
Kevin langsung meninggalkan Icha yang terus memanggil namanya, sebelm masuk kekamar lebih duluh ia berjalan menuju ruang kerjanya hanya sekedar memeriksa perkembangan perusahaan yang sudh ia tinggalkan hampir seminggu lebih karna ia terus memantau perkembangan Dewi.
"kenapa di perusahaan xxxxxx pengeluaran lebih besar dari pada pemasukkan"ucap Kevin melalui sambung telepon.
"setelah saya selidiki tuan Herman berulah lagi tuan"
"Bangs*k, berani-beraninya ia bermain di belakangku, biarkan dia bermain nanti ada saatnya kita membongkar semua ini"ucap Kevin dengan tersenyum licik lalu mematikan sambung telepon secara sepihak.
"manusia tidak punya otak, dikasih hati minta jantung"batin Kevin.
Lagi-lagi Herman bermain dibelakang Kevin, padahal duluh Herman tiba-tiba bangkrut karna ulahnya sendiri yang suka mengambil uang perusahaan dengan jumlah cukup banyak.
Setelah memeriksa beberapa perkembangan perusahaan, Kevin pun memutuskan kembali kekamar dan mandi setelah itu ia kan segera kembali kerumah sakit.
setelah dirasa penampilan sudh mencukupi Kevin pun turun kebawah.
"tuan ngk makan malam duluh"
"ngk usah bi, sya langsung berangkat sja, Dewi tidak ada yang menjaga dirumah sakit"
"atau mau syaa bikin bekal aja tuan"
"boleh"
Sambil menunggu bibi membuat bekalnya dirumah sakit Kevin berjalan menuju ruang tamu, lagi-lagi ia melihat Icha masih disana senyum-senyum sambil bermain ponsel.
"masih betah disini..?"ucap Kevin mengambil majalah yang ada diatas meja lalu duduk sedikit jauh dari Icha.
"aku mau jelasin Vin, iyh memang duluh aku selingkuh tapi sekrang sudh ngk lagi, kami sudh lama putus"ucap Icha menjelaskan.
"kalian sudh putus..?tapi laki-laki itu datang menemui kamu ke Indonesia, dan kalian sering keluar masuk hotel xxxxxx"ucap Kevin menyindir Icha.
"kamu ngk lupakan siapa yang punya hotel xxxxx, kalau mau berduaan itu lihat tempat
duluh Cha"ucap Kevin sambil membaca majalah tanpa menatap Icha.
"kamu sa.."
"tuan ini bekalnya"
Ucapannya Icha terpotong karna kedatangan bibi mengantar bekal buat Kevin.
"saya berangkat bi"ucap Kevin menerima bekal dari bibi.
"Vin kemana aku ikut"ucap Icha menarik tangan Kevin.
"kemana aku bukan urusanmu, kamu boleh menganggap kalau kita masih pacaran, tapi aku sendiri menganggap kita tidak punya hubungan lagi"ucap kevin menghempaskan tangan Icha.
"Vin kasih aku kesempatan, aku ingin ikut bersama mu kemana pun"ucap Icha
"apakah aku siap melihat aku bersama siapa nantinya..?kalau belm siap saya sarangkan jangan dulh"ucap Kevin meninggalkan Icha.
"aku pastikan kamu akan menjadi milikku seutuhnya Vin, seperti apa perempuan yang bisa membuatmu bertekuk lutut dihadapan"guman Icha sambil berjaln meninggal rumah Kevin.
Ketika dihalaman rumah Icha melihat mobil Kevin melaju dengan kecepatan tinggi, ia yakin kalau Kevin sedang mengejar seseorang yang sangat spesial, tapi ia tidak berniat mengikuti Kevin, ia harus menyusun rencana kedepannya.
Saat ini ia tidak peduli siapa perempuan yang berhasil merebut Kevin darinya, yang harus ia pikirkan bagaimana caranya ia membuat Kevin kembali bertekuk lutut dihadapan.
####
Sampai dirumah sakit Kevin langsung berlari menuju ruangan Dewi, karna info yang ia dapat tadi sebelum berangkat dari rumah kalau Dewi sudh sadar.
Sampai di ruangan Dewi, Kevin melihat dan benar-benar nyata kalau Dewi sudh sadar dan membuka matanya Dewi sempurna.
"kamu sudh sadar"ucap Kevin bahagia hendak memengang tangan Dewi tapi dengan sigap Dewi langsung menghindar tanda ia tidak mau disentuh oleh lelaki itu.
"gapain..?"tanya Dewi dingin membuang pandangannya.
"menurutmu..?"tanya Kevin balik yang sudh menyadari sikap dinginya Dewi.
"pergilah, biarkan aku sendri, Taukan pintu keluar dimana..?"ucap Dewi dingin.
"aku tidak akan pergi kemana-mana wi"ucap Kevin.
"aku minta maaf wi, gara-gara perbuatan ku membuat kamu terbaring lemah disini, aku tau aku slaah dan aku ingin memperbaiki semuanya dan memulai dari awal, please maafkan aku dan kasih aku kesempatan wi"ucap Kevin berusaha meraih tangan Dewi tapi lagi-lagi si empedu berusaha menghindar.
"kamu tidak usah minta maaf, mungkin tubuhku aja yang belm kuat menerima perlakuan kamu, tidak ada yang perlu di perbaiki dan tidak ada yang perlu dimulai, yang ada kita akhiri semua ini Vin sudahi dendammu kepada keluargaku aku sudh capek vin, hentikan semua ini"ucap Dewi menatap Kevin sekilas.
"tidak ada yang harus diakhiri Dewi, bahkan dari segimnaa pun tidak ada yang harus diakhir"ucap Kevin menekan setiap kata-katanya.
"izinkan aku pergi Vin, izinkan aku mencari jalan hidupku, lepaskan aku mungkin setelah kamu melepaskan aku, aku akan pergi sejauh mungkin jika itu bisa membuat dendammu menghilang, aku juga akan melepaskan dunia pendidikan ku bahkan aku akan melepas apa yang ku punya saat ini"ucap Dewi memohon kepada Kevin.
"aku tidak akan mengizinkan kamu pergi kemana pun, bahkan aku tidak akan melepaskan kamu barang sedikit pun wi"ucap Kevin mengelus rambut Dewi dengan lembut.
"wi tolong, maafkan aku, aku menyesal wi"ucap Kevin sendu.
"aku butuh orang yang bisa nolongin aku Vin, bukan orang yang minta tolong kepadaku, maaf untuk kali ini aku egois, dan tolong pergi dari sini aku butuh waktu sendiri"ucap Dewi dingin, membuang tatapan kearah lain.
"ngk papa kalau kamu mau dingin sama aku wi, aku bisa terima kok, tapi satu hal yang harus kamu tau aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi, karna kamu hanya milik"ucap Kevin mengusap lembut rambut Dewi.
"kamu istirahat iyh, aku mau keluar sebentar ada urusan"ucap Kevin sambil mencium kening Dewi.
"ketika kamu bersikap lembut padaku seakan aku adalah wanita paling bahagia Vin, tapi ketika kamu bersikap kasar seakan aku tidak mengenal siapa dirimu bahkan aku terkadang lupa kalau kita sudah mempunyai ikatan"batin Dewi menatap punggung kevin yang semakin menjauh dari jarak pandangannya.
Setelah memastikan Kevin pergi akhirnya Dewi memutuskan istirahat, tapi ketika matanya tertutup lain hal dengan pikiran yang selalu tertuju kepada perubahan sikap Kevin yang tiba-tiba bersikap lembut.
"apa yang terjadi selama ini, hingga aku begitu terkejut mendapati sikap Kevin yang begitu lembut kepadaku,"batin Dewi masih mencoba mengalihkan pikiran buruknya dari perubahan Kevin.
Jangan salah jika Dewi mulai saat ini selalu berpikiran buruk dengan Kevin, ketika mengingat perlakuan Kevin kepadanya membuat pikiran buruk itu muncul begitu saja, semua yang terjadi kepadanya itu semua karna perbuatan Kevin yang selalu menyiksanya.
Larut dalam pemikirannya akhirnya Dewi terlelap dengan sendirinya.
Setelah dirasa Dewi mulai terlelap dan tidak gelisah lagi Kevin pun memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Dewi, Sebenarnya Kevin tidak benar-benar ia hanya membiarkan Dewi waktu untuk sendiri, karna ia juga sadar Dewi terkejut melihat perubahan sikapnya.
Yang duluh kasar terhadap Dewi, berbeda dengan sekarang dimana Kevin bersikap lembut, tapi tak dapat di pungkiri semua itu tulus dari hatinya ia memang sudh berniat untuk memperbaiki semuanya dan memulai dari awal bersama Dewi membentuk keluarga kecil mereka.
"izinkan aku untuk memulai dari awal wi, izinkan aku untuk belajar mencintai kamu wi"ucap Kevin sambil mengelus pipi Dewi dengan lembut.
"istirahat sayang"bisik Kevin ditelinga dewi.
Akhirnya kevin pun memutuskan duduk disamping tempat tidur dewi, memandangi wajah tenang Dewi, terlalu asik memandang wajah akhirnya Kevin terlelap dengan sendirinya sambil memegang salah satu tangan Dewi.
###
Suara azan subuh membangunkan Dewi, ketika jarum pendek menunjukkan angka empat Dewi pun terbangun.
Sejenak ia merasa tangan terasa kesemutan sepertinya tangan sedang menopang beban berat, Dan yah benar sekali tangan Dewi sedang menopang wajah Kevin.
Sejenak ia memandang wajah lekat Kevin, begitu sempurna dan tampan karya ciptaan Tuhan, entahlah ibunya Kevin menginap apa waktu mengandung dirinya sehingga melahirkan anak sepertinya Kevin yang begitu tampan.
Ia tidak berniat membangunkan Kevin, tapi secara perlahan menarik tangannya dari bawah wajah Kevin, secara perlahan tapi sangat pasti.
Sedikit demi sedikit tangan itu mulai terlepas dan ketika hampir terlepas..
"sudah bangun,"ucap Kevin karna merasa ada pergerakan.
"mm"jawab Dewi dingin.
"ini masih terlalu pagi untuk bangun, tidurlah lagi"ucap Kevin lembut sambil melihat JM tangan yang melingkar ditangannya.
"aku mau kekamar mandi, lagian aku juga mau sholat"ucap Dewi tanpa menatap Kevin, lagi-lagi ia belm bisa menatap wajah Kevin secara langsung.
"OOO biar aku bantu"ucap Kevin hendak mengangkat tubuh Dewi.
"tidak usah Vin, aku bisa sendiri kamu lanjut tidur aja lagi"ucap Dewi.
"kamu baru sembuh dari kritis dan biasanya orang yang kritis lama itu akan belajar berjalan lagi, emng kamu mau belajar jalan sepagi ini..?"ucap Kevin yang memang benar adanya.
Sedangkan Dewi hanya mengeleng, memang dia akui kakinya memang masih sangat kaku sekali, bahkan hanya sekedar di gerakan saja kakinya terasa sangat berat sekali.
"baiklah, tolong bantu aku kekamar mandi"ucap Dewi.
Kevin langsung mengangkat tubuh Dewi ke kamar mandi, sedangkan Dewi langsung mengalukan tangannya dileher Kevin karna takut jatuh.
"gapain masih disitu..?"tanya Dewi yang melihat Kevin masih berdiri diambang pintu.
"nungguin kamu lah, gapain lagi"ucap Kevin menatap Dewi.
"anunya ngk bakalan keluar kalau ada orang yang nungguin, kamu keluar aja nanti aku panggil kalau sudah selesai"cicit Dewi malu-malu, bisa-bisanya Kevin melihat dia ingin buang air kecil.
"anu apa..?"tanya Kevin mengkerutkan keningnya.
"pipisnya nanti ngk bisa keluar"ucap Dewi dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
"ihh ngk papa, aku kan suami kamu dan hal yang wajar kalau suami melihat istrinya seperti itu, pipis aja sudh"ucap Kevin masih belm mengerti arah obralan Dewi.
"tapi airnya nanti ngk bakal keluar Vin"ucap Dewi mulai kesal.
"sudh di coba ngk..?kamu aja belm buka celana kok tau dari mana ngk bisa keluar"ucap Kevin bingung,
"iyh masak aku buka celana dihadapan kamu sih"ucap Dewi.
"ngk papa kan suami istri juga"ucap Kevin.
"Kevin keluar duluh aku mau pipis na,"ucap Dewi emosi.
"ada ngituh aturan seperti itu..?"ucap Kevin yang sudh menyadari arah obralan Dewi.
"Kevin"ucap Dewi menatap tajam Kevin.
"iyh aku keluar nih, panggil kalau sudh selesai,"ucap Kevin.
"tolong carikan aku peralatan sholat iyh"ucap Dewi sedangkan Kevin hanya mengangguk.
"tapi jangan keluar dari kamar mandi sebelum aku datang"ucap Kevin.
"iyh, sudh sana keluar gih"ucap Dewi kesal.
Dan hal itu membuat Kevin terkekeh geli melihat wajah kesal Dewi, sudh hampir satu Minggu lebih ia tidak melihat wajah kesal itu dan hampir saja ia kehilangan wajah kesal itu.
Kevin memutuskan untuk meminjam peralatan sholat ke musolah yang ada di dekat rumah sakit, karna sebelmnya ia sudh memeriksa di kamar inap Dewi tidak ada peralatan sholat disana.