Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 71


Sementara di dalam kamar Kevin terus menarik paksa tangan Dewi, dan sesampai di kamar Kevin langsung menghempaskan tangan Dewi secara kasar, sehingga membuat tubuh Dewi terlempar ke sofa.


Sesaat hanya ada keheningan, Kevin yang terus menatap Dewi dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


“Kamu kenapa sih Vin..? marah-marah tidak jelas”ucap dewi membuka suara.


“Aku kenapa kamu bilang..? kamu masih bisa bertanya aku kenapa..?harus aku yang bertanya kamu yang kenapa..?ucap Kevin menatap tajam Dewi.


“Aku tidak papa, aku biasa aja”ucap Dewi dengan polosnya.


“Aku lagi serius Dewi”ucap Kevin menekan setiap kata-kata nya.


“Emng dari tadi tuh siapa yang bercanda, emng aku kelihatan bercanda dari tadi..?perasaan aku sedang tidak bercanda”ucap Dewi masih dalam mode polos.


“kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh sih..?begitu respon kamu ketika suami mu di dekati oleh wanita lain..?”ucap Kevin.


“Lalu aku harus gapain..?apakah aku harus menangis ngituh..?atau aku teriak-teriak..?gapain juga coba, ngk penting lagi”ucap Dewi berjalan menuju balkon kamar.


“lalu kenapa kau mengaku asistenku di depan salsa..?kenapa bukan istri ku saja..?”ucap Kevin menghampiri Dewi. “Segitu tidak sudinya kamu mengakui suami seperti ku..? Segitunya kamu tidak menginginkan pernikahan kita..?”ucap Kevin, ia benar-benar marah disaat Dewi mengatakan asistennya bukan istrinya.


“Bukan begitu mak...”


“Sudahlah wi, aku capek, kamu bisa keluar dari sini, aku ingin sendiri”ucap Kevin memotong ucapan Dewi.


“Aku bisa jelaskan Vin..”ucap Dewi merasa bersalah, Yap ia akui bahwa ia memang sudh sangat-sangat salah, tapi dia punya alasan dengan semua ini, itu karna ia tau kalau nek sari akan menjodohkan mereka berdua.


“Aku mengerti wi, kamu memang tidak menginginkan pernikahan ini”ucap Kevin apa adanya, memang begitu adanya, sejak awal pun Dewi tidak menginginkan pernikahan mereka.


“Ngk ngituh maksud aku Vin”ucap Dewi sambil berjalan mendekati kevin yang sudah duduk di pinggir ranjang.


“ngk ngituh ngimna..?apa susahnya sih membuka hatimu sedikit saja buat aku wi, beri aku cela sedikit saja supaya bisa menggapai hatimu, aku tau kalau dimasa lalu aku salah, aku salah sudh menyiksa kamu, aku slaah sudh memaksa kamu menikah dengan ku, bahkan salah sudh sempat membuatmu meninggal dunia”ucap Kevin sedikit meninggikan suaranya “tapi dengan semua yang terjadi apakah kita tidak bisa memulai dari awal..?jalanin takdirmu wi hidup bersamaku, lupakan Rangga”ucap Kevin lagi, ia sudh cukup frustrasi menghadapi sikap Dewi, sikap Dewi yang membangun tembok pertahanan dalam hatinya.


“Kenapa kamu diam..?ngk bisa kan kamu menjawab pertanyaan saya”ucap Kevin menatap Dewi sekilas.


Dewi tidak menjawab pertanyaan Kevin, ia memilih pergi dari kamar itu, membiarkan Kevin sendiri, sepertinya mereka perlu waktu sendiri-sendiri saat ini.


Sedangkan Kevin hanya menatap kepergian Dewi sekilas dengan senyum tipis, untuk pertama kalinya ia jatuh cinta sama seorang perempuan, dan untuk pertama kalinya juga ia harus berjuang sekeras ini.


"sesusah itu wi"guman Kevin tersenyum hambar.


Setelah keluar dari kamar Dewi memutuskan pergi ke taman belakang, ia menatap lurus kedepan, tenggelam dalam lamunannya pikirannya jauh menerawang jauh ke depan, kata-kata kevin waktu dikamar terlintas dalam benaknya.


Entahlah, secara garis besarnya tidak ada nama Kevin tersimpan dalam hatinya, secara garis besarnya ia tidak mencintai kevin, tapi ketika mengingat ucapan Kevin tadi dan status mereka saat ini apakah ia harus belajar mencintai Kevin..?apakah ia harus merobohkan tembok yang selama ini ia bangun supaya tidak terbawa perasaan kepada Kevin, padahal tidak dapat di ganggu gugat nama rangga masih ada di hatinya.


“sejak kapan kau berhubungan dengan Kevin cucu saya..?”tanya nek sari membuyarkan lamunan Dewi.


“Kenapa..?”tanya Dewi singkat.


“Kamu kasih apa kepada cucu sya, kenapa dia bisa bertekuk lutut dihadapan mu..?”ucap nek sari lagi.


“Nenek tau ngk siapa sebenarnya disini yang bertekuk lutut..?nenek tau ngk dengan cara apa Kevin membuatku supaya bertekuk lutut kepadanya..?nenek ngk tau kan!! Yang nenek lihat bawah Kevin telah bertekuku lutut kepadamu semua itu slaah, aku yang bertekuk lutut dihadapan Kevin”ucap Dewi menatap nek sari.


“Aku bisa membantu supaya kamu tidak bertekuk lutut lagi dihadapan kevin”ucap nek sari memberikan penawaran.


“Ting...”


“Tinggalkan Kevin”ucap Dewi memotong ucapan nek sari, ia tau kemana arah pembicaraan nek sari saat ini.


“iyh kamu harus meninggalkan Kevin, karna Kevin sudh sya jodohkan dengan salsa, wanita kampung sepertimu tidak cocok dengan Kevin yang berwibawa"ucap nek sari langsung ke inti.


"aku..."


"permisi nona, nyonya, sepertinya tuan Kevin sedang sakit, ia terus mengigau memanggil nama nona Dewi"ucap seorang pelayan menghentikan perdebatan mereka.


Dewi langsung berlari menuju kamar mereka.


"bi tolong antar kompres ke kamar iyh"ucap Dewi lalu memasuki litf.


Sampai dikamar Dewi melihat tubuh Kevin terbaring di kasur, tak lupa dengan mulutnya yang terus mengingau memanggil namanya.


"apakah aku sudh keterlaluan vin..?sampai kamu harus sakit sepertinya ini"batin Dewi berjlan mendekati kevin.


"Dewi"


"Dewi"


"Dewi"


ucap kevin.


"hey Vin, kamu kenapa..?aku disini"ucap Dewi sambil meletakkan tangan di kening Kevin "panas sekali"guman dewi.


"wi kamu ngk akan meninggalkan aku kan..?"ucap Kevin sendu sambil memegang tangan Dewi eratnya.


"hey siapa yang mau ninggalin kamu..?aku tidak akan meninggalkan kamu"ucap Dewi mengelus rambut Kevin dengan lembut.


"kamu mau kemana..?"ucap Kevin ketika melihat Dewi beranjak dari kasur.


"aku mau mengambil kompres saja,itu di atas meja"ucap Dewi tersenyum manis.


"sini aku kompres, kepala tidurkan di pangkuan aku"ucap Dewi lembut sambil naik ke ranjang lalu menuntun Kevin untuk meletakkan kepadanya di pangkuan dewi.


Dewi mengompres Kevin sambil mengelus lembut rambut Kevin, sesekali ia menyisir rambut itu menggunakan kelima jarinya, karna terlalu nyaman dengan perlakuan Dewi, perlahan Kevin menutup matanya, tapi tidak terlelap hanya sekedar menutup saja.


"mencintai itu mudah Vin, membuka hati itu mudah Vin, tapi mau ngimna lagi, dihati aku masih ada Rangga, laki-laki yang sudh menemani beberapa tahun belakang ini, dan tidak mungkin semudah itu aku melupakan dia, asal kamu tau Vin, aku sekali mencintai seseorang akan serius jadi sangat sulit bagiku melupakan Rangga secepat itu"guman Dewi sambil mengelus pipi kevin.


"cepat sembuh Vin, sepi kalau tidak berdebat sama kamu"ucap Dewi, entah dorongan dari mana ia menundukkan kepalanya lalu mencium sebelah pipi Kevin dan mencium kedua mata Kevin secara bergantian.


Sedangkan Kevin yang mendapati perlakuan bingung mendefinisikan ngimna rasanya, rasanya lebih bahagia ketika ia mendapatkan tender proyek yang besarnya, untuk pertama kalinya Dewi berinisiatif mencium dirinya, apakah Dewi mulai merobohkan dinding pertahanannya secara pelahan..?tapi Kevin berharap seperti itu.


Karna terlalu nyaman atau karna ingin lebih lagu Kevin memutar tubuhnya sehingga wajahnya menghadap perut dewi, ia memeluk pinggang Dewi dengan erat, sesekali ia mencium perut rata Dewi, seketika ia tersadar belum ada benih darinya yang tumbuh di dalam sana, tapi ia tidak mau terburu-buru, bisa saja ia meminta hak selama beberapa bulan ini yang tertunda, tapi ia mencoba tahan takutnya jika memaksa Dewi akan semakin benci kepadanya.


Terkejut


Itu yang di rasakan Dewi saat ini ketika Kevin tiba-tiba memeluk pinggangnya, ia juga dapat merasakan ketika Kevin mencium perut, mendapat hal seperti ini, jantung Dewi berdetak dua kali lebih cepat, darahnya seakan berhenti mengalir, tak lupa tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat, entahlah perasaan apa ini, jujur saja setiap berdekatan yang sangat intim dengan Kevin maka perasaan seperti ini terus muncul.


Kadang Dewi bingung sendiri dengan perasaan apa ini, padahal waktu bersama Rangga ia tidak pernh merasakan perasaan seperti ini.


"tubuhmu rileks aja wi, aku ngk akan macam-macam kok, tapi kalau kamu ingin macam-macam aku akan berikan"ucap Kevin sambil memeluk pinggang Dewi.


"kamu sudh sakit otakmu masih aja mesum iyh"ucap Dewi sambil memukul punggung Kevin pelan.


"mesum itu manusiawi syaang"ucap Kevin sambil mencium perut Dewi.


"iyh manusiawi, tapi kalau lagi sakit tapi pikiran mesumnya masih jalan itu bukan manusiawi lagi namanya"ucap Dewi.


"trus apa dong.."ucap Kevin.


"sudh kamu istirhat aja, kalau ngk tidur aku akan keluar dari kamar ini"ucap Dewi.


"biarkan tidur seperti ini duluh, baiklah aku akan tidur asal kamu jangan tinggalkan aku sendiri dikamar ini"ucap Kevin mengalah.


"iyh sudh tidur ngih"ucap Dewi sambil salah satu tanganya mengelus punggung Kevin maka tangan satunya menyisir rambut Kevin menggunakan kelima jarinya, sama seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya, bedanya saat ini adalah Kevin merupakan bayi ngede buat Dewi.