RAHASIA ALITA

RAHASIA ALITA
Bab 30


Matahari sudah meninggi ketika Arkan bangun, mengerjapkan mata dan melihat ke sampingnya.


Ia tersentak dan bangun. "Di mana Alita?"


Mengingat semalam ia melewati malam panas bersama Alita.


Bahkan jeritan kenikmatan wanita itu masih terngiang-ngiang di telinganya.


Arkan mengusap wajah dan menarik napas panjang. Suasana hatinya begitu gembira.


"Alita.. " ia turun dari ranjang mengenakan bajunya dan terdiam melihat sesuatu di meja.


Surat.


Tuan, saya harus pergi. Saya nggak mau membahayakan Tuan. Saya bukan wanita baik-baik.


Terima kasih Tuan begitu baik pada saya.


Saya nggak akan pernah melupakan Tuan.


Alita.


Arkan terduduk lemas membaca suratnya.


"Apa maksud Alita?"


Barang-barangnya sudah tidak ada.


Ia bergegas menuju kamarnya. Dan memeriksa sekeliling.


"Bukan wanita baik-baik? Apa maksud Alita? Nggak ada barang yang dicuri."


Arkan bergegas menuju pos satpam.


"Pak Adul.."


"Iya Tuan." Pak Adul yang sedang nonton TV langsung berdiri sigap.


"Di mana Alita?"


"Lho? Neng Alita katanya mau pulang kampung. Tadi pagi pamit sama saya. Katanya sudah ijin sama Tuan."


Apa??


Pulang kampung?


"Ada masalah Tuan?" Tanya Pak Adul.


Arkan tidak menjawab langsung masuk rumah.


Berkali-kali ia mencoba menghubungi HP Alita tapi tidak aktif.


"Alita.. kamu di mana? Kenapa kamu pergi tanpa jelasin apa-apa?" Arkan cemas setengah mati.


Melihat recent call HP-nya membuatnya curiga.


"Lho? Lanni nelepon, tadi pagi? Dijawab dengan durasi telepon dua menit lebih. Tapi gue nggak pegang HP semalaman. Gimana bisa?"


"Arkan!"


Ia mendongak. Firas, Faldo, dan Veni berdiri di hadapannya.


"Ada yang perlu lo tau tentang Alita."


***


Udara terasa pengap. Suasana gelap dan penuh debu.


Alita terbatuk-batuk, ia sudah lelah sejak tadi berteriak minta tolong. Ia diikat di kursi dengan tangan diikat ke belakang.


Ia menangis ketakutan.


Tadi pagi ia terbangun dengan Arkan berada di sampingnya.


Ia sungguh bahagia melewati malam bersama lelaki yang dicintainya.


Namun itu menjadi ketakutan yang terbesar.


Karena dulu pun ia terbuai dengan rayuan Arden yang amat manis.


Ia takut Arkan berbuat yang sama padanya.


Maka dari itu Alita memutuskan pergi dari rumah Arkan.


Ia takut malah membahayakan Arkan. Ia pun kurang paham apa yang terjadi pada dirinya. Lebih baik ia pergi untuk membuat Arkan aman.


Namun begitu melewati ruang tengah, HP Arkan berbunyi. Ia menjawab telepon dari Lanni karena takut Arkan terbangun.


Lalu Lanni menyuruhnya datang ke suatu tempat.


Ia sendiri lupa kenapa ia menurut saja dan bergegas pergi.


Ternyata dia disekap dan diikat di ruang pengap.


Matanya mengerjap karena kepalanya sakit. Ia baru ingat barusan ia dipukul sampai pingsan.


Tiba-tiba pintu terbuka. Ada empat bayangan hitam dan diterpa cahaya remang remang lampu luar.


"Siapa kalian??!" Teriaknya.


Empat sosok itu jalan mendekat. Begitu berdiri di depannya, ia kaget.


Lanni, Riga, dan dua pria..


Alita makin kaget melihat Zen dan Ergi, dua pria yang ikut memp*rkosanya.


"Well well.. emang lo ART b*go! Keganjenan banget lo godain Arkan sampe Arkan bilang lo calon istrinya!" Bentak Lanni sambil mencengkeram erat rahang Alita.


Alita diam saja, nafasnya memburu, menahan emosi. Tangannya diam-diam berusaha melepaskan ikatan di belakang.


"Padahal waktu lo dibuang Arden, kenapa lo nggak cari kami? Lo itu asyik tau. Gue bisa kok nampung lo di rumah. Asal lo bisa puasin gue di ranjang." Ergi menambahkan membuat emosi Alita makin sulit dikendalikan.


"Asyik banget ya kita ketemu lagi. Udah tiga tahun masih oke aja body lo." Zen dengan kurang aj*r nya membelai dada Alita yang padat.


"Kita sengaja bawa lo ke sini, buat kasih lo pelajaran. Lo kan penyebab kecelakaan mobil Arden. Zen ngeliat waktu lo abis sabotase mobil Arden sebelum kecelakaan." Riga merasa di atas angin.


Tiba-tiba Alita menyeringai dan tertawa kecil. "Akhirnya kalian semua kumpul di sini!" Ia melempar tali yang berhasil dilepas.


Belum sempat hilang kekagetan semua, alat kejut listrik menghantam mereka satu persatu hingga pingsan.


***