PUTRI CANTIK DAN TAMPAN

PUTRI CANTIK DAN TAMPAN
Pangeran Bintang vs Dua pria tua


Di bagian Timur pertempuran terdapat pangeran Bintang melawan dua sosok pria tua yang mengendarai masing masing binatang buas.


"Yoo bukankah ini Pangeran Bintang kita yang terhormat? ucap pria tua itu mengejek mengenali sosok pemuda di depan mereka yang berdiri menghadang.


"Kau benar sungguh kehormatan pangeran Bintang sudi menemui kami yang rendah ini" saut yang lainnya.


Pangeran Bintang hanya menatap kedua manusia bodoh di depannya.


Tanpa basa-basi lagi Pangeran Bintang langsung menyerbu dan memberikan mereka serangan sehingga serangan yang tiba-tiba itu mereka belum siap dan langsung menerbangkan mereka ke belakang.


"Terlalu banyak bicara" ucap dingin pangeran Bintang.


"Uhukkk sesuai karakter seorang pangeran Bintang yang tidak menyukai basa-basi memang benar" ucap seorang pria tua yang mengendarai seekor serigala api muncul dari balik reruntuhan akibat serangan Pangeran Bintang yang tidak di tahan itu.


Sebagian kecilnya robek tidak ada luka serius di tubuhnya.


Seorang pria tua tidak jauh dari samping juga memiliki penampilan yang sama.


Pangeran Bintang tidak memberikan mereka kesempatan untuk berbicara dia langsung memberikan serangan selanjutnya kali ini mereka sedikit siap sehingga mereka kembali membalas serangan Pangeran Bintang.


Wushhhh


Booommmmm💥💥💥


Kedua serangan besar yang bersatu melawan sebuah serangan dari arah berlawanan membuat sebuah goncangan kecil terjadi.


Kekuatan yang beradu bukan kekuatan kecil sehingga beberapa bangunan yang berada di sekitar mereka langsung di sapu oleh kekuatan yang beradu itu.


Untung sudah tidak ada penghuni kota itu karena semua warga sudah berhasil di bawah pergi oleh murid dari sekte aliran putih.


Ketiga orang itu sekarang tidak memiliki penampilan baik.


Para binatang buas yang di kendarai paksa oleh kedua pria tua itu sudah melarikan diri kembali ke habitat mereka karena takut akan serangan manusia yang memiliki kekuatan besar itu.


Mereka memang binatang buas yang menginginkan daging segar seperti daging manusia tetapi mereka masih memiliki insting akan bahaya yang mendekatinya.


Ketiga orang itu kembali melancarkan serangan untuk menaklukkan lawan di sebelah.


Pangeran Bintang mengeluarkan sebuah pedang yang menampilkan hawa biru yang tipis dan udara di sekitar juga perlahan berubah dari yang cerah sekarang mendung dan hawa dingin mulai menyelimuti daerah sekitar.


"Sialan pangeran Bintang menggunakan pedang Dewa Es nya" Pria tua yang mengendarai serigala api tadi berkomentar dan menggertakkan giginya.


"Aku tidak mau mati sia-sia di sini Ayo kita harus terpaksa menggunakan formasi.' ucap Pria tua itu kepada temannya di samping pria tua itu juga tidak menolak keadaan mereka terdesak kalau tidak melawan mereka akan mati sia-sia di tangan pangeran Bintang itu.


Kedua orang itu saling duduk berhadapan untuk menyalurkan tenaga dalam mereka ke dalam formasi yang mereka buat.


Pangeran Bintang sendiri menyalurkan sebagian tenaga dalamnya kepada pedang Dewa milik nya.


Dia sekarang tidak memiliki banyak waktu untuk menyerang karena masih banyak musuh yang berkeliaran apalagi adiknya itu sendirian dia tidak yakin apakah adiknya bisa melawan orang yang memiliki kekuatan rata-rata.


Kalau terjadi apa-apa sama adiknya itu takut kena murka dari Ibunda permaisuri bisa-bisa dia di gantung terbalik nanti d gerbang istana.


Membayangkan itu saja dia tidak mampu. Jangan lihat ibundanya lemah lembut tetapi anggota kerajaan yang mengetahui pasti kekuatan ibundanya tidak menganggap remeh.


Setelah sebagian energi nya terkumpul di pedang cahaya kebiruan langsung merambat luas hingga naik ke langit.


Di atas tempat pangeran Bintang berdiri terdapat robekan alam yang siap menurunkan hujan es kapan saja.


Di sebelah juga tidak kalah jauh dua kekuatan yang bergabung membentuk bola serangan yang sangat besar siap menerima serangan dari pedang milik pangeran Bintang.


Sebelum melemparkan serangan pangeran Bintang menyelimuti dirinya dengan ilmu pertahanan diri agar ketika serangan nya meledak dia tidak mengalami luka parah.


Bertepatan di sebelah juga segera melemparkan serangan gabungan mereka menyambut kedatangan serangan dari pangeran Bintang.


Setelah kedua kekuatan besar itu bersatu udara di sekitar mereka langsung berubah gempa kecil mulai terjadi angin yang berhembus kencang segera menerbangkan benda yang berada di sekitar mereka kedua kekuatan yang saling beradu itu masih mempertahankan posisi masing-masing untuk saling menjatuhkan serangan lawan.


Baju bagian belakang seorang pemuda tampan tampak berkibar dengan cantik mengikuti hembusan angin yang keluar dari pemilik baju itu.


Pangeran Bintang terus mendorong Pedang Dewa nya untuk segera melahap kekuatan kedua orang itu.


Pedang seolah mengerti langsung memberikan bunyi desisan yang sangat memekakkan telinga membuat dua orang lawannya harus menutup telinga dengan energi mereka yang mulai terkuras habis.


Melihat kesempatan itu Pangeran Bintang tidak membiarkan kesempatan emas itu dengan segera dia melayangkan serangan terakhir yaitu serangan double.


Boommmm


Duarrrrtt


Segera kedua orang itu terbang menabrak tembok kota dan pangeran Bintang sendiri mundur beberapa langkah.


Asap tebal masih membubung tinggi tidak tahu apakah orang yang berada di balik asap itu masih hidup atau sudah mati.


Pangeran Bintang sendiri memuntahkan cairan merah dia mengalami luka kali ini.


Untung luka lamanya yang menghambat penggunaan kekuatan penuh sudah pulih sehingga dia tidak terluka separah sebelumnya.


Namun saat ini dia tidak terlihat baik-baik saja dia benar-benar mengarahkan hampir seluruh kekuatan yang dia miliki.


Dia menancapkan pedang nya di tanah untuk di jadikan topangan dan masih berdiri dengan baik walaupun nafasnya putus putus.


Di balik asap itu terdapat dua sosok yang tergeletak tak berdaya nafas mereka sudah lemah tinggal tunggu waktu untuk mati.


"A.... pa..kah hi..dup..ku su...dah... berak...hi..rrr" Setelah mengucapkan satu kalimat dengan susah payah akhirnya salah satu pria tua itu mengembuskan nafas nya.


Dia telah mati.


Pria tua yang masih merasakan nafasnya hanya melihat temannya yang telah pergi lebih dulu meninggalkan dirinya dengan setitik air mata dia sudah tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.


Dia adalah teman seperjuangannya selama mereka menimba ilmu beladiri.


menatap langit dan menghela nafasnya untuk menerima takdir kematiannya.


Setelah beberapa saat akhirnya pria tua itu juga menyusul temannya.


Setelah memastikan kedua lawannya telah mati pangeran Bintang langsung ambruk di tanah sudah tidak sanggup menopang tubuhnya untuk berdiri.


Dia dengan cepat duduk bersemedi untuk memulihkan lukanya.


Zhang Wei yang terbang di langit langsung melaju ke arah Pangeran Bintang yang sudah mau roboh dan menopang tubuhnya itu dan mendudukkan diri untuk membantu proses penyembuhan pangeran Bintang karena masih banyak musuh yang berkeliaran di luar sana.


Dengan satu kali lambaian sebuah penghalang tipis langsung tercipta.


Zhang Wei duduk di belakang pangeran Bintang dan menyalurkan energi cahaya yang Ia miliki sebagai energi penyembuhan.


Pangeran Bintang yang masih menutup mata itu dapat merasakan sebuah aliran hangat yang mengalir kedalam tubuhnya berusaha untuk menutupi setiap luka yang terdapat di dalam tubuhnya.


Luka dalam yang Ia miliki segera menutup perlahan yang walaupun masih membutuhkan waktu lama.


Baiklah baiklah cukup sampai disini dulu


Bersambung >>>>>>>>>