
Pukul 20.15 Arkan dan Alita baru tiba di hotel setelah berjalan jalan dari siang.
Terlihat begitu ceria bahkan Alita tidak canggung lagi berbicara pada majikannya.
"Saya dulu diadopsi sama Mama Reni. Sejak saya bayi di panti asuhan. Tapi begitu saya umur 10, Mama meninggal karena sakit. Mama menitipkan saya pada Tante Vira, adiknya."
"Oohh jadi kamu nggak tau orangtua kandung kamu?"
Alita angkat bahu. "Buat saya udah nggak penting, Tuan. Ada atau enggak sanak saudara, toh saya tetep sendiri."
"Kamu bener nggak tau keluarga kamu?"
Alita menggeleng.
Arkan jadi kasihan, ia membayangkan luka yang dialami Alita, sendirian mengalami kejadian mengerikan yang naas. Tanpa ada yang menemani dan menguatkan.
Dan kakaknya, sekaligus saudara tiri yang br*ngsek itu menjadi para b*jingan yang melukai perempuan lemah ini.
"Kamu pinter masak, belajar dimana?" Tanya Arkan begitu masuk lift.
Hanya mereka berdua di lift membuat lebih leluasa mengobrol.
"Saya pernah kerja jadi asisten chef, Tuan. Cukup lama. Makanya saya banyak belajar masak." Alita agak murung, mengingat masa lalu lagi.
"Kenapa?"
Alita tersenyum getir. "Dulu Arden yang sering menemani saya masak. Dia selalu memuji masakan saya. Saya benar-benar tertipu mengira dia benar mencintai saya." Air matanya menetes lagi.
Bang, tega lo bikin perempuan sampai terluka begini, batin Arkan pada kakaknya.
"Ssstt..." Arkan mengusap air matanya. Ia tidak tega melihat tangisan lagi. "Jangan nangis lagi. Kamu nggak sendirian sekarang."
Alita terisak dan memeluk Arkan menumpahkan kesedihannya.
Arkan tak menolak, dan melingkarkan tangan merapatkan pelukannya. Sepenuhnya Alita berada dalam pelukan hangatnya.
Entah kenapa muncul perasaan aneh terhadap perempuan lemah penuh luka yang ingin ia jaga.
Perasaan yang belum tahu apa.
Arkan melepas pelukannya dan mengusap kedua pipi Alita. "Udah ya jangan nangis lagi. Nanti orang lain ngira aneh-aneh. Pada mikir kamu nangis gara-gara aku putusin. Kita kan bukan ABG lagi. Kamu harus lebih kuat."
Alita mengangguk. Memang harusnya ia bisa sedikit lebih kuat, hanya saja luka masa lalunya terlalu buruk untuk membuatnya sedikit kuat.
Tatapan mereka bertemu menghasilkan debaran jantung yang makin cepat.
Entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah bertautan, larut pada ciuman yang lembut tanpa tuntutan.
Ting..
Suara lift membuat mereka tersentak menghentikan ciuman hangat membuat keduanya salah tingkah.
Buru-buru keluar lift.
"Ngg.. Al.." panggil Arkan begitu Alita lebih dulu jalan di depannya.
Alita berhenti, namun tidak berani menoleh karena wajahnya pasti sudah merah dengan kejadian tadi.
"Iya, Tuan?"
"Istirahat yang cukup. Besok aku masih ada pekerjaan sampai siang. Setelah beres pekerjaanku, aku akan bawa kamu jalan-jalan. Jangan pikirin hal yang bikin kamu takut."
"Baik, Tuan."
Alita bergegas masuk kamar, dan menarik napas panjang.
Untuk beberapa saat ia hanya bisa mematung berdiri di belakang pintu menyentuh bibirnya yang barusan disentuh bibir Arkan.
Hatinya berbunga-bunga. Sepertinya malam ini tidurnya akan nyenyak.
***
Firas jadi heran. "Kok lo jadi utamain Alita? Dia ART lo atau calon istri lo sebenernya?"
"Berisik lo! Turutin aja yang gue minta."
"Oke deh. Mengenai Riga dan Lanni. Gimana? Lo bener mau cabut tuntutan?"
"Ya gue nggak ada pilihan. Lo tau sendiri king and queen drama itu kayak gimana. Tapi nggak semudah itu juga, gue mau lo bikinin surat perjanjian. Poin poin yang harus mereka penuhi kalo mau gue bebasin. Nanti gue kirim apa aja yang perlu lo tulis di perjanjian."
"Iya deh gue kerjain. By the way, Mr.Jason nyariin lo."
"Mr.Jason? Emang ada jadwal meeting sama investor?"
"Kayaknya masalah pribadi. Mungkin ada hubungannya sama anak perempuannya. Siapa tu namanya? Oh ya Clara. Lo pernah pergi party sama dia."
Arkan menepuk kepalanya, baru ingat. "Pasti deh masalah. Waktu itu gue mabuk dan dia cium gue. Padahal dia yang nyosor, tapi seakan-akan gue yang harus tanggung jawab."
"Yakin lo cuma kissing doang?"
"Yakin. Biarpun gue mabuk, gue masih inget." Arkan teringat malamnya menghabiskan malam panas dengan Athena.
Ngomong-ngomong, ke mana Athena?
Sudah lama wanita itu tidak mendatanginya. Ia jadi merindukan wanita misteriusnya.
"Wah bisa jadi kasus. Clara kan naksir sama lo. Siap siap aja deh lo diuber dia plus diteror bokapnya."
"By the way, udah lama juga gue nggak ketemu Athena."
Firas terdengar heran. "Masih juga lo kepikiran dia? Gue rasa dia cuma khayalan lo aja. Nggak ada tanda-tanda dia ada."
Arkan tercenung membenarkan. Tapi Athena terlalu nyata untuk sebuah khayalan.
"Terus lo sampe kapan di Semarang? Jadwal kerja cuma sampe besok. Tapi mau balik lusa. Jangan-jangan lo mau ngajak Alita honeymoon?"
Arkan mendengus keras. "Udah deh gue pusing lo tanya-tanya. Kerjain aja yang gue minta."
"Iya deh. Istirahat lo. Jangan kepikiran Athena mulu. Kalo perlu temen, ada Alita yang setia nemenin lo kan."
"Jangan nyamain mereka. Jauh beda. Udah ya. Kabarin gue perkembangannya."
"Oke Kan."
Begitu telepon diputus, Arkan memeriksa pesan WhatsApp yang masuk.
Benar ternyata sejak tadi siang Clara coba menghubunginya. Hanya saja karena ia sedang berjalan-jalan dengan Alita, dia mengacuhkan meski HP-nya berteriak sejak tadi.
Clara mengirim pesan akan menyusul ke Semarang karena akan bertemu kawan lamanya.
Modus lama.
Ia tahu pasti hanya akal-akalan gadis manja itu ingin menemuinya.
Ia merebahkan tubuhnya di ranjang.
Tiba-tiba memikirkan kejadian di lift barusan.
Entah kenapa melihat wajah sendu Alita yang begitu cantik, naluri ingin menciumnya.
Ia menutup wajah, jadi bingung.
"Gue mesti apa sekarang? Gue berani cium dia. Bisa-bisa dia takut sama gue. Dia udah diperlakuin nggak adil sama Bang Arden dan Riga. Tambah gue kurang aj*r cium bibir dia. Arrggghh... Arkan! Kenapa sih lo nggak mikir ke depan??" Ia merutuki perbuatannya.
"Lo kan udah janji buat jaga dia. Ngebayar semua perlakuan Bang Arden. Lo malah bikin masalah!"
Ia membenamkan wajahnya di balik bantal.
***