
Jam di dinding menunjukkan pukul Sembilan malam. Dista masih tampak gelisah, mondar mandir menunggu suaminya pulang. Meskipun sebenarnya ia enggan melakukan itu, tapi Dista telah berjanji pada mama mertuanya untuk belajar menjadi istri yang baik.
Dista menatap meja makan yang terlihat penuh dengan aneka makanan yang sudah ia masak. Ia sangat berharap Daffa akan mencicipinya walau secuil.
Tak terasa malam semakin larut. Gadis malang itupun tertidur di sofa ruang tamu.
Cekleek…
Pintu terbuka, Daffa mengedarkan pandangannya kearah Dista yang tertidur pulas. Matanya membulat saat melihat meja makan dari kejauhan tampak penuh dengan makanan favoritnya.
“Kenapa ada makanan sebanyak ini? Dan semua kesukaan ku…” Daffa tampak bingung.
Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya. Membuka pintu dan memasuki kamar menuju ranjangnya. Tapi ia merasa tak enak hati dan kembali melangkah keluar.
Daffa mendekat kearah Dista, tak tega membangunkan gadis itu Daffa pun berinisiatif menggendongnya ke kamar.
Pukul 06.00 pagi Dista terbangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
“ah.. sudah pagi” Dista melompat dari ranjang. Tak berapa lama ia tersadar “ Bukankah semalam aku berada di ruang tamu. Kenapa bisa ada disini??” ia benar-benar bingung.
Dista segera masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit membersihkan diri ia keluar menuju dapur.
“Jangan sampai kena semprot lagi” ucap Dista dengan mendengus kasar.
Dista segera membereskan meja makan yang tak sempat ia bereskan semalam. Bahkan makanan yang ia masak pun tak tersentuh sama sekali.
“Aku harus buru-buru masak untuk sarapan sebelum serigala bermuka tampan itu menerkam ku” gumam Dista.
Sambil membuka hape dan mencari video tutorial memasak ia membuka kulkas. Setelah menemukan video yang ia cari, Dista segera mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia eksekusi dari dalam kulkas.
Tiba-tiba ia teringat “ Bukankah mas Daffa tidak pulang semalam. Ya sudahlah… setidaknya aku akan memasak untuk diriku sendiri. Itung-itung belajar “
Dista tersenyum merasa sangat konyol.
Setelah 30 menit berlalu, akhirnya Dista menyelesaikan masakannya. Ia buru-buru menaruhnya di meja makan.
“Sebaiknya aku mandi dulu, baru sarapan.” Dista melangkah menuju kamarnya tapi kemudian ia berhenti. “ Apa aku cek kamar mas Daffa ya… apakah dia benar-benar tidak pulang semalam.”
Dista mengayunkan langkahnya menuju kamar Daffa. Saat ia berada tepat di depan pintu kamar Daffa tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Dista sangat terkejut dan berteriak “ Aaaa….”
Daffa menutup telinganya yang serasa budek mendadak. “ Apa yang kamu lakukan??” Daffa tampak kesal.
“ Maaf mas, aku kaget. Tiba-tiba mas Daffa membuka pintu.”
“ Mau apa ke kamarku??” Tanya nya lagi.
“Aku pikir semalam mas Daffa gak pulang. Aku Cuma mau ngecek kamar mas Daffa aja.”
Daffa berlalu dari hadapan Dista. Ia menuju dapur, dilihatnya di meja makan ada nasi goreng.
“apa kamu yang masak??” Tanya Daffa.
“i..iya mas. Silahkan Mas Daffa coba, aku baru belajar dari youtube” Dista tersipu malu tapi juga khawatir kalau masakannya akan mengecewakan.
“ Kemarin aku juga belajar masak sea food dari mama mas”
Daffa melirik kearah Dista “ Kamu gak ikut sarapan??”
“IYa mas” Dista buru-buru menuju dapur dan mengambil nasi goreng dari wajan. Tak berapa lama ia telah duduk di samping Daffa.
Dista memperhatikan wajah Daffa, ia sangat penasaran bagaimana pendapat Daffa tentang nasi goreng buatannya. Meskipun sebelumnya Dista pernah masak nasi goreng, tapi kali ini berbeda. Ia menambahkan bumbu, sayuran dan udang sesuai video yang ia tonton.
“Bagaimana mas rasanya?? “ Tanya Dista penasaran.
“Lumayan.” Jawab Daffa tanpa menoleh kearah Dista.
“Hemm…” Dista tersenyum, setidaknya Daffa mau memakannya meskipun rasanya masih belum bisa dikatakan lezat.
Setelah keduanya selesai sarapan Daffa bergegas pergi ke kantor. Sedangkan Dista masuk kamarnya untuk mandi. Rencananya hari ini ia akan di apartemen saja.
Selesai mandi dan mengganti pakaiannya Dista merebahkan tubuhnya di atas Kasur.
“Hemm… hanya dengan memasak sarapan untuknya saja, pagi ini terasa cerah tanpa Omelan serigala tampan!” gumam Dista sambil nyengar- nyengir. “Aku yakin hati mas Daffa pasti baik.”
Derrtt…
Handphone Dista berbunyi. Dilihatnya ternyata rentenir yang meneleponnya.
“Hallo…”
“Kapan kamu bayar hutang mu?? Jangan pura-pura lupa apalagi menghindar dari ku." Suara diseberang telepon.
“Ma..maaf pak. Saya akan melunasi hutang saya hari ini juga.” Jawab Dista pasti.
“Banyak duit kamu sekarang. Aku tunggu di tempat biasa.”
“Baik pak” jawab Dista.
Dista buru-buru menuju lemari pakaiannya. Ia membuka sebuah tas berisi uang mahar yang diberikan Daffa untuknya. Segera dibawanya uang itu.
Dista menunggu ojek online pesanannya. Tak berapa lama sebuah motor menghampiri Dista.
“Dengan mbak Dista?” Tanya driver ojol.
“ Iya pak.” Dista segera naik “ sesuai aplikasi ya pak.” Perintah Dista.
“ Baik mbk”
Tanpa Dista sadari ada seseorang yang memanggilnya berkali-kali.
“ Ikuti dia pak” perintah wanita itu kepada sopirnya.
“ Baik bu.”
Lima belas menit kemudian Dista sampai di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat kostnya dulu. Dista mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki yang telah menunggunya. Ia segera mendekati laki-laki itu.
“selamat pagi pak.” Ucap Dista.
“Pagi Dista… kamu yakin akan melunasi hutangmu yang begitu banyak.” Ucap Tony tanpa basa basi. Ia adalah rentenir yang memberikan pinjaman kepada Dista.” Ayo duduk”
“Makasih pak” jawab Dista. “ Iya saya akan melunasi hutang saya hari ini.”
“ Kamu mau minum apa??”
“ Tidak usah pak.. saya tidak lama. Ini uangnya, bapak bisa menghitungnya terlebih dahulu.” Jawab Dista sambil menyodorkan tas yang ia bawa.
Tony membuka tas tersebut dan melihatnya sekilas. “ aku percaya padamu, selama ini kamu selalu bersikap baik meskipun beberapa kali terlambat membayar bunganya.”
“Kalau begitu saya permisi pak.. dan urusan kita selesai sampai disini.”
“Kalau kamu butuh bantuan lagi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya" ucap Tony sambil tersenyum.
“terima kasih pak”
Sampai di depan cafe Dista dikagetkan oleh suara seorang perempuan yang sangat familiar.
“ Dista.. apa yang kamu lakukan disini?’
“ Mama…” Dista tampak terkejut dan tidak menyangka akan bertemu mertuanya disini. “ aku hanya bertemu teman sebentar ma”
“Kamu yakin hanya teman..?” Tanya mama Ratih penuh selidik.
“ Iya ma..”
“ Kamu jangan bohong Dista, mama tadi lihat kamu menyerahkan sejumlah uang kepada laki-laki itu. Ayo jelaskan pada mama..”
Degg….
Dista gugup, entah apa yang harus ia katakan. Apakah mertuanya itu akan percaya dengan penjelasan Dista. Atau akan berpikir buruk karena memergokinya bersama lelaki lain. Batin Dista berkecamuk.
“ Ikut mama.. kamu jelaskan di mobil.”
Keduanya berjalan menuju mobil. Dista tampak sangat gugup.
“ayo katakan Dista, mama mau dengar penjelasan kamu.” Nyonya Ratih tampak tidak sabar menunggu apa yang akan keluar dari mulut Dista.
“ i..itu ma, “ Dista menggantung ucapannya. Ia masih bingung harus memulai dari mana.
“ Sebenarnya pria itu adalah rentenir ma.” Ucap Dista.
“ Apa…” Nyonya Ratih tampak kaget. “ Bagaimana mungkin kamu bisa berurusan dengan rentenir??”
Bersambung…..