
Genap satu bulan Dista bekerja di perusahaan Wiguna. Akhirnya ia menerima gaji pertamanya. "Nanti sore kita jalan-jalan ya...!" ajak Dista kepada Ana.
"Emangnya... Mau kamu traktir??" Ana menggoda temannya itu.
"Tentu saja, tapi makan bakso pinggir jalan aja ya...!" sambil melirik Ana.
"Tapi aku gak lagi kepengen makan bakso.. Gimana dong??" Ana mulai mengerjai "Aku pengen makan sushi ala ala jepang gitu"
"Haahh.... Bisa habis duit gaji ku sebulan cuma buat traktir kamu!!" sambil melotot.
"Hahaaahaa.... Aku hanya bercanda. Terserah makan apa aja yang penting kamu yang bayarin"
"Nah... gitu dong... G usah sok pengen makan makanan orang kaya,"
Sore itu setelah pulang bekerja mereka naik angkutan umum, namun tidak untuk pulang ke kost tapi pergi ke taman. Di sana banyak sekali pedagang kaki lima yang mangkal. Mereka memilih pedagang bakso.
"Silahkan mbk.." sahut abang tukang bakso.
"Makasih pak!!" jawab mereka serempak.
"Aku sering makan bakso disini, tapi kenapa sekarang rasanya beda ya?!" sambil memasukkan bakso ke dalam mulutnya.
"Ya..Iyalah. Biasanya kan bayar sendiri, nah sekarang dapat gratisan!" sahut Dista sambil manyun.
"Ha..Ha..Haaa...." mereka tertawa bersama.
Di seberang jalan tampak pemuda tampan. "An.. Bukannya itu pak Daffy??" celetuk Dista.
"Hemm... Iya!" jawab Ana.
"Ngapain ya.. Bukannya itu salon??" Dista penasaran.
"Abis nganterin ceweknya kali..."
"Bisa jadi... Yahh... Patah hati deh!!" Dista sambil manyun.
"Dista..Dista.. Kamu ini ada ada aja... "
Selesai makan mereka bergegas pulang. Menunggu angkutan di pinggir jalan. "tumben angkutannya lama.." gerutu Dista.
Bukk...
Seseorang menabrak Dista hingga terjatuh...
"Woe... Kalau jalan pakai..." kalimat Dista menggantung
"Pak Daffy... selamat sore pak!" Sapa Ana.
Dista hanya bengong.
"Ma..Maaf.. Saya gak sengaja" sambil mengulurkan tangan kearah Dista.
"Gak papa pak..." sahut Dista sambil meraih tangan pemuda tampan tersebut Masih dengan wajah konyolnya.
"Aku seperti pernah ketemu dengan kalian, tapi dimana ya..."
"Kami bekerja di perusahaan pak Daffa." jawab Ana sedangkan Dista masih saja setia dengan wajah begonya.
"Oh... Pantas saja, aku seperti mengenal kalian. Kalian ngapain disini??" tanya Daffy
"Abis makan bakso pak!" Dista cengar cengir "Ya tuhan... Ternyata dari dekat dia lebih tampan" bisiknya dalam hati.
"Terus... Selanjutnya kalian mau kemana?"
"Emmm... Mau pulang pak, ini lagi nunggu angkot!" jawab Ana.
"Kalian tinggal dimana?"
"Rumah kost di jalan Anggrek pak!" jawab Dista.
"Kebetulan kita searah... gimana kalau kalian pulang bareng aku aja?" Daffy menawarkan tumpangan.
Bagai mendapat lotre puluhan juta wajah kedua gadis itu tampak berbinar seketika. "Gak usah pak..Nanti takut merepotkan." ucap Ana merasa sungkan pada adik bos nya tersebut.
Dista mencubit paha Ana "Kenapa ditolak..." Bisiknya di telinga Ana.
"Gak repot kok... Kan kita searah. Mari,, itu mobil saya di sana." Daffy tersenyum dengan ramah.
Akhirnya mereka mengikuti Daffy menuju mobilnya. Dengan perasaan gembira mereka memasuki mobil mewah pemuda tampan itu.
"Kenapa duduknya dibelakang semua? Aku ngerasa jadi sopir kalian nih..."
"Ma..Maaf pak!" mereka berseru bersama.
"Siapa namamu?!" tanya Daffy sambil menoleh kearah Dista.
"Dista pak!" jawabnya singkat.
"Pindah di sebelah ku!"
"Ba..Baik pak". Dista segera pindah duduk di depan. "Jantungku serasa mau copot, apakah ini mimpi? bisa duduk di samping pak Daffy" batin Dista.
"Kalau nama kamu siapa?" melihat Ana dari kaca tengah.
"Ana pak"
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang tidak begitu macet sore itu.
"Kalian sudah lama kerja di tempat kak Daffa??!" Daffy memulai pembicaraan, karena dari tadi kedua gadis ini diam membisu.
"Saya baru bekerja satu bulan ini pak, kalau Ana sudah hampir 5 bulan." Dista menjawab dengan canggung.
"Ouw... Jadi belum lama. Kalian gak usah canggung gitu. Santai saja, aku biasa bergaul dengan siapa saja. Jadi gak usah sungkan begitu.
"Iya pak!" jawab mereka serempak.
"Maaf pak, tadi saya lihat bapak keluar dari salon diseberang jalan. Apa bapak mengantar pacar bapak?" Dista memberanikan diri.
"Bukan, tadi aku mau jemput mama biar bisa pulang bareng. Tapi ternyata mama sudah pulang duluan." jawab Daffy sambil tersenyum.
"Iya.."
"Kami turun di gang depan pak." Dista menunjuk sebuah gang di depan.
"Oke..." Daffy menepi dan menghentikan mobilnya.
"Makasih pak atas tumpangannya." sahut mereka kompak.
"Iya sama-sama. aku duluan ya... Sampai jumpa lagi!" Daffy berlalu dengan senyum ramahnya.
"Oh my God... Pesona pak Daffy!" Dista senyum-senyum seperti orang gila.
*****
Pagi hari di kantor Daffa.
"Aduh... Aku telat, kenapa bisa bangun kesiangan sih. Kenapa juga bisa kompak sama Ana." sambil buru-buru membawa peralatan mengepel. Dista memulai pekerjaannya dengan tergesa-gesa. Ia membersihkan lorong di depan ruangan Daffa.
Tiba-tiba brruukkkk.... tanpa sengaja Dista menabrak tubuh seseorang. Dengan cepat Dista menoleh "ma..Maaf...." jantungnya serasa berhenti berdetak tatkala yang dilihatnya sedang berdiri di hadapannya adalah pimpinan perusahaan ini.
Ya Daffa sedang menatap tajam ke arah gadis itu. Dengan tatapan tajam, bagai seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
"Ke ruangan saya... Sekarang!!" Bentak Daffa.
"Ba..Baik pak!" pikiran Dista kacau, "kamu saya pecat" kata-kata itu yang berputar-putar di otaknya.
Dista mengikuti Daffa masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu tahu kesalahan kamu?? dan kamu tahu apa hukumannya??" tanya Daffa dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak, baru saja dia sampai di kantor bajunya sudah kotor oleh air bekas pel yang bau.
"Maafkan saya pak.. Saya tahu saya salah. Tapi saya berjanji ini kesalahan pertama dan yang terakhir pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya mohon jangan pecat saya pak" mata Dista mulai berkaca-kaca.
"Kamu pikir permintaan maaf kamu akan mempengaruhi keputusan saya?!"
Deg....
Dista menangis sejadi-jadinya dan berlutut di kaki Daffa memohon agar dia tidak dipecat.
"Pak saya mohon pak jangan pecat saya, saya butuh pekerjaan ini, bagaimana saya bisa makan kalau bapak pecat saya.. Saya harus membayar hutang-hutang saya pakai apa nanti pak...." Dista berbicara tanpa henti.
"Kenapa dia malah curhat sih..?!" batin Daffa. Entah mengapa ocehan Dista bisa membuat Daffa iba. Sudah pasti dengan kesalahan yang Dista buat hukumannya adalah dipecat dari perusahaan ini.
"Siapa bilang saya akan pecat kamu?!" ucap Daffa dengan nada tinggi.
Seketika Dista berhenti menangis. "Jadi maksud bapak... Saya tidak dipecat??" tersirat kebahagiaan dalam derai air matanya.
Tak tahu bagaimana,, wajah manis Dista bisa membuat hati Daffa terasa nyaman.
"Nanti sore kamu tidak boleh pulang. Setelah semua karyawan pulang, bersihkan semua ruangan di lantai ini. Jangan pulang sebelum selesai hukuman mu!"
"Ba..Baik pak!! Terima kasih karena bapak tidak memecat saya!" tak terasa butiran bening kembali membasahi pipi mulusnya.
"Kenapa kamu terus menangis.. Bukannya aku tidak memecat mu..?!" tanya Daffa kesal.
"Saya menangis karena terharu pak."
"Keluar dari ruangan ku"! ucap Daffa datar.
Dista meninggalkan ruangan Daffa dengan sesenggukan. Sementara Daffa menelepon sopir nya untuk mengambilkan baju ganti.
Sore harinya, Dista menjalankan hukuman yang diterimanya. Hal itu sama sekali tidak membuat Dista sedih, karena yang terpenting baginya adalah ia masih bisa tetap bekerja.
Malam semakin larut, tapi masih ada satu ruangan yang belum ia bersihkan. Dista bergegas menuju ruangan tersebut. Mata Dista terbelalak ketika ia lihat Daffa masih berada di ruangannya.
"Pak Daffa belum pulang?" tanya Dista memberanikan diri.
"Bukan urusan mu!" jawab Daffa dengan ketus.
"Ditanya baik-baik malah sewot" batin Dista. "Apa boleh saya membersihkan ruangan bapak??!" tanya Dista hati-hati.
"Ya.!" hanya itu yang keluar dari mulut bos tampan itu.
"Permisi pak!" Dista mulai menyapu, mengelap meja dan sofa di ruangan itu. "Apa meja bapak perlu saya bersihkan?!" tanya nya lagi.
"Tidak" ucapnya datar.
"Kalau begitu saya permisi pak. Pekerjaan saya sudah selesai apa boleh saya pulang?!"
"Ya"
"Iihhh... Tuh manusia apa robot" batin Dista. Kemudian ia melangkah meninggalkan ruangan bos nya. Ia menuju loker dan mengambil tas nya. "Akhirnya aku bisa pulang... Capek banget, pengen rebahan di kasur." ucap Dista pada dirinya sendiri.
Sesampainya di depan pintu lift, ternyata Daffa sudah ada di sana.
"Bapak juga mau pulang?" tegur Dista.
"Hemm..." tanpa menoleh kearah Dista.
"Dasar cowok angkuh, beda banget sama adiknya yang ramah, sopan, baik... Ahhh... Idaman banget." batin Dista tanpa ia sadari tersungging senyum di bibirnya.
"Kenapa senyum-senyum" tukas Daffa yang melihat aneh ke arah Dista.
"Ah..Anu pak! gak papa....!" dengan menahan malu.
Ting.. Suara lift terbuka. Daffa masuk kedalam lift disusul oleh Dista.
Daffa memencet tombol turun. Tak berapa lama lift meluncur tiba-tiba sreeggg..... lift pun terhenti.
Mereka panik seketika, "Pak lift nya macet..!" Dista panik.
"Aku tahu!" jawab Daffa datar, menutupi kepanikannya. Karena dia tahu pasti tidak ada siapa-siapa di gedung itu, kecuali sekuriti di lantai dasar.
Daffa merogoh ponselnya, "Shiitt... kenapa mati! aku lupa ngecas"
Dista pun mengeluarkan ponselnya, tapi tidak mendapatkan signal. "Kenapa tidak ada signal sih..." gerutunya.
Bersambung....