
"Sekarang juga, kamu saya pecat!" suara lantang seorang wanita yang merupakan manager cafe.
"Ta..Tapi bu! Saya mohon jangan pecat saya bu.. Maafkan kesalahan yang telah saya buat, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Dista dengan suara bergetar.
"Kamu mau membuat cafe ini bangkrut!!" bentak sang manager masih dengan nada tinggi. "Belum genap seminggu, sudah berapa banyak piring dan gelas yang kamu pecahkan?!"
"Sekali lagi saya mohon maafkan saya bu!" mohon Dista.
"Keputusan saya sudah bulat, sekarang juga kamu pergi tinggalkan cafe ini!" bentak sang manager sambil menunjuk sebuah pintu.
Dista berjalan lunglai meninggalkan cafe. Baru juga 5 hari bekerja di cafe itu, tapi aku sudah dipecat.. Gerutunya dalam hati.
Gadis belia itu mengayunkan langkah kakinya tanpa tujuan pasti. Dalam benaknya berseliweran pertanyaan, kemana lagi aku harus mencari kerja? dengan apa aku harus membayar hutang-hutangku? "Hahh..." Dista menghela nafas.
Ccciiiitttt.....
"Aaaggghhh...." Teriak Dista kaget.
"Dasar gila... " umpat seorang pria dari balik kemudi sedan mewah yang hampir menabrak Dista. Masih dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya, ia menurunkan kaca mobil sambil menatap Dista tanpa ekspresi.
"Maaf tuan!" tutur Dista sembari berlalu dari hadapan pemuda tampan itu.
Tak terasa hari sudah sore, Dista memutuskan untuk kembali ke rumah kost sederhana di pinggiran kota. Sesampai di depan pintu kamar kostnya, ia melirik kamar di sebelahnya yang ternyata masih sepi. Setelah mandi dan memasak mie instan, ia segera melahap makanan yang sudah tersaji di depannya.
Terdengar pintu sebelah terbuka. Dista meloncat dari tempatnya duduk dan segera berlari ke luar. "Kamu baru pulang...?" tanya Dista kepada penghuni kost disebelahnya.
"Eh.. Dis, iya aku baru pulang! kamu sendiri tumben sore gini udah ada di rumah?" jawab Ana sambil nyelonong masuk.
Dengan segera ia berbalik " Jangan bilang kamu dipecat lagi..??!"
"Itu kamu sudah tahu!" jawab Dista sekenanya.
"Apa??!!" Ana kaget hingga berteriak.
"Lebih keras lagi... Biar semua orang dengar!" gerutu Dista.
"Tunggu biar aku mandi dulu.. Nanti kamu cerita semuanya!"
"Oke..." Dista kembali ke kamar kostnya.
Tak berapa lama Ana keluar dan menuju kamar Dista. "Ayo cerita.. Kenapa bisa dipecat lagi??! Bukannya baru 5 hari kamu kerja di sana.."
"Iya.. 2 hari yang lalu aku memecahkan 2 buah gelas. Kemarin aku tidak sengaja menumpahkan jus ke baju pelanggan di sana. Dan tadi siang, lagi-lagi aku pecahkan 3 buah piring sekaligus. Hhff...!! Desahnya.
"Dista.. Dista.. Kalau kerja mbok ya hati-hati!! Fokus, jangan badan di situ tapi pikiran kemana-mana." Ana menasehati temannya.
"Entahlah.. Aku slalu kepikiran hutang-hutangku yang begitu banyak!!. keluh Dista.
"Kamu memang harus memikirkan hutang-hutang mu, tapi bukan begitu caranya!!" timpal Ana. "Tapi.. Bagaimana kamu bisa berhutang sebanyak itu??" selidik Ana penasaran.
Mereka memang baru saling kenal 3 bulan lalu. Dan Ana lah yang sering membantu Dista mencari pekerjaan. Dista hanya mengatakan kalau dia punya banyak hutang, tanpa menceritakan secara detail.
"Aku anak tunggal, ayahku karyawan pabrik. Sedangkan ibu seorang penjahit. Hidup kami berkecukupan walau sangat sederhana. Saat aku kelas 2 SMA ibu mulai sakit-sakitan. Hanya ayah yang bekerja, tapi semua masih baik-baik saja." Dista memulai ceritanya.
"Tugasku hanya belajar. Karena kedua orang tuaku ingin aku mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Mereka hanya lulusan SMA dan sangat berharap aku bisa jadi sarjana." Ana masih setia mendengarkan temannya tersebut.
"Tibalah hari itu...." Dista menghela nafas. "Ayah mengalami kecelakaan saat berangkat bekerja. Ibu yang menerima kabar itu langsung syok. Akupun tak kalah kaget dengan apa yang ku dengar."
Ana membetulkan duduknya.."Trus...??!"
"Ayahku tak bisa diselamatkan setelah 2 hari di rumah sakit" kristal bening mulai jatuh membasahi pipi mulus Dista. "Itulah awal penderitaan ku!"
" Lalu bagaimana dengan ibumu?? Masih sering sakit?" tanya Ana penasaran.
"Semakin parah... Karena syok, ibuku mengalami stroke!" Dista menutup wajah dengan kedua tangannya. "Saat itu baru saja aku menerima pengumuman kelulusanku di bangku SMA. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi takdir berkata lain. Aku harus mengurus ibu yang sakit dan aku juga harus mencari uang untuk biaya hidup kami berdua, untuk berobat ibu. Tapi apalah dayaku, aku hanya bisa bekerja sebagai pelayan toko yang gajinya tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan saja. Sedangkan biaya berobat ibu, aku harus pinjam sana sini hingga menumpuk."
" Hingga akhirnya 5 bulan lalu ibu masuk rumah sakit, aku terpaksa pinjam uang pada rentenir karena aku butuh uang cepat. Tapi sayangnya ibu tidak bisa diselamatkan." isak tangis Dista semakin tak terbendung.
"Aku tidak menyangka dibalik keceriaan mu tersimpan begitu banyak beban. Kau masih sangat muda bahkan belum genap 20 tahun, tapi masalah yang kau hadapi begitu berat. Kamu harus tetap semangat... Kamu gadis kuat!!" seru Ana menyemangati Dista yang semakin larut dalam kesedihannya.
"Aku terpaksa menjual rumah warisan ayahku. Tapi sayang.. Itu belum cukup untuk melunasi hutangku, apalagi hutang pada rentenir itu. Baru 6 bulan bunganya sudah selangit." Dista menghela nafas panjang.
"Jadi sekarang berapa hutangmu pada rentenir itu??" Ana penasaran.
"Total 100 juta termasuk bunganya." tutur Dista.
"Apa..??!!" Ana benar-benar kaget mendengar itu. Dia sungguh prihatin melihat temannya ini, gadis belia tanpa pengalaman apa-apa harus membayar hutang sebanyak itu. Bahkan saat ini rumah untuk tinggal dia tidak punya.
Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 8 malam. Kedua gadis muda itu masih asyik ngobrol dan saling menyemangati.
"An... Apa di perusahaan tempatmu bekerja ada lowongan??" tanya Dista penuh harap.
" Kemarin sih ada yang baru dipecat... Ehmm.. Coba aku tanyakan dulu". Ucap Ana Sembari meraih hp di sakunya.
Tuutt..Tuutt...
"Hallo..." terdengar suara diujung telepon.
"Hallo.. Selamat malam bu, maaf saya mengganggu malam-malam begini!" Ana memulai percakapan.
"Bu.. Apakah ada lowongan, kebetulan teman saya sedang butuh pekerjaan?" tanya Ana penuh harap.
"Untuk saat ini perusahaan sedang tidak membutuhkan karyawan, tapi kalau untuk cleaning service sepertinya ada yang kosong. Kamu tau sendiri kan.. Bagaimana bos tampan kita hehhee..." wanita itu terkekeh.
" Iya bu.. Saya lihat sendiri kemarin Budi dipecat saat itu juga hanya karena mengelap kaca kurang bersih!" sahut ana.
"Yaacchh... Begitulah pak Daffa, tidak banyak bicara. Sekali ngomong pecat orang..!! Ya sudah besok suruh temanmu datang menemui ku, tapi hanya posisi itu yang kosong." perintahnya.
"Baik bu.. Besok saya akan ajak teman saya datang ke kantor." Ana menanggapi dengan senang.
*****
Pagi-pagi sekali Dista sudah rapi. Dikenakannya kemeja putih polos dan celana hitam. Dengan polesan tipis make up di wajahnya menambah kesan cantik gadis belia itu. Rambutnya yang lurus sebahu di kuncir kuda. Tak ketinggalan sebuah map ditentengnya. Seulas senyum penuh harap tersungging di bibir tipisnya.
"An... Udah siap belum??!" tanya Dista.
"Bentar,," terdengar suara Ana masih di dalam kamar kostnya. "Semangat amat...??!" Ana menggoda temannya yang tampak bersemangat itu.
"Tentu saja... Bukannya itu saran mu?? aku harus tetap semangat." timpal Dista "Semangat..!!" teriak Dista sambil mengangkat tangan kanannya yang mengepal.
Di gedung perkantoran itu telah ramai aktivitas. Dista dan Ana telah sampai di kantor tersebut. Di loby yang tampak luas Ana mengajak Dista menuju resepsionis. " Pagi bu.. Apa Bu Lita sudah datang?" Tanya Ana kepada perempuan muda di depannya.
"Baru saja.. Langsung ke ruangannya saja!" jawab perempuan tersebut.
"Baik bu!" jawab Ana. "Ayo Dis ikut aku!.
Tapi Dista tetap diam sambil memperhatikan seseorang yang melewati mereka. "Ganteng banggeettt...!" Gumam Dista.
Semua orang menyapa pemuda tersebut. "Selamat pagi pak...!!" Sapa beberapa pegawai kepada pemuda tersebut.
"Pagii..." jawabnya sambil tersenyum ramah.
"Heehh... Awas kesambet!! ngelihat pak Daffy sampai gak berkedip tuh mata..!!" suara Ana mengagetkan Dista.
"Siapa namanya??" tanya Dista penasaran.
"Pak Daffy... Kenapa? ganteng??" goda Ana sambil tersenyum.
"Pak Daffy... Ganteng banget.. Ramah.. Uhh... Idaman banget. Apa dia boss disini?" tanya Dista makin penasaran.
"Bukan... Dia adik dari bos disini. Pak Daffa juga gak kalah ganteng lho... Tapii..." Ana menghentikan ucapannya.
"Tapi apa??!" Dista makin penasaran.
"Misterius... Gak banyak omong. Sekali ngomong pecat orang!!" Ana bersuara lirih, takut kalau ada yang mendengar percakapan mereka. "Udah.. Ayo ke ruangan Bu Lita!"
Mereka berjalan menuju lift menekan tombol dan masuk ke dalam lift bersama karyawan lain. Mereka keluar di lantai lima. Di lantai tersebut ruangan Bu Lita berada.
To..Tok..Tok..
"Masuukk..." terdengar suara bu Lita mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat pagi bu.. " Sapa Ana " Pagi.." jawab Lita dengan tersenyum ramah.
"Ini Dista teman saya yang saya ceritakan kemari pada ibu." terang Ana. "Selamat pagi bu.. Saya Dista!" sapa Dista sembari memperkenalkan diri.
"Pagi.. Saya Lita kepala personalia. Bisa saya lihat CV kamu??" pinta perempuan muda di depan Dista.
"Ini bu.." jawab Dista sambil menyodorkan map coklat kepada Lita.
"Hemm... Ladista andara,, kamu lulusan SMA." tanya Lita sambil menatap wajah ayu Dista.
"Iy..Iya bu. Saya lulus 2 tahun lalu." jawab Dista menjelaskan.
" Baik... Kamu bisa langsung bekerja, karena perusahaan ini memang membutuhkan tenaga untuk kebersihan kantor 15 lantai ini." ujarnya. "Lagi pula Ana yang merekomendasikan kamu, jadi saya yakin kamu bisa bekerja dengan baik." tambah Lita
"Terima kasih bu... Saya akan bekerja sebaik mungkin. Saya tidak akan mengecewakan ibu!" Dista berterima kasih dengan mata berbinar.
"Kamu tinggal tanda tangan surat kontrak ini. Baca dengan teliti. Baru kamu tanda tangan!" Lita menjelaskan dengan ramah.
"Baik..!!" tanpa berlama-lama Dista membaca surat kontrak yang disodorkan ke hadapannya. Dia langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut.
Disebelahnya Ana berbisik. "Jangan sampai kamu dipecat lagi.. Belum sebulan udah dipecat 4 kali. Memangnya kamu mau masuk rekor muri" sambil terkekeh.
"Huusstt... Jangan keras-keras, bisa bisa aku gagal dapat pekerjaan ini" gerutu Dista
"Oke... Kalau begitu kamu bisa mengikuti Ana. Dia akan menjelaskan kepadamu apa saja tugas mu."
" Dan kamu Ana, kamu ambilkan seragam untuk Dista. Dia bertugas di lantai 12. Jelaskan padanya apa saja tugas seorang CS". perintah kepala personalia yang masih terlihat muda.
" Selamat bergabung dengan Wiguna grup." ucapnya lagi sambil menyalami Dista.
"Baiklah.. Kami permisi bu!" sahut Ana.
Mereka berdua keluar dari ruangan Lita.
Bersambung....