Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 105


Setelah melewati beberapa kilo perjalanan, kini Kevin dan Dewi sudah berada disalah satu TPU yang cukup elit pada zaman.


Dewi turun dari mobil dibantu Kevin, sejenak ia memandang hamparan luasnya TPU, sudah lama ia tidak mengunjungi tempat ini, terakhir ia mengunjunginya sebelum menikah dengan Kevin.


"ayo"ucap Kevin sambil menarik tangan Dewi.


Setelah beberapa jauh perjalanan kini Dewi dan Kevin sudah berada di sebuah makam yang disnaa tertera nama orang tua Dewi.


Sejenak Dewi menatap makam itu, lama tidak di kunjungi tapi makam itu sangat terawat sekali.


"assalamualaikum ma"ucap dengan suara serat, entahlah setiap kali Dewi berkunjung ke makam mamanya air matanya selalu keluar begitu saja.


"maaf Dewi baru bisa berkunjung setelah sekian lama"ucap Dewi menatap batu nisan mamanya.


"ma, Dewi capek, untuk sampai di titik ini Dewi benar-benar capek ma, bolehkah Dewi menyerah ma"ucap Dewi sudah tidak bisa menahan laju air matanya.


"Dewi sudah terlalu jauh berjuang ma, ma tolong, jemput Dewi, Dewi mau mengakhiri semua ini, Dewi lelah ma"ucap Dewi menangis.


"Dewi please, jangan berbicara seperti itu, perjuanganmu belum selesai, masalah akan datang silih berganti, kita baru saja memulai"ucap Kevin menarik Dewi kedalam dekapannya, ia tidak menyangka kalau Dewi akan mengatakan seperti itu, ia tidak menyangka kalau Dewi ingin menyusul alm mama mertuannya.


"buat apa lagi Vin aku berjuang, aku sudah capek, aku sudah muak dengan hidup ini"Isak Dewi.


"kamu berjuang untuk aku wi, kamu berjuang untuk rumah tangga kita, untuk hubungan kita, untuk anak-anak kita"ucap Kevin.


"anak..?"guman Dewi tersenyum hambar.


Jika mengingat perjuangannya sejak kepergian mamanya tidak ada terselip dalam pikiran Dewi untuk memiliki anak, dan sejak kepergian mamanya tidak ada dalam pikiran Dewi akan memiliki keluarga kecil, semua ia berjalan begitu saja, Dewi menjalani hidupnya sesuai prosesnya sang pencipta, bahkan berpikir menikah pun Dewi tidak ada, dia menjalani hidupnya selama ini tanpa embel-embel ini itu, menjalani hidupnya lurus-lurus saja.


"ma izinkan aku menjaga Dewi, izinkan aku membangun rumah tangga dan keluarga kecilku bersmaa Dewi, maaf ma setelah sekian lama aku menikah dengan Dewi, baru sekarang aku bisa meminta restu"batin Kevin


"secara pribadi saya minta maaf ma, karna di awal-awal pernikahan aku selalu memperlakukan Dewi secara tidak wajar, tapi aku janji ma, mulai sekarang aku akan membahagiakan Dewi, jadi aku mohon restu dari mama",batin Kevin lagi.


"ma kenalkan ini Kevin, suami Dewi, dia baik banget, selalu berusaha lindungin Dewi, mama tau ngk Kevin sudah Dewi anggap sebagai suami sekaligus figur ayah buat Dewi, suami sekaligus ayah yang bisa menjadi sandaran Dewi ketika Dewi lelah, suami sekaligus ayah yang selalu lindungin Dewi dan selalu ada buat Dewi"ucap Dewi sambil mengusap batu nisan mamanya.


"restui hubungan kami iyh ma, walaupun awalnya hubungan ini slaah, tapi Dewi yakin sekali, bahwa Kevin akan menjadi laki-laki terakhir dalam hidup Dewi nantinya"ucap Dewi lagi.


Deg


Mendengar ucapan Dewi, seketika hati Kevin terasa tersentil sekaligus tersindir, ia tidak pernh berpikir kalau Dewi akan menganggap dirinya sebagai figur ayah dalam hidupnya, padahal jika di lihat kebelkang sangat tidak layak dirinya sebagai suami bagi Dewi apalagi sebagai figur ayah.


Ingin rasanya ia berteriak ke seluruh penjuru dunia, bahwa Dewi menganggapnya melebihi dari seorang suami, untuk saat ini ia lah satu-satunya laki-laki yang paling beruntung yang berhasil memperistri kan Dewi, wanita yang baik hati dan wanita cantik, yang dimana diluar snaa banyak pria yang mengantri untuk mendapatkan Dewi, tapi ia dengan sangat mudah mendapatkan Dewi.


"aku janji wi, akan membahagiakan kamu sebisa ku, aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu, kamu adalah wanita paling berharga dalam hidupku setelah bunda"batin Kevin.


"assalamualaikum ma, aku Kevin, menantu mama, izinkan Kevin untuk menjaga Dewi ma, dan Kevin minta maaf baru sempat datang menyemperi mama dan meminta restu"ucap Kevin memperkenalkan dirinya.


"matahari sudah sangat panas, ayo kita kembali kamu harus istirahat sayang"ucap Kevin setelah dirasa Dewi mulai tenang.


"ma Dewi pulang iyh, bantu Dewi untuk berjuang, ternyata masih panjang perjuangan Dewi"ucap Dewi, lalu ia berdiri dibantu Kevin dan mereka meninggalkan makam itu.


Melihat tuan dan nonanya sudah selesai, Daffa dengan sigap membuka pintu mobil.


"kamu mau mampir duluh sayang sebelum sampai kerumah nih, pokoknya ngk ada lagi embel-embel keluar rumah iyh, pokoknya kamu harus istirahat total sayang"ucap Kevin lembut.


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, kini Kevin dan Dewi sudah sampai di kediaman Kevin, dan Kevin langsung menuntun Dewi masuk kedalam kamar, supaya Dewi istirahat.


"kamu ngk ke kantor lagi kah..?kalau kamu mau ke kantor pergi aja, aku tidak papa sendiri disini, tapi sebelum jam enam sudah harus kembali kerumah"ucap Dewi yang menatap Kevin sedang memangku laptopnya.


"cerewet banget sih istri aku"ucap Kevin sambil meletakkan laptopnya di atas meja lalu berjaln menuju tempat tidur dimana disana Dewi sedang terbaring.


"kenpa harus pulang jam enam syang..?kayak anak SMA aja sih"ucap Kevin sambil duduk disamping Dewi.


"ngk papa, supaya kamu ngk terlalu lama diluar aja, ngk bagus buat kesehatan"ucap Dewi mengalihkan pandangannya.


"aku ngk kekantor syaang, aku mau menemani kamu dikamar ini, aku mau merawat kamu"ucap Kevin "sekarang kamu istirahat, aku ada kerjaan sedikit"


"kamu dirumah tapi tetap bekerja apa bedanya Vin, sama aja kayak dikantor kan"ucap Dewi.


"mumpung masih bisa dikerjakan dari rumah sayang, lagian tanggung"ucap Kevin hendak berdiri tapi tanganya ditahan oleh Dewi.


"disini aja Vin, temani aku istirahat"ucap Dewi menahan tangan kevin.


"kamu kenpa sayang, kok tiba-tiba seperti ini"ucap Kevin sambil menaik turunkan alisnya.


"ngk papa, cuma lagi pengeng sama kamu aja"ucap Dewi sambil memejamkan matanya.


"baiklah untuk ibu negara, bapak negara selalu stay bay"ucap Kevin gemas sambil mengelus rambut Dewi "istirahat sayang"ucap Kevin sambil mencium pucuk kepala Dewi.


#####


Sedangkan di belakang markas, disebuah lahan, dan sangat dibenarkan, ternyata anak buah Kevin benar-benar mengubur Rangga hidup-hidup, bedanya tubuh Rangga hanya dikubur sampai leher saja menyisahkan kepala.


Ternyata Kevin benar-benar tidak main-main dengan ucapannya, bahkan kalau sudah Kevin bertindak maka rasa peri kemanusiaan akan hilang, dia akan menghabisi seseorang tanpa ampun apalagi jika seseorang itu telah mengusik kehidupan yang ia cintai.


miris.


Kalau melihat Rangga yang sekarang sangat miris sekali, duluh ia bercita-cita ingin menjadi dokter, tapi ketika cita-cita sudah didepan mata, ia malah bertindak diluar kendali, obsesinya yang ingin memiliki Dewi mampu mengendalikan dirinya, hingga dengan tega ia menculik, memaksa Dewi menikah dengan nya sampai melecekan gadis itu, dan sekarang cita-cita hanya sekedar cita-cita, ia ingin melanjutkan cita-cita nya tapi bahkan lepas dari Kevin saja saat ini tidak mampu.


Sebenar para bodyguard yang menimbung tanah ke tubuh Rangga sangat tidak tega sekali, pertama kalinya mereka mengubur seseorang dengan keadaan hidup-hidup.


Melihat keadaan Rangga yang saat ini, ingin sekalinya mereka melepaskan Rangga, tapi mau ngimna, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bekerja dan di gaji oleh Kevin, mereka tidak mau salah langkah dan Kevin akan menghabisi mereka, karna mereka tau, kalau Kevin marah maka akan sangat menyeramkan sekali.


"sebaiknya yang lain istirahat aja, biar beberapa orang saja yang disini, dan nanti malam bisa gantian"ucap dari salah satu bodyguard.


"benar sekali, sebaiknya hanya beberapa orang saja disini"balas yang satunya, sedangkan yang lainnya hanya mengangguk tanda setuju, lalu mereka meninggalkan lahan itu, tersisalah beberapa bodyguard yang menjaga Rangga.


"tolong, aku harus sekalinya"ucap Rangga, yang memang saat ini benar-benar sangat haus sekali.


"berikan sjaa dia minum, nanti dia langsung meninggal, bukan kah tuan Kevin tidak ingin dia terlalu cepat mati"


"baiklah aku ambilkan Aqua di dalam duluh"ucapnya lalu masuk ke dalam markas.


"harusnya anda berpikir sebelum bertindak, harusnya anda mengenali lawan anda, sehingga tidak membuat anda tersiksa, gimana rasanya menggalih kuburan sendiri..?"ucap slaah satu bodyguard menatap miris keadaan Rangga, yang dimana bentuk wajah yang sudah tidak berbentuk lagi dan darah yang mengalir di wajah dan kepalanya mengering dengan sendirinya, bahkan mereka dapat pastikan bahwa luka itu sudah infeksi.


Sedangkan Rangga hanya diam saja, ia benar-benar tidak mampu hanya sekedar berdebat sja, entah semakin lama ia merasa tubuhnya semakin mengecil, dan ia juga mulai kesusahan bernapas.