Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 91


Setelah di rasa mobil yang membawa Dewi benar-benar meninggalkan kampus, akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan dihadapan Rangga terjatuh begitu saja, ternyata hubungan yang dia bangun selama hanya mainan semata bagi Rangga.


"gue harus apa sekarang"guman Dewi melamun tapi masih bisa di dengar oleh Daffa.


"nona kita sudah sampai, mari saya antar ke ruangan tuan Kevin"ucap Daffa menyadarkan Dewi dari lamunannya.


Sedangkan Dewi tidak mengangguk ataupun mengeleng, tapi dia langsung turun dari mobil setelah Daffa membukakan pintu mobilnya, lalu mengikuti Rangga dari belakang.


"permisi tuan, nona Dewi sudh tiba"ucap daffa.


"suruh masuk"ucap Kevin tanpa menatap Daffa.


Setelah mendapatkan izin, akhirnya Daffa mempersilahkan Dewi masuk.


"siang"ucap Dewi sambil berjalan menuju meja kerja Kevin.


"mmm"jawab Kevin tanpa menoleh sedikit pun Dewi.


"sudh makan"ucap Kevin dingin, lagi dan lagi tanpa menatap Dewi.


Sedangkan Dewi hanya mengeleng.


"aku butuh jawaban, bukan gelengan"ucap Kevin menatap Dewi datar.


"antarkan makan siang keruangan sya, tambahkan segelas jus mangga"ucap Kevin melalui sambung telepon kantor, lalu mematikan sambung telepon secara sepihak.


"tadi ketemu sama siapa aja di kampus"tanya Kevin.


"ngk ada"jawab Dewi.


"ngk ada..?ngk ada sampai kamu teriak-teriak di gerbang kampus dan nangis di dalam mobil"ucap Kevin yang membuat Dewi diam seribu bahasa, dari mana Kevin mengetahui semua kejadian itu, padahal nyatanya Kevin tidak ada disana.


"kamu mengawasi ku..?"tanya Dewi menatap Kevin.


"kalau kamu sudh masuk ke dalam kehidupan aku, otomatis kamu sudh dalam pengawasan aku"ucap Kevin.


"ketemu siapa tadi dikampus..?"tanya Kevin lagi, berharap Dewi sedikit terbuka kepadanya.


"ketemu Rangga, itu pun tidak segaja, aku sudh mencoba menghindar tapi dia tetap mengejarku"ucap Dewi jujur tidak berani menatap Kevin, karna ia tau habis ini Kevin pasti marah.


"kamu masih mencintainya..?"tanya Kevin.


Mendengar pertanyaan Kevin, Dewi tidak bisa menjawab, dan lagi-lagi dia hanya bisa menunduk saja.


Sedangkan kevin yang melihat respon Dewi diam saja sudh dapat mengambil kesimpulan, kalau ia masih mencintai Rangga.


"sebesar itu cinta kamu sama Rangga wi, kamu sudah dihianati tapi kamu masih tetap mencintainya"batin Kevin menatap Dewi.


"aku tidak mencintai dia lagi Vin, cuma cara dia menyakiti aku yang bikin aku bingung dengan perasaanku, aku sedih karna dihianati atau aku sedih karna putus sama dia, aku sendiri bingung"batin Dewi berperang dengan hati dan pikirannya.


"aku boleh minta sesuatu"ucap Kevin mengangkat dagu Dewi supaya menatap dirinya, sedangkan Dewi hanya mengangguk.


"boleh aku meminta kamu supaya beljar mencintai aku, boleh aku meminta supaya kamu belajar membuka hati buat aku, jujur aja wi, aku sudh jatuh cinta sama kamu"ucap Kevin menatap wajah cantik Dewi.


"aku sedang berusaha Vin, tapi aku butuh waktu itu hal itu, karna aku tipe perempuan yang sulit jatuh cinta, tapi kalau aku sudh jatuh cinta, aku memengang teguh kata setia"ucap Dewi setelah beberapa saat memejamkan matanya.


"baiklah, aku akan menunggu kamu"ucap Kevin sedikit kecewa.


"permisi tuan, makan siang pesanan anda dan segelas jus mangga"ucap seorang OB.


Kevin tidak menjawab, matanya menatap kearah meja, sedangkan ob yang mengerti akan tatapan atasan langsung meletakan menu makan siang di atas meja.


"permisi tuan"ucapnya sedangkan Kevin hanya mengangguk tanpa ekspresi.


"maksih mas"ucap Dewi.


"sama-sama nona"


Setelah kepergian petugas OB, Kevin langsung menatap Dewi dengan tatapan tajam.


"mas..?"ucap kevin menekan kata-kata nya.


"iyh mas, emng salah"ucap Dewi bingung.


"ngk slaah sih, tapi lain kali jangan begitu"ucap Kevin datar.


"kenapa..?"tanya Dewi


"ngk papa"jawab Kevin "sana makan ngih"


"kamu ngk makan..?"tanya Dewi.


"kamu duluh, baru nanti kamu suapin aku"ucap Kevin sambil melanjutkan sedikit pekerjaannya.


"baiklah"ucap Dewi sambil berjaln menuju meja yang sudh di sediakan makan siang untuk mereka.


"habis pulang kantor, kita nonton bioskop yuk"ucap Dewi dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"telan duluh wi"ucap Kevin, karna ia tidak mendengar dengan jelas ucapan Dewi.


"habis pulang kantor, kita nonton bioskop yuk"ucap Dewi setelah menelan makanannya.


"boleh"jawab Kevin sambil tersenyum menatap Dewi.


"tapi kita berdua aja, tanpa Daffa"ucap Dewi berjalan mendekat meja kerja Kevin. "mau makan disini kah..?"


"makan di sofa aja, disini banyak berkas takut kotor"ucap Kevin sambil berdiri dari kursi kebesarannya. "kenapa Daffa ngk boleh ikut..?"


"kan Daffa juga butuh waktu sendiri, ngk harus setiap waktu dia ngikutin kamu"ucap Dewi sambil menyuapi kevin, seperti biasa menggunakan tangannya.


Kenapa Dewi tiba-tiba mengajak Kevin nonton, karna ini adalah salah satu caranya mendekatkan diri kepada Kevin, karna ia sudh bertekat untuk membuka hati dan belajar mencintai kevin, dan dia mencoba secara perlahan tapi pasti.


"Iyah, nanti kita pergi berdua, kamu pesan tiket lewat online aja ngih, supaya pas disana ngk antri lagi beli tiketnya"ucap Kevin sambil mengacak rambut Dewi, sedangkan Dewi hanya mengangguk.


"aku lanjutkan pekerjaan duluh, kalau kamu mau istirahat, langsung ke kamar aja"ucap Kevin lembut.


"mau aku buatkan kopi ngk..?"tawar Dewi.


"emng kamu tau selerah aku kayak mana..?kan belum pernh buatkan aku kopi"ucap Kevin sambil berjaln menuju meja kerja nya.


"makaya kamu kasih tau, supaya aku bisa buatkan"ucap Dewi berjalan mengikuti Kevin.


"satu gelas kopi pahit aj, gulanya satu sendok, kopinya satu setengah sendok"ucap Kevin tersenyum hangat kepada Dewi.


Sedangkan Kevin hanya mengangguk, ia tau semua yang dilakukan Dewi, mulai dari mengajaknya menonton sampai menawarkan kopi, semua itu bentuk pendekatannya kepada dirinya, itulah sebabnya ia juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, sedikit demi sedikit Dewi mulai membuka diri kepadanya.


Sedangkan Kevin yang senyum-senyum sendiri lain hal dengan Dewi yang mencari-cari dimna posisi pantry.


"permisi mba, bagian pantry disebelah mana iyh"ucap Dewi keslaah satu karyawan.


"lurus belok kiri"ucap slaah satu karyawan yang memandang Dewi remeh.


"makasih"ucap Dewi tersenyum manis.


Sesuai arahnya karyawan sebelumnya Dewi sudh berada di pantry kantor membuatkan kopi kepada Kevin.


"ehh karyawan baru, kok ngk pernh kelihatan disini, btw bagian apa"ucap salah seorang karyawan pria menatap Dewi dengan tatapan mesum.


"ngk, saya bukan karyawan baru disini"ucap Dewi sambil membiarkan kopi.


"lalu..?"tanya nya sambil menatap penampilan Dewi dari atas sampai kebawah.


"saya istrinya pak Kevin, cuma saya jarang ke kantor aja jadi jarang kelihatan"ucap Dewi.


"ahahahhhaha, mimpi disiang bolong"ucapnya menertawakan Dewi. "mending kamu ikut aku, berapa pak Kevin membayar tubuhmu, aku akan membayarnya lebih"


"jaga ucapan anda, sya bukan gadis yang seperti itu, permisi"ucap Dewi hendak meninggalkan pantry.


"etttt kemana, kamu ngk berminat dengan tawaran saya, wanita secantik kamu tidak boleh disia-siakan"ucapnya sambil menahan tangan Dewi.


"tolong jaga sikap anda, saya bisa teriak disini"ucap Dewi menghempaskan tangan karyawan tersebut.


"jangan sok jual mahal nona, sya akan memanjakan kamu hari ini, coba sjaa teriak, ini jam istirahat kantor sepi"ucapnya sambil berjalan mendekati dewi, alhasil kopi yang di pegang Dewi terjatuh untung tidak mengenai kakinya.


"jangan macam-macam, atau aku teriak"ucap Dewi sambil berjalan mundur tapi hanya sedikit mundur badan Dewi sudh terbentur dengan tembok.


"teriak sekuat tenagamu nona, hari ini kamu milikku"ucapnya sambil tersenyum mesum kepada Dewi berjalan mendekati Dewi semakin dekat dan menyisahkan jarak beberapa senti saja dari Dewi dan ia hendak menyentuh bibir Dewi karna sejak tadi tatapannya selalu tertuju kepada bibir mungil Dewi.


bunkkkk


"ahh Bangs*k"teriaknya karna menerima serangan tiba-tiba.


"apa Bangs*k"ucap Daffa yang ternyata yang memukul nya dari belakang adalah Daffa.


"kak Daffa, tolong"Isak Dewi sambil berlari ke belakang Daffa.


"tenang nona"ucap Daffa.


"kamu berani-beraninya menganggu wanitanya pemilik perusahaan ini, bahkan yang menggaji kamu adalah nona dewi"ucap Daffa lalu memukul wajah pria tersebut sehingga pria itu sampai terjatuh.


"maaf tuan, syaa tidak tau kalau gadis itu wanitanya tuan Kevin"


"bukan hanya sekedar wanita, tapi dia istri tuan Kevin, nyonya besar di perusahaan ini"bentak Daffa dan lagi-lagi memukul wajah pria itu. "dan kalau pun itu wanita lain tidak sewajarnya kamu melecehkannya"


"satpam....satpam"teriak Daffa, "aman pria ini, tungguh instruksi dari sya"


"Sisil..Sisil"teriak Daffa lagi "antar nona Dewi keruangan tuan Kevin, pastikan dia tidak lecek sedikit pun"


Sedangkan Sisil yang sedikit ketakutan langsung meraih tubuh Dewi dan langsung menuntun menuju ruangan Kevin.


Sedangkan karyawan yang melihat kejadian itu hanya bisa menunduk kepala, tak mampu menatap Daffa yang sedang marah bak singa lapar, karna pertama kali mereka melihat Daffa semarah itu sampai memukul orang.


"permisi tuan saya mau mengantar nona Dewi"ucap Sisil setelah mengetuk pintu ruangan Kevin.


"masuk"teriak Kevin.


"Dewi"ucap Kevin terkejut sambil berdiri dari kursinya.


"Kevin, aku takut"ucap Dewi menangis langsung memeluk Kevin.


"tenang aku bersama mu"ucap Kevin sambil memeluk erat tubuh Dewi, ia juga merasakan tubuh Dewi yang gemetar.


"tolong bawa aku dari sini"Isak Dewi semakin mempererat pelukannya.


"hei syang, tenang aku disini, tidak ada yang berani menyakiti dirimu"ucap Kevin sambil mencium pucuk kepala Dewi.


"tapi dia jahat Vin, dia hampir mencium ku"ucap Dewi.


"panggil Daffa kesini"ucap Kevin kepada Selly.


"tenang syang, ayo duduk di sofa duluh,"ucap Kevin sambil menuntun Dewi disofa.


"minum dluh"ucap Kevin sambil memberikan gelas sisa air minumnya sewaktu makan siang.


"sudah tenang..?"ucap Kevin dan dianggukan Dewi, tapi badannya masih gemetar.


"sebenarnya apa.."


"permisi tuan, anda memanggil saya"ucap Daffa memotong ucapan Kevin.


"kamu tunggu disini, wi istirahat dikamar, aku bantu"ucap Kevin.


Kevin langsung membawa Dewi kedalam kamar pribadinya, dan langsung membantu Dewi membaringkan tubuhnya.


"jangan takut, kalau ada apa-apa, aku ada diruang kerja teriak aja, kamu istirahat"ucap Kevin sambil menarik selimut hingga menutup tubuh Dewi sampai ke bawah leher.


Sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu, Kevin mencium kening Dewi dengan hangat.


"selamat istirahat"ucap Kevin mencium kedua mata Dewi "jangan menangis lagi"


Lalu ia berjalan meninggalkan kamar dan menemui Daffa yang yang setia menunggu dirinyaa, ia semakin penasaran apa yang terjadi kepada Dewi, sampai membuat gadis itu histeris.


"boleh kamu jabarkan apa yang terjadi"ucap Kevin sambil duduk dikursi kerjanya.


"mohon maaf tuan atas kelalaian sya, tadi pas syaa melewati pantry saya melihat nona Dewi hampir saja dilecehkan oleh salah satu karyawan bagian keuangan"ucap Daffa.


"apa"bentak Kevin sambil memukul mejanya.


"anj*Ng siapa yang berani menyentuh wanitaku, dimana si anj*Ng itu"bentak Kevin berdiri dari kursinya.


"sudah saya aman ke ruangan saptam tuan"ucap Daffa.


"kita kesana sekrang, akan aku patahkan tangannya yang menyentuh tubuh wanitaku"ucap kevin berjalan meninggalkan ruanganya "Sisil, kami tetap stay di depan ruangan ku, pastikan Dewi tidak keluar selangkah pun dari pintu"