintai Alita kayaknya karena cuma Alita sendiri yang masuk taman."


Muncul pedagang permen kapas gadungan, berbicara sesuatu dengan wanita berbaju hitam itu.


Wanita misterius berbaju hitam itu kemudian menunjuk ke arah taman.


Tak lama kemudian, pedagang itu muncul lagi dan menerima amplop dari wanita itu.


Begitu wanita itu pergi dijemput mobil berwarna silver kebiruan, pedagang gadungan itu langsung membuang semua dagangannya dan pergi dari sana.


"Fix ini. Ada yang mau celakain Alita. Gue udah minta lacak plat nomor mobil nya. Kita tinggal tunggu kabar," jelas Faldo.


HP Firas berbunyi. "Kan, dari lab."


"Loudspeaker." Perintah Arkan penasaran.


"Halo, gimana hasilnya?" Tanya Firas langsung.


"Dari hasil pemeriksaan, permen itu mengandung racun serangga yang cukup kuat. Jika dikonsumsi manusia bisa mengakibatkan kematian."


DEG.


Membayangkan jika Alita memakan permennya, membuat emosi Arkan naik seketika.


"Siapa yang mau celakain istri sama calon anak gue??"


Ia tidak bisa memaafkan dirinya kalau sampai terjadi hal buruk pada istri dan calon anaknya.


Pintu diketuk menghentikan pembicaraan mereka bertiga.


"Masuk."


Pintu terbuka tampak wajah cantik Alita menggunakan piyama.


"Kok bangun sayang?" Arkan mendekati istrinya.


"Aku takut tidur sendiri," kata Alita cemberut.


Tingkah manja Alita membuat Firas dan Faldo senyum-senyum geli melihat Arkan salah tingkah malu dilihat mereka berdua.


"Kita udahan kok, Al." Faldo menenangkan. Karena hafal bumil begini sensitif. Veni pun sedang hamil muda yang membuat mood nya berubah-ubah.


"Iya Al. Maaf kelamaan pinjem suami kamu." Firas menambahkan membuat Alita menghentak manja.


"Temenin tidur, sayang.."


"Iya iya sayang," kata Arkan menoleh ke dua temannya. "Kelanjutannya by phone aja ya."


"Siap Kan."


Arkan bergegas mendekati istrinya yang sudah cemberut lima senti.


"Yuk kita praktek."


"Ihhh mau tidur bukan mau praktek!"


"Eh iya iya... Tapi satu kali nggak apa-apa dong?"


Arkan terkekeh makin senang lihat manja dan merajuk istrinya.


Ia benar jadi suami siaga menemani istrinya. Melihat Alita tidur dengan pulas, ia mengusap-usap rambut istrinya lembut.


"Aku akan mempekerjakan bodyguard untuk kamu, sayang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita."


***


"Gimana Do? Udah ketauan siapa yang coba racunin Alita?" Tanya Arkan nggak sabar ingin mencincang orang itu.


Faldo mengangguk. "Mobil yang dibawa wanita itu, atas nama Rian Purnama, ayah tirinya Lanni."


Arkan terkejut. "Punya Papa Rian?"


"Tapi Pak Rian nggak punya motif celakain Alita. Coba lo telepon Pak Rian tanya," kata Firas.


"Bener tu harus gue telepon." Arkan mengeluarkan HP dan menghubungi Rian.


"Halo, Arkan." Suara Rian hangat bersahabat seperti biasanya.


"Halo Pa. Maaf aku ganggu nggak?"


"Enggak kok, Papa cuma lagi cek pembukuan toko. Ada yang bisa Papa bantu?"


"Gini Pa, aku mau tanya. Papa punya mobil warna silver kebiruan?"


"Oh iya Papa baru beli mobil itu. Untuk Lanni."


"Lanni?"


"Iya. Dia bilang mau buka sanggarnya lagi tapi jauh dari rumah. Dia minta mobil itu ke Papa. Papa juga belum pernah memakai mobil itu. Memang kenapa Kan? Ada masalah?"


Arkan mengepalkan tangannya emosi. Ternyata Lanni pelakunya!


"Arkan, Lanni bikin masalah lagi?" Rian sudah sangat paham sifat anak tirinya.


"Iya Pa. Kemarin dia coba racunin istri aku."


"Apa???!!"


Lalu Arkan menceritakan semua. Dia percaya Rian sebagai orangtuanya.


"Keterlaluan Lanni! Papa sudah peringatkan jangan ganggu keluarga kamu lagi. Dia malah mau celakain istri kamu. Biar Papa yang bicara."


"Jangan Pa. Biar aku yang urus. Yang jelas sekarang aku akan makin ketat menjaga istriku."


"Baik Kan. Maafkan anak Papa. Kalau butuh bantuan Papa, jangan sungkan. Kamu kan anak Papa juga. Papa akan bantu apapun demi kamu."


"Terima kasih Pa. Kali ini biar aku yang turun tangan."


"Hati-hati Arkan."


Begitu telepon ditutup, Arkan mengepalkan tangan kesal.


"Pelakunya Lanni, Kan?" Tanya Firas, belum dijawab Firas sudah meradang. "Gue udah curiga tu mantan istri lo. Nggak peduli kan pernah lo jeblosin k penjara."


"Jadi rencana lo apa, Kan?" Tanya Faldo.


Arkan menggeleng. "Untuk saat ini gue nggak ada rencana. Cuma gue perlu bodyguard buat jaga Alita selama gue nggak ada."


"Bodyguard? Eh gimana kalo sepupunya Veni? Dia tu mantan atlet karate. Namanya Gina. Pas deh buat jadi bodyguard Alita. Kebetulan kemarin dia minta cariin pekerjaan ke gue." Usul Faldo.


Arkan menimbang-nimbang dan mengangguk. "Oke. Nanti bawa dia temuin gue. Gue mau tes dulu orangnya."


"Siap Kan."


Arkan memperketat pengawasan pada Alita. Karena Lanni wanita yang tidak diduga. Paling pantang terima kekalahan.


Pasti sekarang di otaknya penuh rencana jahat untuk mencelakai Alita.


***