
Betapa senang hati Alita tidak dikejar-kejar Pak Burhan lagi. Selama bertahun-tahun ia tidak tenang berpindah tempat, berganti pekerjaan.
Syukurlah ia menemukan majikan dermawan seperti Arkan.
Selama ini Pak Burhan menekannya dengan hutang, agar mau tidur dengannya.
Sebisa mungkin Alita memilih kabur saja setiap Pak Burhan menemukannya.
Tapi sekarang, Arkan membebaskannya dari hutang.
Ia bertekad akan setia bekerja pada Arkan. Kalau perlu seumur hidup.
"Oh ya, Tuan Arkan kenal dengan Arden. Bahkan ada di foto keluarga. Berarti, Tuan Arkan saudaranya Arden. Aku harus cari tahu pokoknya."
Bergegas Alita memasuki ruang kerja Arkan.
Ia mencari-cari sesuatu yang berhubungan dengan Arden, seseorang yang menghancurkan hidupnya.
Di laci ada album foto.
Ia membukanya satu per satu.
Foto keluarga.
Arkan dan Arden terlihat sangat dekat.
Alita menahan debar dada karena emosi mengingat perlakuan Arden padanya.
Ia sempat berhubungan dengan Arden. Bahkan ia diberi tempat tinggal di apartemen.
Itu terjadi sekitar satu setengah tahun setelah Tante Vira meninggal.
Ia luntang-lantung mencari tempat tinggal.
Hingga ketika bekerja sebagai pelayan di bar, ia bertemu Arden yang langsung membuatnya jatuh hati.
Lelaki tampan itu memperlakukannya dengan baik. Bahkan melindunginya dari kejaran Pak Burhan.
Mereka berhubungan gelap.
Arden berjanji akan menikahi Alita, secara resmi.
Tapi lelaki itu bahkan tidak jujur sudah menikah. Nama istrinya adalah Laudya.
Seorang wanita karir yang sibuk dan jarang bertemu dengan Arden.
Saat itu Alita dan Arden terlibat perdebatan sengit.
Namun Alita tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari Arden. Karena ia tidak punya apa-apa.
Ia tidak punya pilihan selain diam di apartemen menjadi selingkuhan Arden.
Mengingat itu semua rasanya ingin ia bunuh Arden dengan tangannya sendiri.
Karena lelaki itu melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan.
Air mata Alita menetes mengingat malam itu.
***
"Pak Arkan, ada tamu untuk Bapak."
Arkan menutup berkas yang sedang dibacanya. "Siapa?"
"Namanya Faldo."
"Faldo?" Arkan mengingat ingat lalu mengangguk. "Suruh masuk."
Stacy mengangguk. "Baik, Pak."
Arkan sungguh penasaran kenapa Faldo, adik ipar Arden, menemuinya.
Faldo ini adik satu-satunya Laudya, istri Arden.
Sejak tiga tahun lalu Arden dan Laudya meninggal karena kecelakaan, Arkan lost contact dengan Faldo.
Seorang pria bertubuh tinggi kurus dan berkacamata, memasuki ruangan.
Arkan berdiri dan berpelukan dengan Faldo.
"Ke mana aja lo? Setelah kakak-kakak kita pergi, lo malah ngilang juga." Arkan mengajak Faldo duduk.
Faldo tersenyum asem. "Gue tinggal di Singapore. Masih kesepian sejak Kak Laudya meninggal."
"Yah mau gimana lagi? Namanya kecelakaan. Lo gimana kabarnya?"
"Baik. Gue mau nikah. Sekarang gue ke sini anter undangan sekalian ngobrol sama lo." Faldo memberikan undangan.
"Wah congratulations, akhirnya temen gue lepas masa lajang." Arkan membuka undangan.
"Lo sendiri gimana Kan?" Tanya Faldo membuat Arkan tersenyum kecut.
"Gue udah pisah sama Lanni."
"Pisah? Kalian udah cerai?" Faldo heran.
"Iya. Dan gue nggak mau ngomongin dia."
Faldo tidak bertanya lagi. "Selain kasih undangan, gue mau bicarain sesuatu sama lo."
"About what?"
"Kecelakaan maut yang bikin Bang Arden dan Kak Laudya tewas."
Arkan mengerutkan kening. "Ada yang aneh? Itu udah dinyatakan kecelakaan."
"Gue nemuin video diary Kak Laudya. Sejak dulu Kak Laudya selalu rekam video diary kalau ada kejadian yang berkesan. Kak Laudya nangis di video terakhir, dia bilang, Bang Arden selingkuh. Gue curiga, apa karena itu mereka ribut di mobil sampai mobil kecelakaan."
Arkan terkejut, mengingat Arden yang begitu gentle, ia tidak yakin Arden berselingkuh dari Laudya.
"Lo yakin Laudya bilang gitu?" Ia memastikan.
"Lo inget kan saksi mata kecelakaan, katanya mobil nggak seimbang, sampai hilang kendali dan kecelakaan. Mobilnya hancur hingga nggak bisa diperiksa kerusakannya. Apa itu kerusakan mobil, atau memang mereka berantem hingga kecelakaan."
Arkan menggeleng. "Tapi gue nggak yakin Bang Arden begitu. Kita kan tau gimana mereka saling cinta."
"Semua kemungkinan bisa terjadi, Kan. Gue akan usut kasus kecelakaan ini sampe tuntas."
"Oke. Gue bantu." Arkan ingin membuktikan tuduhan Faldo salah. Arden orang baik yang tidak mungkin selingkuh.
"By the way, sekarang gue kerja di kantor detektif. Kalau lo perlu bantuan, hubungi gue aja."
Arkan menerima kartu nama dan memberikan kartu nama miliknya. "Lo juga bisa hubungi gue kalau perlu bantuan."
"Thanks Kan. Nanti gue bakal kirim video diary Kak Laudya yang gue maksud tadi."
"Gue tunggu."
***
"Langsung saja. Saya datang untuk melunasi hutang almarhum Bu Vira."
Lelaki tua berbadan gendut itu kaget kedatangan pria berjas rapi.
"Bu Vira?"
"Katakan berapa hutangnya? Setelah itu, jangan pernah mengganggu keponakan Bu Vira lagi."
"Maksudnya Alita?"
"Ya. Anda mengejar Alita dengan mengintimidasi hutangnya, agar bisa tidur dengannya."
"Eh kamu jangan asal nuduh. Saya ngejar Alita karena saya curiga dia terlibat satu kasus."
"Kasus?"
"Hutang itu sudah dianggap lunas ketika Alita dianiaya istri saya. Demi menjaga Alita tidak lapor polisi, saya menyatakan hutang itu lunas sebagai gantinya."
"Lalu? Kasus apa yang anda maksud?"
***