RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 39


Semenjak rahasia Alita terungkap, rahasia yang Alita sendiri tidak tahu, Arkan jadi lebih menyayangi istrinya dan makin memanjakannya.


Seperti pagi ini, Alita dibuat terkejut aksi suaminya di dapur.


"Sayang kamu lagi apa?" Alita heran menahan tawa melihat Arkan memakai apron motif bunga warna pink.


"Eh udah bangun? Ini aku lagi bikin sup buat kamu." Arkan mengiris wortel dan sayuran, kelihatan begitu ahli.


"Hati-hati ah sama pisau."


"Iya sayang, suami kamu ini jago masak lho." Arkan memasukkan semua bahan ke panci mendidih.


"Kok tumben mau masak? Emang hari ini nggak ada janji sama klien?" Tanya Alita heran, biasanya hari Minggu juga Arkan pergi sampai siang untuk menemui koleganya.


"Enggak dong, hari ini aku mau full sama istriku." Arkan mengedipkan mata nakal, dan tersenyum manis.


Alita cemberut dan bantu membereskan sampah bekas masak.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Arkan perhatian.


"Aku bosen, sayang. Nggak ada kegiatan di rumah."


Arkan memaklumi hari ini pasti tiba, ketika istrinya di puncak kebosanan selalu ada di rumah menunggunya.


"Kamu kan suka masak. Kenapa nggak coba masakan apa yang bisa dijual?" Usul Arkan. Setidaknya kalau istrinya di rumah ia tidak khawatir.


"Aku boleh berbisnis?"


"Boleh dong sayang. Selama itu nggak bikin kamu capek dan kamu seneng."


Alita tersenyum dan mengecup pipi suaminya. "Makasih ya sayang."


Arkan menatap istrinya lekat.


"Eh kamu kan lagi masak, malah romantis di dapur." Ingat Alita.


"Oh iya, untung nggak kematengan." Arkan mengaduk sup yang wangi menggugah selera.


"Enak banget kayaknya." Alita jadi lapar.


"Kamu harus banyak makan yang sehat, biar program hamil kita lancar, sayang."


Alita mengangguk. "Iya sayang. Makasih ya udah pengertian banget."


Arkan menaruh sup pada mangkuk. "Yuk makan."


Berdua mereka menuju meja makan.


***


Sedang asyik makan berdua, muncul Bi Endah.


"Tuan, ada tamu."


"Siapa Bi?"


"Orangtua Tuan."


Arkan saling pandang dengan Alita. Pandangannya tertuju pada baju Alita yang cukup seksi, hanya tank top dan celana pendek.


"Kamu ganti baju dulu ya sayang, aku nemuin Papa."


Alita mengangguk paham. "Iya aku ganti baju dulu."


"Nanti langsung turun lho."


"Iya." Bergegas Alita naik ke kamarnya.


Sedangkan Arkan menuju pintu depan menyambut Galang dan Ajeng.


"Apa kabar Pa?" Arkan menyalami Galang hormat.


Galang hanya tersenyum kecil. "Baik. Gimana kabar kamu?"


"Aku baik, Pa." Meski Galang berbuat hal buruk, Arkan tetap berusaha bersikap sopan. Karena Galang tetap ayahnya.


"Tante, apa kabar?" Arkan menyalami Ajeng yang memasang wajah jutek.


Nggak dijawab. Karena sampai kapan pun Arkan tak sudi memanggilnya Mama.


Arkan berusaha mengacuhkan dan mengajak keduanya duduk di ruang tengah.


"Ada apa, Pa? Kok tumben? Kalau ada perlu, biasanya Papa telepon aku suruh ke rumah." Arkan membuka pembicaraan.


"Udah lama, kamu nggak pernah dateng ke rumah Papa."


Arkan mengangkat alis. "Aku sibuk Pa. Lagipula aku nggak mau nanti aku dateng bikin ribut Papa sama Tante Ajeng. Pasti ada Riga di sana."


Ajeng meradang. "Kamu kok tega sih penjarain Riga?"


Galang memegang tangan istrinya. "Sayang, Riga kan udah bebas."


"Tetep aja Mas. Dia bebas dari penjara tapi ngurung diri terus di kamar. Gara-gara kasus nggak jelas." Ajeng mulai lagi memaki-makinya.


Arkan tidak berminat membalas ucapannya. Karena ibu tirinya ini, kalau diladenin makin menjadi.


Sebelas dua belas dengan Andini, ibunya Lanni. Makanya dua orang ini bisa Kong kalikong alias sekongkol atau bisa jadi musuh bebuyutan.


"Sudahlah sayang, yang penting Riga udah sama kita." Perkataan Galang membuat Arkan bereaksi biasa.


Dulu ia akan sangat sakit hati setiap ayahnya mengutamakan kepentingan istri dan anak tirinya.


Tapi sekarang tidak lagi.


Karena sekarang ia tidak sendirian. Hanya Alita yang berharga untuknya.


"Oh ya Papa dengar dari teman Papa, kamu memesan jasa wedding organizer?" Galang mengalihkan pembicaraan.


Arkan agak bingung. "Kok teman Papa tau?"


"Kebetulan wedding organizer nya milik anak teman Papa. Dan dia pernah datang ke pernikahan kamu dengan Lanni. Makanya dia bertanya. Kamu mau menikah lagi?"


Arkan tersenyum kecil. Tadinya dia mau bikin surprise buat semua, tapi ketahuan.


Muncul Alita dari lantai atas. Begitu cantik menggunakan dress putih selutut, dengan rambut panjang terurai.


Galang dan Ajeng kaget bersamaan.


Alita mencium tangan Galang. "Saya Alita."


Galang yang masih bingung menerima uluran tangan Alita dan mengusap kepalanya sekilas.


Begitu mau menyalami Ajeng, ibu tiri Arkan itu malah buang muka sambil melipat kedua tangan di dada.


Alita menatap Arkan bertanya, suaminya cuma tersenyum sambil mengajaknya duduk.


"Alita bukannya ART kamu?" Tanya Galang bingung.


"Dulu memang. Sekarang dia istriku. Aku udah menikah sama dia dua bulan," jelas Arkan santai.


"Tuh kan Mas.. anakmu itu nggak tau diri. Nikah diam-diam dengan pembantu, tapi nggak minta izin sama kamu papanya. Paling juga dinikahin gara-gara ditidurin duluan sama anakmu." Mulut pedas Ajeng membuat Galang panik takut Arkan marah.


"Sayang, Arkan udah dewasa. Lagipula dia laki-laki. Dan ini pernikahan keduanya. Mas yakin dia bisa tanggung jawab sendiri. Nggak perlu ikut campur." Galang berusaha membela putranya karena sudah tahu Riga bersalah. Hanya saja demi menjaga keharmonisan rumah tangga nya dengan Ajeng, ia terus membela Riga walau salah.


"Kamu kenapa jadi belain dia sih, Mas?" Ajeng nggak suka.


"Bukan belain. Tapi jaga bicara kamu. Gimana pun juga dia itu menantu kita."


"Nggak sudi!"


Alita melihat sikap Ajeng sungguh merendahkannya.


Arkan melihat sorot mata Alita berubah, bergegas ia rengkuh bahu Alita menenangkannya. Khawatir Athena muncul membuat runyam. Kalau ada Athena, pasti Ajeng jadi sasaran kemarahan karena sudah menghina Alita.


"Aku juga nggak minta pengakuan Tante kok. Aku cuma ngabarin mau ngadain pesta pernikahan. Terserah Tante mau datang atau enggak."


Alita menatap Arkan bingung. "Pesta?"


"Iya sayang, aku mau ngadain resepsi pernikahan kita. Aku bakal ngundang semua kenalanku. Biar semua tau istriku ini."


"Biar tau istri kamu mantan pembantu," kata Ajeng pedas.


Baru Arkan mau jawab, Alita memegang tangan mengisyaratkan diam saja. Melawan mulut pedas Ajeng butuh yang pedas juga.


"Biarpun saya mantan ART, tapi saya menyayangi suami saya lebih dari apapun, Tante. Jadi saya akan setia mendampingi dia dalam kondisi apapun." Perkataan Alita membuat Ajeng makin sentimen aja.


"Nggak usah sok suci kamu. Setelah bikin anak saya trauma, kamu masih..."


"Riga maksud Tante?" Potong Alita. "Dia sudah memperlakukan saya nggak adil. Dia cuma menerima karmanya. Apa lagi yang diharapkan?"


"Pinter ngomong kamu ya." Ajeng berdiri meradang.


"Sayang, udah. Jangan marah-marah. Nanti tensi kamu naik lagi, nggak bisa ngerawat Riga," bujuk Galang yang kewalahan menghadapi istrinya yang temperamental.


"Aku nggak suka sama dia, Mas. Apa kata temen-temen aku? Anak suamiku nikah sama pembantu?"


"Setidaknya dia bukan pengkhianat yang selingkuh sama anak baik Tante." Arkan memandang Galang.


"Kalau Papa mau datang, aku menghargai. Tapi aku minta jangan bikin kacau pesta pernikahanku."


Ajeng masih mau menyela namun Galang menengahi. "Sudah, jangan diteruskan. Kita pulang saja."


Arkan berpegangan tangan dengan Alita mengantar Galang dan Ajeng pergi.


Walau Ajeng belum puas.


***


"Pesta pernikahan? Kok nggak bilang sama aku?" Tanya Alita begitu mereka kembali ke kamar.


"Tadinya pengen bikin kejutan, malah ketahuan duluan gara-gara wedding organizer nya anak teman Papa. Dan bocorin aku mau ngadain pesta pernikahan." Arkan membuka kaus, bertelanjang dada ia duduk di sofa memandang Alita.


"Sayang kamu yakin mau ngadain pesta itu?" Alita agak cemas.


Arkan mengisyaratkan dengan jarinya. "Duduk sini."


Alita menurut dan mendekat, Arkan menariknya duduk di pangkuannya.


Tangannya melingkari pinggang ramping istrinya membuat tubuh mereka menempel.


"Iya aku perlu ngenalin istri aku yang cantik ini." Ia mengecup leher Alita.


"Kapan itu?"


"Rencana minggu depan. Nanti Stacy yang akan handle gaun pengantin dan make up kamu ya sayang.."


Alita agak murung.


"Eh kenapa lagi sayang? Kok cemberut gitu?"


"Aku takut malu-maluin kamu," kata Alita pelan. "Aku ini mantan ART kamu."


Arkan tersenyum gemas melihat Alita cemberut. "Mantan asisten rumah tangga yang aku lamar jadi ibu rumah tangga Arkan Hutama."


"Aku cuma lulusan SMA. Nanti kalau..."


"Sayang..." Arkan menatapnya lekat. "Aku butuh teman hidup. Bukan pegawai perusahaanku. Apa gunanya pendidikan kalau aku yakin istriku bermoral baik yang aku yakin bisa ngedidik anak-anakku kelak."


Alita mulai tersenyum, keraguannya perlahan pudar.


"Nanti aku coba bajunya. Aku harus tampil cantik di pesta pernikahan kita."


"Tentu sayang, kamu akan ratu paling cantik nanti."


Membayangkan ia memakai gaun pengantin cantik, membuatnya senyum-senyum sendiri.


"Sayang.." Arkan mulai menciumi leher istrinya.


Alita sudah paham suaminya meminta jatah.


Langsung saja ia menyerang bibirnya duluan begitu buas membuat Arkan terkejut sendiri istrinya begitu liar.


"Let's make a baby.." bisik Arkan langsung mengangkat tubuh Alita ke ranjang.


Malam panjang dilewati pasangan suami istri yang masih suasana bulan madu.


***