Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Cemburu


"Biar aku yang bayar." Tawar pria muda di sebelah Dista.


"Nggak usah Ram, aku nggak enak ngerepotin kamu terus!" jawab Dista. Ya laki-laki itu adalah Ramon.


"Kamu pakai sungkan segala, kayak sama siapa aja!" tukas Ramon.


"Pokoknya kali ini aku bayar sendiri. Sudah terlalu sering kamu bayarin belanjaan ku. Lagian aku heran, kenapa kamu selalu muncul dimana-mana?" seloroh Dista.


"Mungkin kita berjodoh!" Jawab Ramon sambil tertawa.


"Jodoh kepala mu botak!" ketus Dista.


"Dilarang gombalin istri orang!" Dista memperingatkan Ramon sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Romon semakin terpingkal-pingkal, melihat tingkah teman SMP nya itu. Dista memang selalu dengan tegas menjaga jarak darinya. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin memberikan harapan semu untuk Ramon.


Semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Dista tahu persis perasaan Ramon terhadapnya. Tapi Dista hanya menganggap Ramon sebagai teman biasa sama seperti yang lainnya.


Kini setelah bertahun-tahun tak berjumpa, perasaan Ramon masih tetap sama. Selalu memuja gadis enerjik dengan segala kekonyolannya ini.


"Oke, aku mengalah." ucap Ramon pasrah.


Setelah membayar barang belanjaan masing-masing, mereka keluar dari super market bersama.


"Kita makan dulu yuk Dis, aku lapar!" ajak Ramon.


"Boleh, kebetulan aku juga sudah lapar. Kita makan di cafe depan aja gimana?" tawar Dista.


"Terserah kamu!"


Dista segera memesan beberapa menu makanan dan minuman, setelah mereka mendapatkan tempat duduk. Saat ini sudah lewat jam makan siang. Tentu saja cacing di perutnya sudah berdemo minta diberi makan.


Tak lama pesanan mereka datang. Dengan segera Dista menyantap menu makan siangnya.


"Kamu beneran nggak mau ikut reuni?" tanya Ramon memastikan.


"Nggak dapat izin dari suami." jawab Dista enteng.


"Hahh..." Ramon menghela nafas. "Memang susah kalau punya pasangan pencemburu!"


"Cemburu tandanya sayang!" timpal Dista.


Ramon memutar malas bola matanya.


"Dis, apa kamu nggak pengen lanjutin kuliah?" tanya Ramon sambil mengunyah makanannya.


"Entahlah, aku masih bingung." ujar Dista.


"Apa nggak sayang masa muda kamu, kalau hanya bergelut menjadi ibu rumah tangga?" Ramon mengangkat sebelah alisnya.


"Aku merasa nyaman dengan keadaan ku sekarang." Dista meneguk jus jeruk, kemudian melanjutkan ucapannya. "Meskipun aku juga masih pengen mewujudkan cita-cita ku menjadi wanita karir yang mandiri." ucap Dista dengan tatapan kosong ke depan.


"Lagi pula, mama mertua ku pengen cepat punya cucu. Pasti repot kalau aku kuliah sambil punya bayi." seloroh Dista sambil terkekeh.


"Uhuk..uhuk.." Ramon terkejut mendengar penuturan Dista.


"Apa kamu pengen punya anak dalam waktu dekat ini?" tanya Ramon memastikan.


"Terserah yang di atas aja, mau kasih cepat atau lama. Yang pasti kami nggak menunda untuk punya momongan." jawab Dista tersipu malu.


Terbesit kekecewaan di wajah tampan Ramon. Apakah benar-benar sudah tidak ada harapan bagi dirinya untuk meraih cinta pertamanya itu.


"Kamu masih muda, masih banyak waktu." ujar Ramon.


"Kenapa jadi ngomongin anak sih, aku jadi malu." Dista menutup wajahnya yang merona karena malu.


"Apa kamu sangat mencintai Daffa?" Ramon bertanya dengan ragu. Ia sangat takut mendengar Jawaban Dista, apabila wanita pujaannya itu akan mengatakan bahwa ia sangat mencintai suaminya.


"Hemm... kami baru beberapa bulan bersama, aku belum tahu seberapa besar cinta ku untuknya. Tapi aku menyadari aku memang sudah jatuh cinta sama mas Daffa." ucap Dista dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.


Duuarr... Hati Ramon mencelos. Setelah ia mendengar pernyataan Dista. Padahal sebelumnya ia begitu yakin masih bisa mendapatkan Dista kembali. Mengingat pernikahan Dista dengan Daffa seperti terpaksa.


Ya, setelah mengetahui bahwa Dista menikah dengan Daffa. Ramon mencari tahu tentang mereka. Tentu tak sulit menemukan berita mengenai Daffa yang merupakan salah satu keluarga terpandang di kota ini. Apalagi mengenai pernikahan Akbarnya.


Tapi melihat bagaimana Dista mengungkapkan apa yang ia rasakan terhadap suaminya, Ramon yakin bila Dista benar-benar telah jatuh cinta.


"Kenapa sesakit ini Dis? Apakah kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama." batin Ramon.


Sementara di tempat lain.


Sesampainya di kantor, Daffa mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Daffa masih memikirkan foto yang diperlihatkan oleh Fany tadi.


Terlihat betul senyum Dista saat bersama Ramon. Tiba-tiba hatinya seperti diremas. "Apakah aku cemburu?" batin Daffa.


"Sepertinya bocah itu punya perasaan lebih sama Dista. Waktu itu juga sorot matanya menyiratkan sesuatu." gumam Daffa.


"Dista milikku, dan selamanya akan tetap jadi milikku. Tak kan ku biarkan siapapun merebutnya."ucap Daffa dingin.


Daffa mencoba mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di atas meja kerjanya. Ia membolak-balikkan kertas-kertas itu berulang kali. Apa yang ia lihat tertulis di atas kertas, tapi beda dengan yang ia baca dipikirannya.


Otaknya hanya dipenuhi dengan Dista dan Ramon.


"Aarrgghh... sial!!" umpatnya kesal.


"Mereka hanya berbelanja, tidak akan terjadi apa-apa. Lagi pula bocah itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ku!" otak Daffa mencoba menenangkan hatinya yang kacau.


Tapi tetap saja Daffa sama sekali tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Akhirnya iapun memutuskan untuk pulang.


Disambarnya jas yang ia letakkan di sandaran kursi. Dengan tergesa ia berjalan keluar. Di depan ruangannya ia berpapasan dengan Fany yang membawa map di tangannya.


"Maaf pak Daffa mau kemana?" tanya Fany.


"Aku ada urusan di luar!" jawab Daffa datar.


"Tapi ini ada berkas yang membutuhkan tanda tangan bapak!" ucap Fany.


"Biar aku lihat dulu, besok kamu ambil di ruangan ku!" jawab Daffa dan mengambil map dari tangan Fany. Kemudian berlalu meninggalkan Fany yang masih berdiri tak bergeming. Daffa turun menggunakan lift khusus petinggi perusahaan. Dan segera meninggalkan perusahaan dan setumpuk pekerjaannya.


"Daffa sebenarnya mau kemana sih! Percuma cari alasan biar bisa berduaan di ruangannya, kalau orangnya kabur. Huh.. kesel!" umpat Fany.


_Apartemen Daffa_


Ceklek.. Dista membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Tampak Daffa duduk di sofa ruang tamu.


"Mas Daffa sudah pulang?" tanya Dista sambil meletakkan belanjaannya.


"Hemm..." jawab Daffa hanya berdehem.


Dista mengkerutkan keningnya. "Ada apa dengan mas Daffa, nggak biasanya dia cuekin aku gini!" batin Dista.


"Mau aku buatin minum mas?" tanya Dista berusaha mencairkan suasana.


"Kamu ketemu Ramon? Atau kalian sengaja janjian?" tanya Daffa ketus.


"Mas Daffa tahu darimana aku habis ketemu Ramon? Jangan-jangan mas Daffa buntutin aku ya?" oceh Dista.


"Emang aku kurang kerjaan buntuti kamu segala." elak Daffa.


"Terus...?" goda Dista sambil mendekat kearah Daffa dan segera duduk dipangkuannya.


Daffa memalingkan wajahnya.


"Terus... mas Daffa cemburu ya?" Dista tertawa melihat suami tampannya cemberut.


Daffa hanya melotot.


"Aku nggak sengaja ketemu Ramon di super market, pas aku mau jalan ke arah kasir tiba-tiba dia nongol." Dista memulai cerita sambil mengelus pipi Daffa.


"Jadi kita ngobrol sebentar." tambah Dista.


"Selain ngobrol ngapain lagi?" tanya Daffa masih dalam mode ketus.


"Karena aku lapar dan emang nggak masak juga. Jadi aku makan bareng di cafe depan super market." jawab Dista seakan tanpa dosa.


Bersambung....