Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 115


Devan terus menenangkan Kevin supaya tidak mengamuk lagi, jujur sangat disayangkan sekali, persahabatan yang mereka bangun sejak di bangku SMA harus terputus karna seseorang perempuan saja.


Devan sangat kecewa dengan Rangga yang lecehkan seorang perempuan, bahkan ia tidak habis pikir ketika Rangga memacari Dewi hanya karna nafsu saja, jika mengingat pengakuan Rangga ketika mereka bertemu di cafe Devan sangat percaya sekali kalau Rangga begitu mencintai Dewi dengan tulus, padahal sejak awal persahabatan itu dibangun, mereka berjanji tidak akan mencoba-coba menyakiti hati perempuan apalagi melecehkannya.


Kalau Devan pun menjadi Kevin , akan melakukan hal yang sama mungkin saja ia melakukan lebih dari yang Kevin lakukan ketika istri kita sendiri dilecehkan oleh sahabat kita juga.


Pastinya semua suami di dunia ini tidak akan terima jika istrinya dilecehkan walaupun tidak saling mencintai smaa sekali, semua suami akan melakukan hal yang sama seperti Kevin ketika istrinya di ganggu.


Dewi


Siapa yang tidak mencintai gadis itu, gadis yang cantik kulit putih mulus, rambut hitam lebat, alis tebal dan tak lupa dengan lesung di kedua pipinya, kecantikan Dewi bertambah karna sifat baik dan lemah lembutnya wanita itu, jadi hal yang wajar jika semua laki-laki yang mengenal Dewi pasti akan langsung tergila-gila kepadanya, tidak usah munafik awal bertemu dengan Dewi saja Devan akui kalau ia sudah tertarik kepada gadis itu, tapi setelah mengingat Dewi adalah istri Kevin sahabatnya sendiri, Devan langsung mengubur rasa itu dalam-dalam.


"masukan si bajing*Ng itu ke penjara bawah tanah, jangan kasih dia makan dan minum apapun"ucap Kevin setelah dirasa dia mulai tenang.


"tapi Vin, kita harus mengobati lukanya dulu, kamu tidak melihat wajahnya penuh dengan luka, nanti bisa infeksi"ucap Devan.


"kalau kamu masih peduli kepadanya obati lukanya, tapi kamu sampai menyentuh lukanya kamu sama saja seperti ini dia, kamu sama saja membela dia"ucap Kevin sedikit mengancam Devan, bukannya apa-apa Devan adalah tipikal orang yang mudah terpengaruh apalagi ketika seseorang sudah meminta maaf, ia tidak mau Devan berpihak kepada orang yang salah nantinya.


"ok baiklah, aku tidak akan menyentuh dia, aku berpihak kepadamu"ucap Devan sambil berjalan mengikuti Kevin yang sudah keluar dari kamar itu.


Kevin langsung meninggalkan gedung tua yang mereka jadikan sebagai markas, ia menjalankan mobilnya menuju kampus, karna waktu sudah mulai siang tidak mungkin ia kantor lagi, bahkan moodnya sudah tidak baik lagi jika harus berangkat kekantor.


Untuk urusan kantor akan dia serahkan kepada Daffa.


"kamu mau ikut aku kekampus duluh kah..?atau mau aku antar ke rumah sakit duluh..?"ucap Kevin.


"aku ke rumah sakit aja lah, gapain aku harus ke kampus lagi, lagian aku sudah lulus kok"ucap Devan.


"iyh iyh kamu sudah lulus, btw mobil kemana"ucap Kevin.


"mobilku mogok di jalan***** aku naik ngojek dari sana, ngk keburu kalau mau dibawh bengkel, aku takut kamu akan menghabisi dia"ucap Devan, tanpa menyebut namanya pun Kevin sudah tau maksud dari kata si dia itu siapa.


"harus kamu tidak menghalangi aku tadi, biar aku putuskan aja sekalian lehernya, aku sudah cukup muak melihat dirinya"ucap Kevin sambil fokus menyetir.


"kamu tidak boleh seperti itu, kasihan Rangga itu, mau ngimna pun dia pernh menjadi sahabat kita"ucap Devan.


"semenjak dia menganggu Dewi, sejak saat itu juga rasa kasihanku terputus kepadanya, mata hati sudah tertutup kepadanya"ucap Kevin dingin.


Sedangkan Devan hanya diam saja, ia tidak menanggapi ucapan Kevin, karna ia tau sejak awal Kevin tau Dewi berpacaran dengan Rangga, sejak saat itu juga Kevin selalu sensitif ketika membahas Rangga, yang terjadi hanya perdebatan yang dimana Kevin tidak mau mengalah.


Karna larut dalam pemikiran masing-masing tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di rumah sakit.


"mau sampai kapan kamu nyaman duduk di mobil ku"ucap Kevin menyadarkan Devan "sudah sampai, turunlah aku mau ke kampus ini"


"baru numpang aja sudah sewot Lo, kalau saja mobil ku tidak mogok aku tidak akan menumpang di mobil butut mu ini"ucap Devan.


"mobilmu yang butut, buktinya bisa mogok, mobil bagus keluaran baru kayak gini kamu bilang butut"ucap Kevin tak terima "turun lah, mengotori mobilku aja kamu, sepertinya aku akan mencuci mobilku pakai kembang tujuh rupa"


"kamu pikir aku makhluk halus, makaya kamu sebut kembang tujuh rupa"ucap Devan langsung turun dari mobil, sebenarnya ia tidak marah sama Kevin, cuma setelah memeriksa ponsel bahwa ada kabar pasien darurat yang harus ditolong.


Setelah Devan turun dari mobil, Kevin langsung melajukan mobilnya menuju kampus.


"maksih Van, maaf aku tidak bisa menjemput mu nanti"teriak Kevin mengecek Devan.


"ngk usah Lo jemput, gue ngk sudi pakai naik mobil Lo"teriak Devan.


"dasar anak itu, punya sahabat kok ngk ada jelas-jelasnya"guman Devan menatap mobil Kevin yang semakin jauh.


Setelah sampai di kampus, Kevin langsung menuju kelasnya, karna beberapa saat lagi mata kuliah akan segera dimulai.


Sebelum ke kelasnya dengan tidak ada kerjaannya Kevin segaja berjalan menuju kelas Dewi, padahal kelasnya berada di lantai dua sedangkan kelas Dewi berada di lantai tiga.


"kenapa si mantan sialan itu selalu menatap Dewi begitu, kayak tatapan nafsu anjir"guman Kevin karna melihat Kleven menatap Dewi terus.


"Kevin, gapain disitu nak, kan kelas kamu dibawah"ucap dosen.


"ehh ibu, udah lama disini..?saya cuma melintas aja tadi Bu"ucap Kevin.


"sejak dua puluh lima tahun yang lalu ibu sudah ngajar disini vin"ucap dosen


"maksudnya sudah lama berdiri disitu Bu, bukan mengajar di kampus ini"ucap Kevin.


"mau gapain disini, jauh betul kamu bermain dari lantai dua ke lantai tiga"ucap dosen.


"biasalah Bu, gapain lagi kalau ngk lihat si ibu negara"ucap kevin karna pada dasarnya sudah hampir semua dosen tau kalau Dewi adalah istrinya, itulah sebab para dosen tidak bisa menyentuh Dewi.


"tinggal satu rumah kan, tidur satu ranjang kan, tiap hari bertemu kan, trus gapain dikampus aja harus dibuntuti"ucap dosen tak habis pikir dengan tindakan Kevin.


"iyh mau ngimna lagi Bu, mahasiswi ibu yang satu ini ngangenin sih Bu"ucap Kevin.


"dasar kamu itu, mucil"ucap dosen "sana kembali ke Kelasmu, ngk bakal hilang istri mu itu"ucap dosen.


"istri sya cantiknya kebangetan Bu, makaya saya sangat takut kalau dia hilang"ucap Kevin.


"Kevin"ucap dosen gemas "kembali ke kelasmu sekarang"


"iyh Bu, iyh, ini mau kembali ke kelas kok"ucap kevin, sedangkan dosen hanya mengeleng melihat tingkah Kevin sangat mucil sekali, berbeda ketika Kevin berpakaian jas kantor, maka sikap Kevin tidak akan tersentuh


Jika sedang berada dikampus seperti ini, maka Kevin akan seperti mahasiswa pada umumnya. Mucil terhadap dosen, mucil terhadap teman-temannya, tapi semua itu masih batas wajar saja.


"baik anak-anak, mata kuliah hari ini sampai disini duluh, sampai jumpa di Minggu depan dengan semangat baru"ucap dosen yang mengajar dikelasnya Dewi.


Semua mahasiswa keluar dari ruang kelas tak terkecuali Dewi, karna sejak kelas dimulai Dewi sangat risih sekali karna kleven terus menatap dirinya.


"Dewi kita perlu bicara berdua"ucap kleven berlari mengejar Dewi.


"mau bicara apa lagi sih ven, kita ngk pernh akrab, jadi tolong jangan sok kenal smaa gue"ucap Dewi mempercepat langkahnya.


"tapi ada sesuatu hal yang harus kita bicarakan wi, kita harus meluruskan kesalahan pahaman ini"ucap kleven menahan tangan Dewi.


"ngk ada yang salah paham ven, dan tidak ada yang harus diluruskan"ucap Dewi menghempaskan tangan kleven dari tangannya.


"kamu salah paham Dewi, semua bisa aku jelaskan"ucap kleven.


"stop ven, Lo jangan pernh sentuh gue, gue sudah bilang kan, kita tidak pernh akrab, jadi jangan sok paling akrab sama gue, paham"ucap Dewi dingin lalu meninggalkan tempat itu.


"Dewi, kamu ngk bisa seperti ini terus dong, kamu tidak bisa menghindar terus dari aku, sampai kapan kamu akan menghindar wi"ucap kleven masih terus mengejar Dewi, bahkan mahasiswa lain menatap mereka bingung.


"Dewi tolong kasih aku waktu sebentar saja, aku bisa jelaskan semuanya, kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan"ucap kleven tak kenal lelah masih terus mengejar Dewi.


"ngk ada yang perlu dijelaskan lagi, lagian mau seperti apapun kejadiannya aku tidak peduli lagi ven, jadi tolong jangan nganggu aku lagi"ucap Dewi mencoba memohon kepada kleven, karna baru beberapa hari ini ia satu kampus dengan kleven, Dewi sudah merasa risih sekali, kalau tidak karna mengejar sks mungkin Dewi akan mengambil cuti, atau bisa ia berhenti kuliah.