
Di lantai 12
Tampak seorang pemuda gagah nan tampan sedang duduk menghadap laptop dengan wajah serius. Tampak pahatan indah sang maha kuasa di wajah pemuda tersebut. Hidung mancung, kulit bersih, alis tebal dengan mata agak sipit. Bibirnya yang seksi menambah sempurna makhluk tuhan yang satu ini.
Tok..Tok..Tok..
"Permisi pak." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, tampak mengintip dari balik pintu.
"Hemm.. Ada apa?!" tanya sang bos kepada sekretarisnya.
Sambil melangkah memasuki ruang kerja yang cukup luas itu, "Baru saja saya menerima telepon dari tuan Herman. Beliau memberitahukan bahwa perusahaan kita menang tender. Dan meminta mengatur jadwal untuk penandatanganan kontrak."
Tersungging senyum di bibir sang boss. "Baiklah kamu siapkan semuanya dan atur waktu untuk kami bertemu. Ada lagi?!" tanya pimpinan perusahaan itu tanpa melihat sang sekretaris.
"Iya pak.. Ada pak Daffy di luar, beliau baru saja datang." ucap sekretaris berusia 40 tahunan itu.
" Suruh dia masuk." perintah boss bernama Daffa tersebut.
"Baik pak" jawab sang sekretaris. Dan langsung keluar meninggalkan bosnya.
Ceklek.. Pintu terbuka.
"Pagi kak..." sapa seorang pria yang tak kalah tampan darinya.
"Pagi.. Tumben pagi-pagi mampir kesini." jawab sang kakak. Mereka memang tidak tinggal serumah. Daffa memilih tinggal di apartemen sedangkan Daffy tinggal di rumah mewah bersama orang tuanya.
"Emm...Kelihatannya kak Daffa sedang gembira pagi ini. Apa habis ketemu gadis impian?? " tanya Daffy sambil terkekeh.
"Kenapa yang ada di otakmu hanya perempuan" dengan memandang tajam wajah sang adik.
"Ha..Ha..Ha.. santai lah kak, aku hanya bercanda. Aku tau apa yang membuatmu bahagia,.. " sambil melirik ke arah Daffa "Dapat proyek besar!! benar kan?!"
Daffa hanya tersenyum sinis. "Ayo katakan apa mau mu datang kesini?? Tidak mungkin kan kau datang hanya untuk mengejek ku!"
"Sensi sekali kakak ku satu ini" tersenyum kegirangan.
"Mama meminta kakak pulang nanti malam, kita makan malam bersama."
"Memangnya ada acara apa?" tanya Daffa penasaran.
"Mana ku tahu... Aku hanya ditugaskan untuk menyampaikan ini kepadamu. Aku mau bilang lewat telepon, tapi mama larang. Katanya aku harus menemui mu dan memastikan kau akan pulang." cerocos Daffy.
Kedua kakak beradik ini memang memiliki sifat yang berbeda. Meskipun sama-sama tampan, tapi perilaku mereka seperti langit dan bumi. Daffa sang kakak yang pendiam, tertutup, dan tidak mudah mengungkapkan perasaan sayang meskipun kepada orang tuanya sendiri. Dia terkesan misterius, tidak banyak bicara dan berwibawa.
Berbeda dengan Daffy sang adik. Dia sangat supel, mudah bergaul dan ramah. Dia selalu terbuka kepada orang tuanya terutama sang mama. Daffy bisa berjam-jam gelendotan pada mamanya.
Tapi dalam hal berbisnis, mereka sama-sama berbakat. Daffa dan Daffy berhasil mengembangkan perusahaan yang Wiguna percayakan kepada mereka.
***
"Kamu harus bekerja dengan baik! Jangan sampai dipecat lagi...!" Ana coba menasehati temannya yang dari tadi tampak bengong. "Hehh...!" Suara Ana membuyarkan lamunan Dista.
"Iya.. Aku tahu. Ehmm... Ngomong-ngomong pak Daffy ganteng banget ya hehehee..." Dista terkekeh.
"Aduuhhh... Pikirin tuh kerjaan jangan mikir cowok mulu. Apalagi pak Daffy yang jelas-jelas jauh di atas langit. Mau pakai apa ngejar dia??!" Ana makin gregetan sama Dista.
Ana mulai menjelaskan tugas-tugas Dista, meskipun mereka akan bertugas di lantai yang berbeda. "Yang itu.." Ana menunjuk sebuah ruangan dengan pintu paling besar diantara yang lain. "Itu ruangan pak Daffa, boss di perusahaan ini. Kamu harus teliti dan jangan melakukan kesalahan sekecil apapun di ruangan itu. Atau...!" Ana melirik pada temannya yang terlihat penasaran.
"Atau apa??!" Dista semakin penasaran.
"Atau... Hantu penunggu ruangan itu akan memakan mu tak bersisa. Ha..Ha..Haaa...." Ana tertawa melihat wajah temannya yang tampak serius.
"Iihh.... Ngomong yang bener. Jangan mengada-ada!" Dista tampak kesal.
"Atau kamu mau dipecat!!" Ana masih sambil tertawa.
"Sudah banyak korban di ruangan itu." tambahnya.
"Seberapa sadis sih pak Daffa itu, apa tiap hari dia memecat orang??" Dista penasaran.
"Gak juga... Tapi pak Daffa orangnya perfeksionis dan sangat suka kebersihan. Kalau lihat ruangannya berantakan dikit aja, pasti OB yang bertugas di ruangannya kena SP." terang Ana.
Ana telah kembali ke lantai 5, tempatnya bertugas. Dan Dista mulai bekerja. Dista berkenalan dengan sesama pegawai kebersihan yang bertugas di lantai 12 tersebut. Ia sangat antusias bisa bekerja di perusahaan tersebut. Selain karena kantor bergengsi tapi juga karena gaji disini jauh lebih banyak dari pada ditempat Dista bekerja sebelumnya.
Dista berharap dirinya akan bisa bertahan kerja disini. Karena ini harapan satu-satunya agar ia bisa mencicil hutang-hutangnya. Ya.. Meskipun butuh waktu bertahun-tahun untuk melunasinya kalau hanya mengandalkan gajinya disini.
Teman-teman Dista menyambut baik kehadirannya. Tak lupa mereka mengingatkan Dista untuk berhati-hati dalam bekerja.
"Semangat... Gak boleh dipecat lagi!!" gumam Dista menyemangati diri sendiri.
Hari sudah sore Dista dan Ana bersiap untuk pulang. Mereka menyetop angkutan umum, keduanya masuk ke dalam angkutan dengan wajah gembira meskipun terlihat gurat capek di wajah keduanya.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di sebuah gang. "Stop..Stop..!!" teriak Dista. "Berhenti bang...". mereka berdua kemudian turun, setelah sopir angkutan menghentikan laju kendaraannya. "Makasih bang..." ucap keduanya sambil Ana memberikan uang kepada sopir angkutan tersebut.
Kedua gadis ini berjalan sambil bercanda. Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara seorang laki-laki. "Dista...!!" bentak suara tersebut.
Sontak keduanya menoleh. Dengan tatapan heran Dista memperhatikan dua orang laki-laki yang berdiri di hadapannya. Karena ia merasa tidak mengenal mereka.
"Siapa kalian?? Dan mau apa??" ucap Dista penasaran.
"Kami orang suruhan pak Burhan!!" jawab salah satu dari kedua laki-laki itu. "Sudah dua bulan kau tidak membayar bunga hutang mu pada bos kami".
"Iy..Iya.. Maafkan saya. Tapi saya mohon berikan saya waktu. Bulan depan saya baru bisa bayar karena hari ini saya baru mulai bekerja. Tolong pak sampaikan permohonan saya ini kepada pak Burhan. Saya janji pasti akan bayar. Saya tidak akan kabur" Dista mencoba meyakinkan orang suruhan rentenir itu dengan suara bergetar.
"Haahh... Apa bisa aku pegang kata-kata mu??" pria bertubuh kekar itu mencoba menyelidiki wajah Dista yang sudah pucat pasi dari tadi.
"Baiklah... Akan kami sampaikan kepada bos kami. Tapi awas kalau kamu sampai bohong!!" kedua preman itu menunjukan wajah sangarnya.
"Iy..Iya pak, saya tidak akan berani berbohong!" Dista semakin gemetaran.
Akhirnya kedua preman itu pergi meninggalkan Dista dan Ana.
Malam itu di kediaman keluarga Wiguna. Tampak nyonya Ratih, yang tidak lain adalah ibu dari Daffa dan Daffy sedang menunggu kedatangan putra sulungnya.
"Mah... kak Daffa belum datang?" tanya Daffy mengagetkan mamanya.
"Ahh.. Daffy bikin mama kaget aja. Entahlah kakak mu belum kelihatan." jawab sang mama
Tak berapa lama orang yang dibicarakan muncul juga.
"Malam mah... hey Fy, papah mana mah..??!" Sapa Daffa sekaligus menanyakan keberadaan papanya.
"Malam sayang...!" jawab Ratih sembari mencium putra kesayangannya. "Papah masih terima telepon tuh di teras"
"Kak Daffa datang sendiri??!" Daffy mulai menggoda kakaknya.
"Maksudmu... Aku harus ajak Della sekretaris ku itu??" Daffa tahu apa maksud ucapan Daffy, hanya saja ia menanggapinya dengan lelucon.
"Ajak saja hahahaa....!" Daffy semakin senang menggoda kakaknya.
"Malam Daffa... ." Sapa Wiguna.
"Malam pah...!". sahut Daffa.
"Ayo kita makan." Ratih mengajak mereka menuju ruang makan.
"Oh..Iya Fa, gimana perusahaan kamu? Tidak ada masalah kan??" tanya Wiguna kepada anak sulungnya itu.
"Baik pah.. Tidak ada masalah. Bahkan tadi pagi Daffa memang tender, proyek ini cukup besar!" Daffa menjelaskan dengan penuh semangat.
"Bagus kalau begitu...!" timpal Wiguna dengan bangga.
"Ehm... Kalau pacar gimana??!" tanya Ratih sembari melirik Daffa.
"Hemmm...!" Daffa menghela nafas dengan kasar. "Selalu itu yang ditanyakan. Aku masih ingin fokus pada karier ku mah...!" Daffa coba ngeles.
"Tapi Daffa... Usia kamu sudah 30 tahun, sudah cukup matang untuk berkeluarga. Nah.. Ini mama belum pernah lihat kamu bawa cewek. Trus kapan mama sama papa ini kamu kasih cucu?!" Ratih menasehati ank kesayangannya.
"Kalau calonnya aja belum ada... Mau married sama siapa? Apalagi cucu... Aahhh... mama ada-ada aja..." Daffa selalu kesal kalau arah pembicaraan mulai mengarah ke pernikahan.
Maklumlah meskipun Daffa ini nyaris sempurna, tampan sukses digilai banyak wanita. Tapi Daffa belum pernah sekali pun pacaran. Teman kuliahnya dulu banyak yang suka pada Daffa, tapi tak pernah dihiraukan olehnya. Rekan bisnis wanitanya juga banyak yang mengejar cinta seorang Daffa, tapi dia tetap cuek.
"Jangan-jangan kak Daffa tidak suka perempuan mah... ". Daffy selalu saja menggoda kakaknya.
"Apa kamu bilang??!" dengan melotot ke arah adiknya. "Enak saja bilang aku gak normal."
"hhahhaaa.... ." Daffy puas menggoda Daffa.
"Mamah sama papah tenang aja... Kalau Daffa sudah ketemu perempuan yang bisa bikin Daffa jatuh cinta, hari itu juga Daffa bakal langsung nikah." ucapan Daffa membuat semua tertawa.
"Apa kamu mau mama kenalkan sama anak teman mama. Mereka cantik-cantik loh.. Berpendidikan tinggi. Bahkan ada yang lulusan luar negeri." bujuk Ratih.
"Nggak..!! Daffa udah kenyang, mau langsung pulang." jawab Daffa dengan wajah kesal.
"Kok pulang... Sekali-sekali nginep sinilah. Mama masih kangen sama kamu."pinta mama Ratih.
"Lagian buru-buru pulang apa ada yang nungguin di apartemen? Paling bantal dan guling..." tambah Wiguna dengan tersenyum.
"Kalian memang paling suka ngeledek orang." lalu berdiri " Daffa balik mah.. " mencium pipi mamanya. "Daffa balik pah!" mencium tangan Wiguna.
"Daffy... Awas ya ngompori mamah suruh aku cepet kawin!!" mengancam adiknya.
Daffy hanya tersenyum. "Udah balik sana... bantal guling udah kangen sama kamu hhhhaaahhaa...." sahut Daffy sambil tertawa.
Daffa pun meninggalkan rumah besar itu dan kembali ke apartemennya. Daffa memang tertutup dan lebih suka menyendiri. Menghabiskan waktu di apartemen dari pada kelayapan di luaran sana.
****
Genap seminggu Dista bekerja di perusahaan Wiguna Grup. Semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Penyakit bawaannya yaitu ceroboh tidak muncul lagi. Dista gadis yang supel dan ceria, tak butuh waktu lama untuknya akrab dengan teman-teman yang baru ia kenal.
"Pagi bu Della..." sapa Dista pada sekretaris Daffa yang sudah berada di ruangannya. "Bu.. saya mau membersihkan ruangan pak Daffa. Apa pak Daffa sudah datang??" tanya Dista.
"Pagi Dis,, pak Daffa belum datang. Tapi sebaiknya kmu cepat-cepat membersihkan ruangannya, mungkin setengah jam lagi beliau tiba" Della memberi saran.
"Baik bu... Akan saya bersihkan secepatnya!" kemudian Dista masuk ke ruangan bos perusahaan itu. Dista membersihkan setiap sudut ruangan besar tersebut dengan sangat teliti. Ia ingat nasehat teman-temannya.
Ceklek... suara pintu terbuka
Deg... Jantung Dista seakan berhenti berdetak. "Semoga tidak ada kesalahan yang ku buat" batin Dista.
"Siapa namamu?? pegawai baru??!" suara ria di belakangnya terdengar seksi.
"Nama saya Dista pak. Saya baru satu minggu kerja disini."jawab Dista sembari menoleh kearah sumber suara.
"Kamu boleh keluar." perintah bos Daffa.
"Ba..Baik Pak!" sahut Dista kemudian keluar dari ruangan itu.
Bersambung...