Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Bab 4


"Ya tuhan... Bagaimana ini??!" mata Dista mulai berkaca-kaca.


"Sudah tenang saja jangan cengeng!" ucap Daffa datar tanpa menoleh lawan bicaranya.


"Bagaimana bisa tenang pak... Ini sudah malam, mana ada orang di gedung ini. Kalaupun ada penjaga pasti hanya di lantai dasar. Lalu bagaimana kita bisa keluar??!" gerutu Dista mendengar ucapan bosnya yang sok cool itu.


Mereka terdiam, karena mereka tahu pasti meskipun berteriak tidak akan ada yang mendengarnya.


"Apa aku akan terjebak semalaman disini? Bersama laki-laki dingin dan cuek ini hahh..... " batin Dista. "coba yang bersamaku saat ini adalah pak Daffy, ahhh...." tanpa ia sadari tersungging senyum di bibir merahnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum??!" celetuk Daffa yang heran melihat tingkah gadis disebelahnya itu.


"Tidak apa-apa pak!" Dista menahan malu hingga mukanya merah seperti tomat.


Malam semakin larut, tidak ada tanda-tanda akan datang bantuan. Hingga akhirnya mereka pun pasrah kalau harus semalaman terjebak dalam lift itu.


"Tidurlah... Sepertinya kita akan bermalam disini!" Daffa kasihan melihat karyawannya yang terlihat sangat lelah.


"Apa... Bapak jangan macam-macam ya..." Dista merasa khawatir.


"Aku hanya memberikan saran, ku lihat kamu sangat lelah. Jangan Ge eR, kamu pikir aku tertarik dengan perempuan model sepertimu. Cihh... sampai kapanpun aku tidak akan tertarik padamu!!" Teriak Daffa dengan nada tinggi karena kesal mendengar ucapan Dista.


"Maaf pak.. Aku hanya berusaha menjaga diri!" kilah Dista.


Merekapun duduk saling menjauh. Daffa melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya menunjuk jam 11 malam. Akhirnya kedua insan itupun tertidur.


Daffa mengerjapkan matanya. Ia mendengar rintihan seseorang. Saat ia membuka mata dilihatnya Dista sedang menggigil kedinginan. Tak sampai hati, Daffa pun melepas jas yang dipakainya untuk menutup badan Dista.


Tapi gadis itu masih saja menggigil. Daffa memberanikan diri menyentuh kening gadis itu. Alangkah kagetnya saat didapati badan Dista demam.


"Apa yang harus aku lakukan!" gumam Daffa karena panik. "pasti dia kecapekan karena hukuman dari ku.. Dan pasti belum makan."


Melihat gadis disampingnya terus saja menggigil kedinginan, Daffa menjadi iba. Tapi dia bingung harus melakukan apa. "Kalau aku coba menghangatkan dengan memeluknya sudah pasti dia akan marah ku" Daffa semakin bingung harus berbuat apa.


Semakin lama Dista makin terlihat pucat. Daffa pun meraih tubuh Dista ke dalam pelukannya. "Terserah kalau dia mau marah... " gumam Daffa.


Akhirnya Dista tidak menggigil lagi meskipun badannya masih demam. Mereka kembali terlelap dalam tidur.


Tiba-tiba lift terbuka, Dista mengerjap-ngerjap kan matanya, ia membuka mata sembari mengumpulkan kesadarannya. Dista bingung melihat banyak orang yang menatap aneh kearah dirinya.


"Aaagghhhh...." Dista berteriak sekuat tenaga saat menyadari dirinya berada dalam pelukan bos nya. Bahkan ia menggunakan kas bosnya untuk menutup badannya.


Seketika Daffy pun terperanjat kaget. Daffa langsung menarik tangannya. Kemudian berdiri dan meninggalkan lift itu tanpa sepatah katapun.


Semua orang yang melihat kejadian itu sangat heran. Bagaimana bisa Bos besar mereka berduaan di dalam lift bersama seorang cleaning servis. Apa yang mereka lakukan, apakah semalaman mereka berduaan disini.


Secepat kilat gosip pun menyebar di seluruh penjuru kantor tersebut. Bahkan mulai masuk dalam berita cetak dan elektronik.


Sudah dua hari Dista tak menampakkan hidungnya di perusahaan tersebut. Sedangkan Daffa seperti kebakaran jenggot saat mengetahui pemberitaan tentang dirinya di semua media. Bahkan ada yang narasinya melebih-lebihkan, menyebut bahwa Daffa berbuat tidak senonoh terhadap pegawainya.


Di kantor Wiguna Grup.


"Daffa.. Apa-apaan ini??!" terdengar suara di seberang telepon dengan nada tinggi.


"Ini tidak seperti yang papa bayangkan. Aku bisa menjelaskan semuanya..." Daffa mulai panik dengan keadaan yang menyudutkan dirinya.


"Kamu datang ke restoran papa. Jelaskan semuanya." sahut Wiguna dengan nada tinggi.


"Baik pa" Daffa bergegas turun dan menaiki sedan mewah miliknya. Bergegas menuju restoran milik papanya. Sudah setahun ini Wiguna fokus mengurus restoran yang baru dirintisnya, Dan menyerahkan tanggung jawab atas perusahaan Wiguna grup ke tangan anak sulungnya. Sedangkan Daffy dipercaya mengurus bisnis perhotelan milik keluarga Ratih mamanya.


45 menit kemudian Daffa telah sampai di restoran Wiguna. Ia menuju ruang kerja papanya dengan wajah muram dan bingung.


"Siang pa" sapa Daffa.


"Masuk.." Wiguna menghentikan pekerjaannya. Berusaha menahan amarahnya, "Kamu mau jelaskan apa... Kamu sudah mencoreng nama baik mu sendiri bahkan keluarga Wiguna." coba meminta penjelasan kepada anak sulungnya.


"Yang terjadi sebenarnya tidak seperti pemberitaan di luar pa... Mereka terlalu mengada-ada." Daffa terlihat sangat kesal.


"Bagaimana bisa kamu berduaan di dalam lift.. Semalaman!!" Wiguna menekankan perkataannya.


"Tadi pagi gadis itu menumpahkan air bekas ngepel ke baju ku, makanya aku hukum untuk lembur. Aku sendiri harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, Karena sekretaris ku pulang cepat tadi, anaknya sakit. Makanya aku masih di kantor sampai malam. Pas aku mau turun tiba-tiba lift nya macet. Dan aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa karena hape ku lowbat" Daffa menghela nafas kasar.


Wiguna mencerna penjelasan anaknya. "Lalu bagaimana dengan foto itu?!"


"Dia tiba-tiba menggigil, badannya panas. Aku gak tega melihatnya, makanya aku pakaikan jas ku untuk menutup tubuhnya. Tapi sepertinya dia masih menggigil, dengan terpaksa aku memeluk gadis itu." Daffa menjelaskan semua kejadian yang ia alami.


"Papa percaya padamu nak,, papa sangat mengenal dirimu dengan baik. Sekarang kita harus mencari jalan keluar terbaik, sebelum pemberitaan ini berpengaruh pada perusahaan yang kamu jalankan." berpikir keras mencari solusi terbaik untuk anak sulungnya.


"Daffa.... Bagaimana kalau kamu menikahi gadis itu??" ucap Wiguna yang membuat Daffa terhenyak kaget.


"Apa... Menikah??" protes Daffa dengan kedua mata membulat sempurna. "Papa yakin itu solusi terbaik??"


"Papa rasa begitu.. Dengan menikahi gadis itu, kamu bisa mengembalikan kepercayaan publik bahwa kamu lelaki bertanggung jawab." Wiguna coba menjelaskan.


"Tapi pa... Dia hanya Office girl, tukang bersih-bersih!! masa' iya aku menikah dengannya. Aku bahkan belum begitu mengenalnya." protes Daffa.


"Semua keputusan ada di tanganmu. Papa yakin kamu akan mengambil keputusan terbaik. Itu hanya sebuah saran!" Wiguna berlalu keluar meninggalkan putranya yang masih termenung. "Pikirkan baik-baik, jangan sampai menyesal!" ucap Wiguna sambil menutup pintu.


"Agghhh... Kenapa jadi rumit begini!" gumam Daffa sambil mengacak-acak rambutnya.


Daffa pun kembali ke kantornya dengan wajah kusut. Ia masuk ke ruangannya, "Della ke ruangan saya sekarang!" memanggil sekretarisnya melalui sambungan telepon.


"Baik pak!" Della segera menuju ruangan bos nya. "Ada yang bisa saya bantu pak??"


"Maaf pak, Dista sudah dua hari ini izin tidak masuk kerja. Katanya sedang kurang enak badan."


Daffa mengernyitkan keningnya. "Tolong kamu cari alamat Dista, dan semua info tentang dia." titah Daffa.


"Baik pak.. Akan segera saya laksanakan!" kemudian kembali ke ruangannya.


Daffa tampak gusar, bingung entah apa yang akan dilakukannya. "Apa aku minta pendapat Daffy ya.." gumamnya. Kemudian merogoh hape dalam saku jas nya.


"Hallo..." Sahut suara di ujung telepon.


"Apa kamu sibuk??" tanya Daffa. "Aku pengen ngobrol sebentar!"


"Nggak kok.. hari ini aku agak santai. Apa mengenai pemberitaan media?!" Daffy mulai penasaran.


"Ya begitulah... Kita ketemu di cafe dekat kantor mu ya! sejam lagi!" ujar sang kakak.


"Siap bos!!" jawab adiknya. Kakak beradik yang selalu kompak, meskipun kadang ada perselisihan kecil diantara mereka.


Satu jam kemudian, Daffa sudah sampai di cafe tersebut. Ia masih menunggu kedatangan adiknya.


kring..Kring... Hape Daffa berbunyi, nama Della sekretarisnya yang tertera di layar ponsel.


"Ada apa Del..?"


"Saya sudah mendapatkan alamat kost Dista dan nomor hape nya pak!! Apa saya kirim ke Bapak via whatsapp ?!" tanya Della


"Ok.." Daffa menutup sambungan telepon.


Ting.. Ponsel Daffa berbunyi. Notifikasi pesan WhatsApp tertera di layar ponselnya. Daffa membuka pesan tersebut dan hanya membaca sekilas.


"Hai kak... Sudah lama?" tanya Daffy.


"Lima belas menit yang lalu." jawab Daffa.


"Sudah pesan minum??" sambil memperhatikan wajah Daffa yang kusut.


"Sudah.. Sama kamu sekalian." jawab Daffa datar. Tak berapa lama pesanan mereka sampai.


"Silahkan tuan!" ucap pelayan dengan ramah.


"Makasih.." jawab Daffy.


" Hemm... Apa kak Daffa butuh bantuan ku?" Daffy memulai pembicaraan.


"Aku mau minta pendapat mu, apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?" Daffa mengernyitkan keningnya. " ada beberapa investor yang menarik modal mereka, untungnya bukan investor besar. Tapi aku khawatir kalau sampai masalah ini berlarut-larut akan berdampak besar pada perusahaan."


"Kak Daffa harus bisa mengembalikan nama baik kakak dan juga kepercayaan rekan bisnis kak Daffa." usul Daffy


"Caranya??"


"Mungkin dengan menikahi gadis itu,, atau memaksa media untuk men take down pemberitaan mereka!" Daffy coba berpikir. "Bagaimana menurut mu?"


"Tadi aku bertemu papa.." menghela nafas "Papa juga menyarankan agar aku menikahi gadis itu!" Daffa kembali mengacak-acak rambutnya.


"Aku bingung harus berbuat apa??!!"


"Menurut ku menikah bukan ide yang buruk" Daffy tersenyum mengejek "Kak Daffa tidak perlu susah - susah lagi mencari gadis untuk dinikahi, tinggal datang dan ajak dia menikah. Aku yakin dia akan setuju!"


"Kalau dia menolak?!"


"Dukun bertindak hahahahaaaa...." Daffy tertawa lepas melihat wajah konyol Daffa. "Kan belum dicoba! Coba saja dulu... Kalau dia menolak berikan penawaran, kalau gagal juga.. Tekan dia kalau perlu diancam!"


"Akan aku pikirkan" sembari melangkah meninggalkan Daffy.


Daffa masuk ke dalam mobil dan mengambil hape nya. Ia buka pesan dari sekretarisnya tadi. Kemudian melajukan mobil mewahnya menyusuri jalanan yang padat.


"Aku harus menemui gadis itu!" tekatnya bulat.


Sampai di depan gang Daffa turun dari mobil. Dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, karena gang itu cukup sempit dan mobil tidak bisa masuk.


"Permisi mbak... Apa anda mengenal Dista? Dia kost disekitar sini" tanya Daffa pada seseorang yang melintas di depannya.


"Ouw.. Mbak Dista, saya kenal pak! memangnya ada apa ya?" tanya perempuan tersebut.


"Boleh tahu dimana kostan nya??" tanya Daffa.


"Itu pak yang paling ujung" sambil menunjuk sebuah rumah kost di ujung jalan.


"Terima kasih Mbak!! saya permisi"


"sama-sama..! sambil berlalu.


Tok..Tok..Tok..


Tak berapa lama pintu terbuka. Mata Dista terbelalak, saat ia tahu siapa yang datang. Dista tak menyangka sama sekali kalau bos nya akan datang ke kesini. Rasa kesal, malu dan ada rasa takut di hatinya bercampur jadi satu.


"Boleh saya masuk??!" Tanya Daffa


"Silahkan pak" jawab Dista dengan gemetar


bersambung....