
Hari ini hari Minggu. Daffa tampak masih bergulung dalam selimutnya. Meskipun matahari sudah menampakkan sinarnya, tak membuat Daffa mau beranjak dari tidurnya.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu.
"Mas Daffa... sarapan sudah siap." Teriak Dista dari luar pintu. Ia tak berani masuk, takut mengganggu Daffa. "Mungkin masih tidur" pikirnya. Karena setiap weekend Daffa bangun terlambat.
Dista kembali ke kamarnya. Merapikan kasur dan selimutnya. Setelah mandi dan berganti pakaian ia keluar menuju meja makan. Belum terlihat Daffa di sana. Akhirnya Dista memutuskan untuk membersihkan ruang tamu yang sebenarnya masih terlihat rapi.
Setengah jam berlalu. Belum ada tanda-tanda Daffa akan keluar dari kamar. Dista menuju meja makan untuk sarapan lebih dulu. Cacing di perutnya sudah demo sedari tadi.
Selesai sarapan dan mencuci piring bekasnya. Dista mendudukkan diri di sofa depan tv. ia nyalakan televisi, mencari-cari acara yang ia suka. Satu jam Dista menonton TV, baru terdengar pintu dibuka. Tampak Daffa masih dengan piyama tidurnya.
Dista menoleh kearah Daffa. "Masih ileran aja ganteng banget hihihi..."batin Dista.
"Kamu udah sarapan Dis?" tanya Daffa membuyarkan lamunan Dista.
"Sudah mas, mas Daffa mau sarapan sekarang?" tanya Dista yang masih gelagapan.
"Aku mandi dulu." Daffa kembali masuk ke kamar setelah ia meminum segelas air putih
"Mau aku siapin baju apa mas??"
"Kaos sama celana pendek aja. Aku gak kemana-mana hari ini." jawab Daffa.
"Baik mas." Dista mengikuti langkah Daffa menuju kamarnya. Setelah mengambil kaos polos berwarna putih dan celana pendek, Dista bergegas keluar dari kamar itu. Takut keburu Daffa keluar dari kamar mandi. Bisa ileran tuh Dista.
Seharian keduanya hanya berdiam di apartemen. Tapi mereka berada di kamar masing-masing. Mendekati jam makan siang, Dista memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Daffa
tok..tok..tok...
"Masuk.." terdengar Jawaban dari dalam.
ceklek pintu terbuka.
"Mas Daffa mau aku masakin apa buat makan siang nanti?? "tanya Dista. Sepertinya itu hanya alasan Dista supaya bisa memandang wajah tampan suaminya.
"Terserah kamu aja."
"Oke..." Dista menutup kembali pintu kamar Daffa. Ia menuju ke dapur dibukanya kulkas untuk mencari bahan apa saja yang masih ada di sana.
"Ada yang bisa aku bantu??" suara Daffa terdengar di belakang Dista.
"Eh.. mas Daffa ngagetin aja deh. Emang beneran mau bantuin aku masak??" goda Dista.
"Beneran dong. Kalau cuma potong-potong sayur atau kupas bawang sih aku bisa."
"Kalau begitu tolong mas Daffa potongin sayurannya ya. Tuh pisaunya ada di situ."
Saat Daffa akan mengambil pisau yang berada hadapan Dista, disaat yang bersamaan Dista berbalik hendak menuju wastafel.
Deg...
Tubuh keduanya begitu dekat bahkan berdempetan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. Netra keduanya bertemu, saling mengunci pandangan masing-masing.
Srrrr.... perasaan aneh mereka rasakan. Bagai terhipnotis, keduanya diam membisu tak bergerak sedikitpun. Hingga beberapa menit kemudian..
"Maaf mas..." Dista menundukkan wajahnya. Pipinya memerah seketika.
"Ah iya, aku mau ambil pisaunya." Jawab Daffa gelagapan.
Mereka seperti maling yang ketahuan mencuri saja. Hah.. dasar payah.
"Kamu mau masak apa Dis?" tanya Daffa mencoba mencairkan suasana.
"Sayur lodeh sama ayam goreng mas." jawab Dista berusaha menyembunyikan rasa groginya.
Akhirnya mereka saling membantu. Memasak bersama sungguh menyenangkan. Mereka saling bercanda dan menjahili satu sama lain. Hilang sudah sosok Daffa yang pendiam, berganti Daffa yang ceria dan penuh senyuman.
Makan siang pun berlangsung menyenangkan. Hal sederhana sudah membuat Dista sangat bahagia asalkan itu bersama Daffa.
Dista mulai menyadari perasaannya untuk Daffa. Meskipun ia tahu itu menyalahi perjanjian yang mereka buat. Tapi Dista tak bisa mencegah hatinya untuk tidak jatuh cinta kepada suaminya tersebut.
Apalagi akhir-akhir ini Daffa menunjukkan perhatiannya untuk Dista. Semakin berbunga-bunga hati gadis cantik itu.
****
"Mas nanti aku mau belanja kebutuhan dapur. Udah pada habis semua." Dista meminta izin pada suaminya saat mereka tengah sarapan.
"Kamu sama mama??" tanya Daffa. Karena Dista hampir tak pernah keluar tanpa mama.
"Enggak mas.. aku sendiri aja."
"Kalau begitu biar aku antar. Pagi ini aku ada meeting, nanti jam 11 aku jemput kamu sekalian makan siang di luar." ajak Daffa. Semakin bermekaran lah bunga-bunga di hati Dista.
"Apa tidak merepotkan mas Daffa??" dengan menekan kegembiraan dalam hatinya.
"Nggak repot kok.. ya udah aku berangkat dulu."
Dista mengantar Daffa sampai depan pintu.
"Mas... boleh cium tangan??" tanya Dista ragu-ragu. Pasalnya selama hampir dua bulan mereka menikah, baru sekali Dista mencium tangan suaminya. Itupun terjadi saat selesai ijab qobul.
Daffa mengernyitkan kening. Kemudian berkata "Boleh!" sambil menyodorkan tangannya.
Dengan senang hati Dista menyambut uluran tangan suaminya. Setelah Dista melepaskan tangan suaminya, tiba-tiba
cup...
Sebuah kecupan mendarat di kening Dista. Blluuss.. rona merah di wajah cantik Dista tak terelakkan lagi. Begitu pun dengan Daffa, dan ia bergegas pergi.
Setelah menutup pintu. Dista melompat kegirangan, berlari ke kamar dan berguling-guling di atas kasur.
Sungguh seperti mimpi. Mengingat Daffa yang selalu dalam mode silent. Dan hanya mengeluarkan kata-kata saat memarahi karyawannya saja. Tapi pagi ini, bahkan ia mendapat sebuah kecupan manis. Yang pastinya tak akan pernah ia lupakan.
Daffa melajukan mobilnya perlahan menuju pusat perbelanjaan, setelah menjemput sang istri di apartemen. Usai memarkirkan mobilnya. Daffa menggandeng tangan Dista dan membawa gadis itu masuk ke dalam mall.
Dista mulai berburu barang-barang yang ia butuhkan. Daffa dengan sabar mendorong troli dan mengikuti kemana pun Dista melangkah. Sudah seperti suami setia yang menuruti semua perintah istrinya.
"Kita makan siang dulu." ajak Daffa setelah mereka keluar dari toko tersebut.
,"Iya mas.. "
Sebelah tangan Daffa menenteng belanjaan dan yang lain menggandeng tangan Dista.
"Kita makan di restoran Jepang yang ada di mall ini aja ya?" tanya Daffa meminta persetujuan istrinya.
"Terserah mas Daffa." jawab Dista. Dia mana ngerti tempat makan yang enak atau berkelas. yang Dista tahu cuma kang bakso di pinggir jalan. Kang siomay, mie ayam dan ketoprak di dekat taman.
Mereka masuk ke sebuah restoran Jepang. Tidak terlalu besar tapi tampak bersih. Dan juga ramai pengunjung.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Daffa
"Hah... aku gak ngerti mas." jawab Dista sambil membolak-balikkan buku menu yang ia pegang.
Daffa tersenyum melihat kelakuan istri nya, yang tampak sangat polos. Semakin menggemaskan di mata Daffa.
"Ya sudah biar aku yang pesan."
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Dista tampak bingung dengan hidangan di hadapannya itu. Hanya satu jenis makanan yang ia tahu sushi. Yang lainnya entahlah itu makanan apa.
"Ayo di coba, kamu pasti belum pernah makan beginian ya?!" tebak Daffa. Yang ditanya hanya nyengir kuda.
Bersambung....