Permaisuri Terbuang

Permaisuri Terbuang
pria misterius


Lili " huh sudahlah toh aku kesini hanya untuk berkultivasi tidak usah membingungkan mereka " ucapnya dalam batin


Lili " baiklah terserah kalian saja , tapi bisakah kalian semua pergi karena kalian sudah membuang buang waktuku " ucapnya dengan wajah datar


mendengar perkataan Lili semua hewan menggigil ketakutan , karena mereka sudah membuat tuannya itu marah.


" maaf kan kami yang mulia karena sudah membuat anda marah " ucap mereka semua serempak


Lili " baiklah sekarang pergilah dan jangan ada yang datang kesini "


"baik yang mulia " ucap mereka serempak lagi


saat semua hewan sudah pergi termasuk Jingmi yang kembali ke cincin dimensinya Lili pun mulai berkultivasi hingga tiba tiba...


sebuah tombak yang terbuat dari angin meleset kearahnya namun ia sudah menyadarinya sejak tadi .


ia menghindar dengan walaupun matanya masih tertutup


Lili " semburan api " ucapnya dan semburan api itu mengenai tombak itu lalu hancurlah ia menjadi angin kembali .


Lili " sampai kapan kau akan bersembunyi ??" ucapnya dengan mata yang masih tertutup dan duduk dengan tenang


"ck ternyata sudah ketahuan dari tadi toh "


lalu , keluarlah seorang pria tampan dengan rambut hitam panjang dan hanfu putih polos


Lili " siapa kamu dan mau apa kau memperhatikanku dari tadi lalu menyerang ku ??"


"aku hanya penasaran bagaimana seorang gadis kecil dengan wajah dan tangan semulus itu masuk ke gunung kematian lalu dianggap sebagai tuan dari gunung kematian ini" ucapnya sang pria misterius itu dengan senyum di wajahnya


Lili pun membuka matanya dan kemudian berdiri


Lili "kau tidak perlu tahu , dan sebaiknya pergilah karena aku sedang sibuk " ucapnya dingin


Pria misterius " aku akan pergi tapi beritahu aku dulu namamu ??"dengan senyum yang masih belum pudar di wajahnya


Lili " untuk apa kau bertanya namaku ??"ucapnya sedikit curiga


Pria misterius " hanya ingin tahu " ucapnya dengan senyum yang semakin manis


Lili " hei , ayolah jangan tersenyum seperti itu kepadaku karena itu tidak akan mempan " ucapnya sambil memalingkan wajah


Lili "urghh cepatlah pergi " ucapnya sambil menahan amarah


pria misterius " sudah ku bilang beritahu namamu dulu baru aku akan pergi "


Lili " huh kau sangat mengesalkan ,baiklah nama ku Jia Li kau bisa memanggilku Lili jika kita bertemu "


di dalam batin Lili " tapi semoga kita tidak pernah bertemu lagi " ucapnya dengan geram


pria misterius " hemm seharusnya kau memberitahuku sejak tadi maka aku tidak akan menggodamu " ucapnya dengan senyum


Lili " baiklah kau sudah tahu namaku sekarang pergilah karena kau sudah membuang banyak waktu berhargaku " ucapnya dengan sangat marah namun ditahan


pria misterius " baiklah sampai jumpa " ucapnya sambil berpaling dan berjalan


namun tiba tiba ia berhenti dan berbalik


pria misterius " oh ya namaku Jianheng kau bisa memanggilku An "


kemarahan Lili yang sudah memuncak pun tidak bisa ia tahan lagi ia membuat beberapa pisau angin dan menembakkan nya kepada Jianheng itu


Lili " cepatlah pergii !!!" teriaknya yang membuat semua hewan ketakutan


sedang Jianheng hanya berlompatan di pohon pohon untuk menghindari pisau angin Lili dengan sebuah senyuman


di dalam batinnya "kita pasti bertemu lagi Jia Li " ucapnya dengan senyuman


sedangkan Lili masih marah dan mulai membuat kerusakan di gunung dan membuat para hewan hewan semakin ketakutan dan bersembunyi.


setelah ia tenang ia mulai memperbaiki kerusakan akibat dirinya itu. takut para hewan tidak bisa hidup nyaman dengan keadaan gunung yang rusak .


Jingmi " lihatlah perbuatanmu kau membuat hampir setengah gunung hancur hanya karena seorang pria " ucapnya yang masih berada dalam cincin dimensi


Lili " diamlah kau Jingmi kau membuatku semakin marah, dan bukankah aku sudah memperbaiki semuanya " ucapnya yang masih marah


Jingmi " hemm benar juga baiklah lanjutkan kultivasimu karena waktu kita sangat singkat tersisa 4 hari lagi, kau harus kembali ke pengasingan dan bersiap siap ke kerajaan "


Lili " hemm kau benar . baiklah aku akan melanjutkan kultivasiku dan sekarang kau diamlah dan jangan mengganggu ku "