RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 41


Semenjak hamil, Arkan jauh lebih protektif menjaga Alita.


Ia benar menjadi suami siaga membuat Alita merasa nyaman.


"Sayang, tapi aku nggak enak sama tamu undangan. Kemarin pasti kacau ya aku tiba-tiba pingsan gitu."


Arkan mengupas buah jeruk sambil tersenyum. "Nggak apa-apa kok sayang. Aku udah lepas berita alasannya. Semua maklum, malahan semua kasih selamat dan ingetin aku supaya makin hati-hati jaga kamu. Kandungan kamu masih muda soalnya."


Alita merebahkan kepala di bahu suaminya. "Akhirnya kita dikaruniai anak. Kamu pengen punya anak laki laki atau perempuan?"


"Laki laki atau perempuan sama aja kok sayang, yang penting anakku sehat, kamu sehat. Udah cukup." Arkan memberikan buah jeruk. "Kamu harus banyak makan buah sama sayuran."


Alita membuka mulutnya. "Suapin."


Arkan geregetan dengan manjanya Alita. Disuapinya jeruk yang langsung dilepeh.


"Kenapa sayang?" Arkan heran.


"Jeruknya manis."


"Terus?"


"Aku maunya yang asem, sayang.." rengek Alita membuat Arkan makin gemas.


"Masih mual ya? Ya udah aku beliin dulu."


"Iihh jangan kamu yang pergi. Suruh Bi Endah aja. Kamu di sini temenin aku."


"Iya sayang."


Kebetulan Bi Endah muncul membawakan segelas susu.


"Bi, tolong belikan buah yang asam-asam."


"Oh iya Tuan."


"Eh Bi, sama beliin martabak keju coklat, beliin pisang juga ya Bi."


"Baik Nyonya.."


Bi Endah meninggalkan ruang tengah, membiarkan dua majikannya bermanja-manja ria.


"Diminum dulu susunya." Arkan mengambil gelas susu.


Alita menurut dan meminumnya.


"Sayang, nonton film dong."


"Mau nonton film apa?"


"Film horor." Permintaan Alita membuat Arkan kaget.


"Horor? Nggak serem emang? Yang lain aja ya, kamu kan lagi hamil, nanti anak kita ketakutan gimana."


"Ya udah kalo gitu film ..." Alita berniat menggoda suaminya. "Film itu-itu."


"Sayang, Inget kamu lagi hamil muda."


"Terus kenapa? Emang lagi hamil muda nggak boleh nonton itu?" Alita makin semangat melihat suaminya sudah gugup.


"Kamu nggak kasian sama aku?" Arkan mengusap kepalanya gemas.


"Ya udah kalo nggak boleh nonton, praktek aja gimana?" Alita mengedip nakal.


Arkan makin geregetan dan membaringkan tubuh Alita di sofa membuatnya kaget.


"Eh sayang, aku cuma bercanda.." Alita panik Arkan sudah lepas celana mode siap tempur.


"Tega ya kamu bercandain aku kayak gini? Ayo kita praktek daripada nonton film."


"Eh Mas.. jangan di sini ah nanti diliat Bi Endah."


"Nggak akan. Bi Endah bakal lama datengnya. Kita bisa main dua ronde. Aku nggak tahan pengen makan kamu."


"Sayang hati-hati.. nanti baby nya..."


"Tenang aja sayang, aku ajarin gaya tempur yang aman buat baby kita ya.."


Alita pasrah agak menyesal menggoda suaminya yang sudah libur berhari-hari.


Dan akhirnya mereka melanjutkan rencana 'nonton' berakhir praktek di sofa.


***


Di sudut restoran, seorang wanita cantik berambut pendek makan sendirian tanpa semangat.


"Kenapa jadi gini sih? Kenapa juga Mas Arkan pake nikahin ART itu? Udah tau tu perempuan nggak waras."


Umpatan kasar itu mulut siapa lagi kalo bukan mulut Lanni mantan istri Arkan.


Ia tidak bisa menahan emosi melihat foto pernikahan Arkan dan Alita.


"Gaunnya pasti mahal banget ini. Trus tiaranya, berliannya banyak banget. Mana bisa aku terima. Dulu aku harus terima cuma pake kebaya putih karena Mas Arkan belum sukses kayak sekarang. Nggak adil banget pembantu itu pake gaun mahal dan perhiasan yang jauh lebih mahal dari semua perhiasanku."


Lanni benar-benar berang, karena Arkan sudah menjual sanggarnya dan ia tidak mempunyai pekerjaan.


Menikah dengan Riga pun bukan solusi perekonomiannya. Ia tahu betul Riga pemalas dan selalu gagal berbisnis. Hidupnya akan sengsara secara ekonomi jika menikah dengan Riga.


Padahal ia berharap Arkan memberikan tunjangan cerai berupa sanggar senamnya. Hanya tidak menyangka Arkan begitu membencinya. Padahal dulu mantan suaminya begitu tergila-gila padanya.


Ia menemani Arkan dari nol, sekarang begitu Arkan sudah sukses, hanya karena satu kesalahan, ia dibuang begitu saja.


"Aku harus bales dendam. Aku nggak rela pembantu itu dapat semua yang menjadi hakku. Lagian dia kan nggak waras. Suka tiba-tiba berubah jadi wanita sadis. Ini harus aku manfaatin."


Tanpa ia tahu, seorang pria tua memperhatikan foto di layar HP-nya, dan mendengar semua kata-katanya.


***