Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 52


Sementara disebuah apartemen Kevin baru saja membuka matanya, setelah mabuk berat kemarin pihak club mencoba menghubungi teman atau saudara Kevin Mahendra, dan Alhasil mereka menghubungi Devan.


"sudah bangun Lo..?"tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"kok gue bisa disini..?"alih-alih menjawab Kevin malah bertanya balik.


"kami pikir aja sendiri, terakhir kamu kemana dan berakhir dengan apa"ucap Devan sambil mengerikan rambut, sedangkan Kevin hanya diam saja sambil mengingat kemna dia terakhir dan sedang gapain kenpa bisa berakhir di apartemen Devan.


"aku terakhir ke club dan mabuk berat"ucap Kevin pelan.


"sejak duluh club yang kita hindari dan sekarang kau malah bermain di club, jangan sampai kamu kecanduan Vin karna itu tidak baik buat kesehatan kamu"ucap Devan.


"sorry Van, tapi pada saat itu aku benar-benar pusing dan emosi"ucap Kevin mengacak rambutnya.


"pusing dan emosi pasti ada penyebabnya, ayo cerita lah"ucap Devan duduk disamping Kevin yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Dewi meminta cerai dariku, dan aku ngk mau itu terjadi Van"


"di saat aku menetapkan hatiku kepadanya dan di saat aku mulai belajar mencintainya tapi kenapa dia malah meminta cerai dariku, aku benci ketika mulut dia dengan lantangnya meminta cerai dariku"ucap Kevin menunduk kepala.


"umumnya perempuan itu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang lemah, tapi sekarang perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling kuat, kenapa mereka bisa kuat..?jawabannya karna faktor keadaan, karna faktor keadaan perempuan di tuntun untuk menjadi wanita kuat, wanita karir bahkan wanita mandiri"


"mungkin duluh waktu Dewi sering kau siksa dia lemah, dia menurut saja hal itu membuatmu berpikir Dewi akan menurut terus kepadamu, tapi tanpa sepengetahuan mu dari kelakuanmu selama ini kepada dia membuat dirinya berlatih menjadi lebih kuat. Hingga pada saat ini Dewi sudh kuat, dia bisa hidup sendiri, dia bisa berdiri pada kakinya sendiri, dan supaya Dewi bisa berdiri pada kakinya sendiri dia meminta cerai darimu dan dia meminta supaya kamu melepaskan nya"ucap Devan.


"jika kita mengingat kebelakang pantas kah kamu mengikat Dewi lagi..? pantaskah Dewi bertahan bersama kamu...? ingat kembali Vin, mulai dari kamu memaksa dia menikah dengan kamu sampai kamu menyiksa dia sehingga membuat dia masuk rumah sakit, Kristis bahkan sempat meninggal dunia, Tuhan baik masih memberi dia kesempatan untuk hidup itu artinya perjuangan Dewi belm selesai bukan"ucap Devan lagi.


"iyh aku tau aku slaah, dan itu sebabnya aku ingin memperbaiki semuanya, ingin memulai dari awal dan aku juga ingin meminta saran, jalan keluar dari Lo, bukan mau dengar ceramah Lo"ucap Kevin kesal, bukannya memberi jalan keluar Devan malah menceramahi nya.


"cocoknya Lo jadi ustadz bukan dokter, lari haluan namanya"ucap Kevin lagi.


"kalau aku jadi ustadz ngk bakal mau aku temanan sama manusia laknat seperti Lo"ucap Devan tak kalah kesal.


"Ayo sudah kasih aku solusinya"ucap Kevin.


"kamu seriusin dia, maksudnya bunda kan belm tau pernikahan kalian, jadi kamu kenalkan dia ke bunda, dan satu lagi Dewi itu masih milikmu seutuhnya"ucap Devan.


"iyh memang Dewi milikku seutuhnya trus hubungannya apa"ucap Kevin bingung.


"buatlah dia supaya terus bersama mu dengan cara menghamili Dewi"ucap Devan senyum menggoda Kevin, ia tau kalau Kevin belm menyentuh Dewi seinci pun.


"kamu gila masak aku harus hamilin Dewi duluh,"ucap Kevin tak terima.


"kenapa tidak, dia istrimu jadi hal yang wajar jika dia hamil anakmu"ucap Devan kesal.


"trus cara menghamilin dia kayak mana, aku pebisnis bukan seorang dokter yang bisa menghamili orang"ucap Kevin dengan polos.


"kamu kurung dia di kamar mandi tiga hari tiga malam, nanti pas keluar Dewi sudh hamil dengan perut besar"ucap Devan kesal yang mendapati pemikiran Kevin yang kadang lodingnya lamanya.


"emng bisa seperti itu.? teori dari mna itu.?"ucap Kevin lagi.


"teori dari Saipul Jamil bin sukarno kevinnn"ucap Devan menatap tajam Kevin "iyh kau sama Dewi berhubungan badan Kevin, lalu kau tinggalkan cairahmu di dalam rahim Dewi"ucap Devan lagi.


1 detik


2detik


3detik


"kenapa ngk ngomong dari tadi, jadi ngk berbelit-belit begini kan, bikin pusing aja kamu"ucap Kevin setelah paham.


"makaya otakmu ini jangan tentang bisnis terus, kalau soal bisnis otak mu tidak pernh kalah"


"kan aku sudh bilang tadi Kevin, otakmu aja yang belm sampai kesna, makaya jangan menikah kalau umur belm mencukupi"ucap Devan kesal sudah sampai di ubun-ubun.


"OOO"


Sedangkan Kevin hanya ber o ria aja tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Auh ahh, aku berangkat duluh, pusing lama-lama berbicara smaa kamu"ucap Devan meninggalkan Kevin.


"antar aku kerumah sakit duluh, hari ini Dewi pulang"ucap Kevin mengejar Devan.


"punya asisten kan, tau gunanya asisten itu buat apa..?"tanya Devan masih mode kesal.


"Daffa hari ini menghendel kantor, aku ngk mau menganggu dia"ucap Kevin beralasan.


"trus kalau aku subuh-subuh bisa kamu ganggu ngituh"ucap Devan menyindir Kevin.


Sedangkan Kevin hanya mengangkat bahu sambil membuka pintu mobil Devan.


"aku masih bisa dengar Van, ayo jalankan mobilnya"ucap kevin datar.


"iyh tau situ punya telinga tajam"ucap Devan sambil masuk ke kursi kemudi lalu menutupnya dengan kasar.


"kamu marah..?"ucap Kevin


"menurut gana aku sedang apa..?"tanya Devan kesal.


"kesal"jawab Kevin lagi.


sedangkan Devan langsung melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen, berdebat dengan Kevin tidak ada habisnya.


"klau aku bikin Dewi hamil, trus bagaimana dengan Rangga, dan bagaimana tentang hubungan mereka.?"tanya Kevin tiba-tiba.


"sejak kapan kamu memikirkan hubungan orang lain..?sejak kapan kamu memikirkan nasip orang lain..?"tanya Devan baliknya.


"Rangga itu teman kita jamet"ucap kevin


Sedangkan Devan diam tidak menangkapi ucapan Kevin, lebih baik dia segera mengantar Kevin kerumah sakit, karna semakin lama mereka bersama, semakin lama juga mereka berdebat, susah memang kalau otak ini tidak sejalan.


"sudah sampai turun Lo, bikin gue telat aja"ucap Devan menghentikan mobilnya.


"Lo telat tetap dibayarkan..?lupa Lo kerja dirumah sakit siapa .?Lo kerja dirumah sakit dibawah naungan gue"ucap kevin.


"turun sudh, aku ada jadwal operasi sebentar lagi"ucap Devan.


"maksih tumpangan, ngk usah jemput gue lagi"ucap Kevin sambil turun dari mobil.


"siapa juga yang mau jemput Lo, ngk ada untung buat gue, ruginya malah banyak"ucap Devan kesal langsung melajukan mobilnya.


Sedangkan Kevin langsung masuk ke dalam rumah sakit, tujuannya sekarang adalah ruang rawat inap Dewi, karna mulai kemarin sore dia sudh meninggalkan gadis itu, terakhir yang ia dapat infonya bahwa Dewi sudh mulai berjalan normal itu pun dapatnya dari Daffa.


Sampai di dalam ruangan Kevin sedang melihat Dewi sedang sarapan makanan rumah sakit.


"udah mulai baikan..?"tanya Kevin sambil melepas jas dan meletakan di pinggir ranjang Dewi.


"dari mana..?"bukannya menjawab Dewi malah bertanya balik.


"dari rumah,!!dari mana lagi..?"ucap Kevin hendak mengambil alih sendok makan Dewi, lalu ia pun menyuapi Dewi dengan telaten.


"kamu emang biasa minum alkohol..?"tanya Dewi sambil menerima suapan dari Kevin.


"ngk pernh minum aku"tanya Kevin menatap kedua bola mata Dewi, disnaa dapat ia lihat sebuah kekhawatiran entah saat ini Dewi sedang khawatir sama siapa Kevin sendiri pun bingung.


"atau memang kamu pakai parfum alkohol, baru tau kalau ada parfum aromanya alkohol"ucap Dewi yang mengetahui kebohongan Kevin.


"aku sudh selesai, "ucap Dewi sambil menolak suapan Kevin berikutnya.


"kamu dari mana..?"tanya Dewi lagi sambil menerima air minum dari Kevin, ia tau Kevin berbohong dan ia juga paling anti dengan kebohongan, entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu khawatir sama Kevin.


"kemarin setelah kita kelahi aku ke club, dan minum sedikit"ucap Kevin jujur.


"minum sedikit sampai aromanya tercium"ucap Dewi menatap tajam Kevin.


"ok ok, aku minum banyak dan sampai mabuk, untung ada Devan yang menjemput ku , dan tadi malam aku tidur di apartemen Devan , bangun tidur aku tidak mandi dan aku langsung kesini"ucap Kevin jujur menceritakan semua yang ia alami, Entah kenapa saat ini raut wajah Dewi lebih galak dari biasanya.


"lain kali jangan minum lagi, ngk baik buat kesehatan apalagi kamu masih mudah, masa depan mu masih panjang, jangan sia-siakan waktu mu yang hanya meminum-minum"ucap Dewi menasihati Kevin.


"lebih tepatnya masa depan kita wi"batin Kevin sambil bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, sangat tipis bahkan Dewi pun tidak menyadari hal itu.


Secara tidak langsung Dewi mengkhawatirkan nya, berarti raut ke khawatiran yang ada di bola mata Dewi itu buat dirinya.


Baru di khawatirin begitu saja Kevin sudh bahagia, ngimna kalau Dewi mau hidup bersama dengannya..?


"kapan aku pulang..?udh bosan banget"ucap Dewi lembutnya, hatinya seketika menghangat ketika melihat Kevin sudh dihadapannya.


"ini kita siap-siap mau pulang, tapi tunggu dokter duluh iyh, buat periksa sekali lagi"ucap Kevin mengelus lembut rambut Dewi.


"aku mau mandi duluh, bentar lagi Daffa antar baju ganti sama aku"ucap Kevin lagi.


"tapi aku mau jalan-jalan, keliling-keliling rumah sakit ngituh"ucap Dewi.


"iyh nanti kita keliling rumah sakit, tapi aku mandi duluh"ucap Kevin sambil masuk ke kamar mandi.


Tak lama setelah itu Daffa pun datang membawakan baju ganti buat Kevin, dan Dewi langsung menyuruhnya mengantarkan ke kamar mandi.