PUTRI CANTIK DAN TAMPAN

PUTRI CANTIK DAN TAMPAN
Matahari terbenam


Zhang Wei memulihkan diri di ruang angkasa. Bekas tusukan itu masih sedikit terasa.


Entah kenapa dia tidak merasakan apa-apa di saat insiden itu terjadi. Bahkan ketika tusukan belati itu dia tidak merasakan sama sekali dan tidak akan mengetahui kalau kakaknya Zhang Ziyi tidak memberi tahu nya.


Dan anehnya dia tidak merasa terancam ketika belati itu menancap di kulitnya malahan dia merasa seolah belati itu terhubung dengannya.


Memikirkan hal ini sedikit membuat Zhang Wei pusing bahkan gurunya saja terlihat santai dan seperti menemukan sesuatu kepada dirinya.


Dan penglihatan mengenai simbol aneh itu?


Aha!πŸ’‘


Bukankah simbol aneh itu memasuki sebuah benda dan benda itu menyerupai belati yang tertancap di dalam tubuhnya.


"Yah benar belati itu berarti telah menyatu dengan tubuhku" ucap Zhang Wei mengingat kembali apa yang terjadi dengannya sebelumnya.


Untung dia masih mengingat penglihatan itu kalau tidak entah bagaimana dia mengetahui bekas belati yang menyerupai seperti tato di perut bagian sebelah kanannya.


Entah misteri apa yang menunggunya di masa depan tentu hanya pencipta dan alam yang mengetahui.


Karena perbedaan waktu yang sangat besar dengan ruang angkasa dan dunia nyata memudahkan Zhang Wei banyak menghabiskan waktunya di ruang angkasa dan belajar banyak hal di dalam ruang angkasa itu.


Membuat daya pikir dan tindakan meningkat sangat pesat bahkan ilmu pengetahuan tentang alkemis juga meningkat karena dia menyempatkan diri untuk belajar alkemis tiap hari.


Meracik atau pun membersihkan kotoran obat yang belum menjadi pil.


Kadang Zhang Wei juga belajar membuat pil dengan memulainya dari awal tanpa ramuan yang sudah jadi.


"Meimei apakah kau masih merasakan sakit? ucap Zhang Ziyi mendapati adiknya duduk di bawah pohon bersama dengan sebuah benda seni yang selama ini selalu bersamanya kalau Zhang Wei tidak dalam latihan.


Zhang Wei yang duduk di bawah pohon bersama sebuah gitar dan laptop di depannya memutar sebuah video musik gitar.


Zhang Wei lagi memperdalam ilmu pengetahuan seni.


"hmm saya tidak apa-apa Jiejie" ucap Zhang Wei masih memusatkan perhatiannya ke senar gitar yang berada di tangannya dia hanya melirik sesaat kepada Zhang Ziyi.


Zhang Ziyi yang melihat Zhang Wei masih sibuk dengan gitarnya hanya ikut bergabung duduk di samping memperhatikan jari-jari adiknya yang lentik itu terus menari cepat di tali senar gitar.


Dia sungguh kagum dengan kemampuan adiknya itu. Bukan hanya dalam ilmu kultivasi bahkan ilmu pengetahuan Zhang Wei melebihi mereka semua bahkan Ayahnya sendiri kalah berdebat dengan Zhang Wei.


"Meimei kau sungguh hebat" ucap Zhang Ziyi masih terus menatap jari-jari tangan adiknya yang menari di atas tali senar gitar dengan lekat tanpa mengalihkan perhatian dari gitar seolah jika dia menoleh sedikit akan kehilangan momen.


Melihat tatapan antusias dan takjub kakaknya membuat Zhang Wei tersenyum tipis.


"Jiejie apakah kau mau mencobanya? ucap Zhang Wei menyerahkan gitar itu


"Apakah boleh? tapi bagaimana caranya? ucap Zhang Ziyi dan bingung sendiri mana yang harus di petik dan tahan.


"Jiejie letakkan jari telunjuk di sini dan jari tengah di sini dan____" Zhang Wei terus menjelaskan dan menuntun jari-jari kakaknya itu mengikuti sesuai arahannya.


Zhang Wei mengajar kan Zhang Ziyi dengan kunci dasar dulu.


Karena daya tangkap yang sangat cepat memudahkan Zhang Ziyi cepat memahami dan belajar alat musik itu.


Setelah beberapa kali menghapal letak jari-jari tangan di atas tali senar gitar baru Zhang Ziyi mencoba memetik senar gitar itu.


"Ahahah Meimei ini sangat menakjubkan. Aku berhasil yey" ucap girang gadis itu setelah berhasil memetik senar gitar dengan lancar walau hanya kunci dasar.


Aha rupanya dia sangat bahagia telah berhasil memetik senar gitar dengan lancar. Dia senang mengalahkan orang yang memenangkan lotre satu miliar.


"Meimei boleh setiap selesai berlatih aku boleh meminjam alat ini? ucap Zhang Ziyi menatap mata adiknya dengan penuh harap.


"Gitar namanya Jiejie" ucap Zhang Wei


"Ah ya gitar ini boleh aku meminjam nya? ucap Zhang Ziyi masih menatap Zhang Wei dengan ekspresi mata lucunya.


Dengan bola mata yang sedikit besar seperti mata boneka bergerak lucu kesana kemari membuat Zhang Wei sedikit lucu.


"Aku tidak akan meninggalkan latihan ku. Aku boleh memainkan gitar itu setelah selesai" ucap Zhang Ziyi buru buru menjelaskan melihat wajah adiknya yang tidak berekspresi sama sekali hanya menatap Zhang Ziyi dalam diam.


"Hmm Jiejie boleh membawanya" ucap Zhang Wei.


"Ah? benarkah? tapi aku akan meminjam nya nanti setelah selesai latihan nanti aku akan mencari Meimei" ucap Zhang Ziyi.


"Tidak apa-apa Jiejie boleh membawanya nanti ketika aku mau memainkan nya baru nanti saya mengambil kembali" ucap Zhang Wei


"Baiklah kalau begitu aku kembali dulu silahkan makan jajanan itu sebelum dingin" ucap Zhang Ziyi membawa pergi gitar Zhang Wei.


Zhang Wei hanya menatap kue kukus yang masih hangat di atas nampan itu.


Zhang Wei berjalan menelusuri akademi. Di sepanjang jalan akademi Zhang Wei banyak menemukan murid yang sedang berlatih ada yang berlatih bersama ada yang berlatih menyendiri dan banyak juga yang melakukan jalan sore seperti yang di lakukan oleh Zhang Wei.


Banyak juga yang menyapanya dan tidak sedikit juga yang merasa cuek saja.


Udara di pegunungan memang sedikit berbeda dengan udara di daratan yang rata.


Matahari sore yang akan kembali ke peraduannya terlihat sangat cantik dari ketinggian apalagi tempat Zhang Wei berdiri sekarang sangat cocok untuk menyaksikan sang Surya kembali.


Matahari sore yang sangat cantik yang berwarna kemerahan oranye mempunyai daya tarik tersendiri apalagi Zhang Wei pemburu matahari terbit dan matahari terbenam.


Cekrett


Dengan gerakan lembut menyentuh sebuah tombol mengabadikan momen matahari terbenam itu.


Sekarang gambar cantik matahari telah tersimpan rapi di dalam tangkapan layar kamera digital Zhang Wei.


"Ah mengabadikan momen seperti ini mempunyai keistimewaan tersendiri kalau dulu di kehidupan ku di jaman modern sangat sulit mendapatkan momen cantik seperti ini. Sekarang aku berada di dunia yang masih jauh dari teknologi seolah membiarkan Ku menikmati ciptaan Tuhan ini" ucap Zhang Wei di kala mengingat kehidupan yang dulu yang selalu memburu matahari terbit dan terbenam walaupun di tengah jadwalnya yang padat.


Tidak sama dengan sekarang dia puas melihat matahari terbit dan terbenam tanpa adanya beban yang mengejar dari belakang.


Zhang Wei masih berdiri menatap matahari terbenam seolah matahari itu tidak akan muncul lagi besok.


Tidak menghiraukan keadaan sekitar yang sibuk kemari kesana.


Hai hai sobat πŸ‘


Maaf Author baru come back nih πŸ˜€


Sudah beberapa hari tidak update.


Apa kabar kalian?


Masih dalam sehat?


Jangan lupa dukung dengan cara Like πŸ‘ Vote ❀️ kritik dan saran kakak readers ❀️