
Sudah sore hari kedua kakak beradik itu tiba di tempat tujuan.
Sebelum mencapai tempat tersebut terdapat kekacauan di mana seekor ular raksasa mengamuk memporak porandakan bangunan yang ada.
"Tolong"
"Tolong"
Teriakan minta tolong di mana-mana.
"HAHAHAHA" Tawa keras terdengar dari atas langit dimana di kepala ular raksasa itu duduk seorang pria sepuh.
Pria itu masih tertawa dengan puas melihat mangsanya yang kalang kabut. Suasana seperti inilah yang dia cari.
"Tolong"
Semua warga berlarian tak menentu arah menghindari pukulan ekor ular raksasa itu.
"Ckckck dasar Pria tua jelek" umpat seseorang melihat kekacauan itu di tambah lagi dengan gigi yang ompong dari pengendara ular raksasa itu.
"HAHAHA"
Tiba-tiba terdengar suara lain yang lebih keras meniru suara dari pria tua itu.
Membuat pria yang merasa di atas langit tadi menoleh tak suka kepada seseorang yang terbang sejajar dengan nya menggunakan ranting kayu.
"Siapa kau? ucapnya dengan mata tajam.
"Aku?
"Siapa lagi Bocah? teriak kesal pria tua itu.
"Pencabut nyawa" Jawab nya santai.
"Hahaha. Apa kau bercanda denganku Bocah? umpat kesal pria tua itu.
"Menurut mu? ucap anak kecil yang tidak lain adalah Zhang Wei dengan nada mengejek.
"Ah kau membuatku semakin kesal Bocah" teriak pria tua itu mengarahkan ekor ular ke arah Zhang Wei.
"Ckckck ayo bermain" ucapnya menghindari ekor ular yang hampir saja menggulung tubuhnya yang kecil.
Zhang Wei dengan lihainya menghindari serangan ekor dari ular raksasa itu.
Zhang Wei masih mengendarai sepotong ranting kayu bahkan dia sekarang membayangkan dirinya lagi berselancar di papan luncur dengan gulungan ombak yang sangat besar.
"Argh Kau mempermainkan ku Bocah tengik aku akan membunuhmu" ucap pria tua itu meluncur kan serangan dari tongkat berkepala ular di tangannya.
Zhang Wei juga tidak tinggal diam dia mengumpulkan energi alam di sekitarnya dan membalas serangan itu.
Kedua serangan yang sama-sama kuat bertabrakan membuat daerah sekitarnya terguncang.
Masih banyak warga yang berlarian minta tolong karena banyak rumah warga yang tumbang dan pohon besar menimpa bangunan karena ular raksasa yang sementara mengamuk dan di tambah dengan dua kekuatan yang bertubrukan.
"Pak tua ilmu beladiri mu lumayan menantang" teriak Zhang Wei tersenyum konyol dan menyebalkan bagi Pria sepuh itu.
"Apa kau bilang bocah? geram pria tua itu mendengar kata pak tua dari bibir kecil dan pedas itu.
Dia tidak menyukai panggilan itu yang walaupun kenyataannya seperti itu.
"Oh ayolah Pak Tua keluar kan semua ilmu yang kau miliki" teriak Zhang Wei masih tersenyum mengejek.
Kedua orang ini saling bertukar serangan. Pria tua itu menggunakan tongkat nya dan Zhang Wei menyerang dengan tangan kosong.
"Sudah lama Saya tidak menemukan lawan yang baik" ucap Zhang Wei terus menyerang dan mulut kecil itu terus mengoceh.
"Diamlah bocah kau mengganggu konsentrasi ku" teriak kesal pria tua itu.
Sekarang dia benar-benar emosi di tambah dengan provokasi kata-kata bocah tengik di depannya.
"Hahaha apakah kau sudah mengakui kehebatan ku Bocah" ucap pria tua itu dengan lantang melihat Zhang Wei tidak mengeluarkan suara.
"Terima ini hiyaaa" teriak pria tua itu dengan gerakan cepat yang tidak bisa di lihat dengan mata telanjang.
Sudah banyak para pendekar yang menyaksikan pertempuran itu.
Bola api berwarna merah menyala terbentuk di tangan pria tua itu.
Bahkan energi di sekitar mereka panas menyebabkan beberapa pendekar yang memiliki ilmu beladiri rendah di bawah segera menjauh.
Zhang Wei masih berdiri di tempat tanpa adanya tanda-tanda kepanasan dari hawa api yang berkobar itu.
Melihat api itu Zhang Wei juga tidak lagi tinggal diam dia mengumpulkan energi di tangannya yang tidak lain adalah elemen Es sehingga menyebabkan sebagian daerah membeku dan udara sangat dingin karena memang energi es yang di miliki Zhang Wei elemen murni yaitu kekuatan es absolute elemen murni dari Dewa Es.
Bahkan Zhang Wei tidak menyadari kalau matanya berubah jadi warna biru laut ketika menggunakan elemen Es itu.
"Tuan Anda harus mengendalikan diri sebelum energi yang Anda keluarkan itu memuncak" ucap Fei dari ruang angkasa.
Melihat tuannya menggunakan energi es murni miliknya membuat dia cemas bisa-bisa seluruh dunia persilatan akan gempar kembali munculnya energi itu.
Yang di cemas kan oleh Fei adalah Tuannya kalau tidak bisa mengendalikan diri akan transformasi ke wujud Zhang Wei aslinya nanti penyamaran yang dia jaga akan terbongkar begitu saja.
Belum saatnya Tuannya itu mengetahui jati dirinya yang sebenarnya masih banyak misteri kehidupan yang harus dia pecahkan kedepannya.
Zhang Wei dengan kesadaran akhirnya tersadar dan mengendalikan kekuatan yang hampir melonjak keluar.
Untung baru matanya yang berubah jadi Masih aman.
"Pak tua kau mau mati secara apa? Suara Zhang Wei yang begitu dingin dan dalam mengalahkan udara yang sudah membeku.
Para pendekar yang menyaksikan pertempuran itu mendengar suara Zhang Wei seperti bisikan malaikat maut membuat mereka secara tidak langsung memiliki ketakutan.
Mereka melihat seperti bukan bocah tetapi orang lain yang menjelma menjadi dirinya.
Zhang Wei memejamkan matanya sebentar setelah itu dia mengangkat pandangan dan bersamaan dia melempar serangan dari tangan kanannya.
Duarrr
Bunyi yang keras memekakkan telinga menghancurkan ular raksasa itu dan Pria tua yang berada di atasnya langsung terpental jauh dan tergantung di reruntuhan rumah warga langsung hilang nyawa di tempat.
Nyawa pria tua itu sudah hilang belum membuat Zhang Wei menurunkan suhu udara yang semakin dingin.
Zhang Wei masih menutup matanya merasakan sensasi dingin yang merasuk ke dalam pusat spiritual nya.
Mawar biru mengeluarkan kelopak yang sangat indah di pandang.
Dia berdiri sendiri di tengah kolam spiritual Zhang Wei.
Pemandangan yang begitu indah tercipta dimana setangkai bunga mawar biru mengeluarkan energi tersendiri dan bercahaya bagaikan rembulan di malam hari.
Zhang Wei terlalu lama menikmati sensasi itu sehingga tidak menyadari sebagian tempat sudah membeku bahkan waktu seolah berhenti semua orang yang masih menyaksikan pertempuran tadi masih melongo tak percaya.
"Tuan kendalikan pikiran Tuan. Sebagian tempat sudah membeku" ucap Fei membuyarkan lamunan Tuannya.
Seketika Zhang Wei mengangkat tatapannya dan benar energi es masih terpancar dari dalam tubuhnya.
Untuk mencairkan energi es yang sudah padat Zhang Wei harus mengaktifkan elemen api yang dia miliki.
Oke kali ini kebalikan dari energi dingin sekarang mereka merasakan energi panas seperti matahari di atas kepala mereka sangat dekat.
Hawa panas yang lumayan besar langsung menghancurkan partikel es yang sudah padat dan hilang begitu saja.
"Terimakasih penolong" ucap para warga begitu Zhang Wei mendarat.
Hahayyyy sobat π
Author mau menginformasikan bahwa author sudah buat grup chat kalau mau bergabung untuk sekedar diskusi tentang karya ini silahkan bergabung ya π€