
Malam semakin larut, acara resepsi pun usai. Tamu undangan telah meninggalkan gedung tersebut.
"Fa, kenapa gak nginep di hotel aja sih malam ini??" tanya nyonya Ratih.
"Bener tuh kak, biar lebih asyik malam pertamanya!" Daffy tersenyum simpul menggoda sang kakak.
"Tidak, aku langsung balik ke apartemen aja!" ucap Daffa dengan wajah datarnya.
"Aku balik dulu mah, pah..." pamit Daffa sambil melangkah pergi tanpa memperdulikan Daffy yang cengengesan disampingnya.
"Permisi mah, pah, mas Daffy... Kami pamit dulu." Dista sembari menganggukkan kepalanya.
Kedua pasangan pengantin baru ini pun berlalu meninggalkan aula gedung mewah tersebut.
"Pah, mah, aku antar Karin dulu ya.. !"
Merekapun meninggalkan gedung resepsi, menuju tujuan mereka masing-masing.
*******
Apartemen Daffa.
Mobil berhenti di depan apartemen. Tampak Beni membukakan pintu mobil untuk Daffa dan Dista.
"Silahkan pak...!" ucap Beni.
"Ben, tetap disini jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali." titah Daffa.
"Baik pak" jawab Beni yang tampak kebingungan.
Daffa dan Dista berjalan beriringan masuk ke dalam lobby apartemen. Mereka menuju lift dan segera masuk saat pintu lift terbuka.
ting..
Pintu lift terbuka saat telah sampai di lantai 10 yang mereka tuju. Daffa berjalan di depan, Dista mengekor di belakang Daffa.
Setelah Daffa menekan beberapa tombol angka pintu pun terbuka. Dista mengikuti Daffa masuk ke dalam apartemennya. Tampak mata Dista terbelalak tak dapat menyembunyikan kekagumannya atas kemewahan tempat tinggal Daffa.
"Ini apartemen bapak??" Dista berdecak kagum.
"Iya, itu kamarmu disebelah sana" sambil menunjuk kearah pintu salah satu kamar.
"Apartemen bapak luas dan mewah."
"Aku pergi dulu..." melangkah kearah pintu keluar.
"Bapak mau kemana??" Dista penasaran malam-malam begini suaminya itu mau kemana.
"Bukan urusan mu!! Satu lagi, jangan panggil bapak! Aku bukan bapak mu" sahut Daffa ketus kemudian berlalu meninggalkan Dista sendiri di tempat itu.
"Dasar menyebalkan!! Emang dia pikir aku bakal nangis bombay kayak di sinetron-sinetron, gara-gara ditinggal pergi pas malam pertama!!" gerutu Dista.
"Aku malah bersyukur, setidaknya aku bisa tidur nyenyak malam ini...Hihihi..." Dista menuju kamarnya.
Membuka pintu kamar, kemudian Dista menuju kamar mandi. Ia segera membersihkan diri, badannya terasa lengket. 20 menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dista melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, kini tampak lebih segar. Segera ia rebahkan tubuhnya di atas kasur yang terlihat begitu empuk.
Tak berapa lama ia pun terlelap. Masuk ke dunia mimpi yang mungkin sangat indah, dan lebih indah dari hari-hari yang telah Dista lalui.
Pagi hari.
"Bangun!!" teriak Daffa.
Dista mengerjapkan matanya, ia buka perlahan. "Maaf pak.." sambil menggeliat.
Dista bangun dan duduk di tepi ranjang, Dengan muka bantalnya.
"Dasar pemalas... cepat bangun! Buatkan aku sarapan." ucap Daffa ketus.
"Bapak mau sarapan apa?!" tanya Dista.
"Apa saja.... bisa tidak Berhenti panggil aku bapak!"
"Lalu aku harus panggil apa?" Dista merasa tak sopan jika memanggil nama Daffa.
"Terserah." jawab Daffa ketus.
"Aku panggil mas Daffa ya..." sambil tersenyum.
Dista turun dari ranjang kemudian mencuci muka di kamar mandi. Segera ia berlari ke dapur. Tapi Dista tampak bingung mau masak apa.
"Mas Daffa...." panggil Dista.
"Apa lagi??!"
"Aku bikin mie instan ya... Sama telur ceplok?" ucap Dista penuh harap. Karena memang Dista tak bisa masak sama sekali.
"Memang gak bisa masak yang lain??!"
Dista hanya menggeleng sambil terus menunduk.
"Dasar tidak berguna!" ucap Daffa ketus. "Aku sarapan di luar, terserah kamu mau makan apa!"
"Mas Daffa mau ke kantor hari ini?!"
"Hallo... Maaf ganggu pengantin baru pagi-pagi begini." terdengar suara diseberang.
"Maaf ini dengan siapa ya...?"
"Ini mama Dis..."
"Eh... Mama, selamat pagi ma!!"
"pagi.... hari ini kamu ada rencana kemana? apa masih mau lanjut di ranjang aja??" Mama Ratih sambil terkekeh.
"Di ranjang juga sendirian" batin Dista." Gak kemana-mana ma, lagian mas Daffa juga udah keluar tadi."
"Emang Daffa mau kemana?"
"Katanya ada urusan." kilah Dista.
"Apa kamu udah sarapan??!" tanya mama Ratih.
"Belum ma..."
"ya sudah, kamu siap-siap mama akan jemput kamu sekarang."
"Baik ma..." Dista bergegas mandi dan bersiap-siap. Baru beberapa kali Dista bertemu dengan mertuanya tersebut, tapi mereka langsung akrab. Bahkan mama Ratih sudah menganggap Dista seperti anak kandung sendiri. Mungkin karena ia sangat mendambakan anak perempuan yang tak pernah bisa terwujud.
Tiga puluh menit kemudian, hape dista berdering tampak nama mama Ratih di layar hapenya. Setelah telepon tadi, Dista menyimpan nomor mertuanya itu.
"Mama tunggu di lobby!"
"Baik ma...Aku turun sekarang." jawab Dista.
Mobil melaju sedang membelah jalanan yang cukup macet pagi ini.
"Kita mau kemana ma???" tanya Dista.
"Kita sarapan dulu, setelah itu jalan-jalan ya. Mama sudah lama gak ke mall. Sekarang ada kamu, mama jadi semangat pengen cuci mata." tersungging senyum di bibir merah Ratih.
"Iya ma, aku ikut aja...!"
Mereka sampai di sebuah restoran yang cukup mewah. Mama Ratih memesan beberapa menu favoritnya. Dista menurut saja apa yang dipesan mertuanya itu.
"Dis .. Gimana malam pertamanya??" goda mama Ratih.
"Uhuk..Uhuukk..." Dista tersedak dan segara menyambar segelas air putih di meja.
"Pelan-pelan sayang..."
"Baik kok ma." Dista bingung mau jawab apa.
"Apa Daffa bersikap baik sama kamu??" tanya mama Ratih penuh selidik.
"Mas Daffa baik kok ma." Dista menutupi kekesalannya kepada sang suami.
"Daffa itu orangnya sangat tertutup, dia paling susah mengungkapkan apa yang dia rasakan. Orangnya cuek, misterius kadang nyebelin juga." mama Ratih tersenyum memaparkan sifat anak sulungnya tersebut.
"Kamu kan belum lama mengenal Daffa, mama harap kalian bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain."
"Iya ma..." meskipun hanya dalam 6 bulan mereka akan menjalani peran sebagai suami istri, ada baiknya kalau mengenal pribadi pasangannya. Setidaknya akan bisa mengurangi drama makan hati karena selalu salah di mata Daffa, pikir Dista.
"Oh ya ma.. Kalau boleh tahu, apa makanan favorit mas Daffa??" tanya Dista.
"Emm.. Daffa suka seafood, udang, kepiting,.... kerang juga dia suka. Sayur juga makanan wajib buat Daffa."
"Kamu mau masak makanan kesukaan suami mu?" goda mama Ratih.
Dista tersipu malu, "Tapi sayangnya, Dista gak bisa masak ma!" Dista merasa bersalah.
Bu Ratih tersenyum mendengar pengakuan polos dari menantunya itu. "Nanti kita belanja, terus masak di apartemen mu ya. Mama akan ajari kamu masak menu favorit suami mu."
Jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Dista dan mama Ratih telah sampai di apartemen dengan 2 kantong kresek besar berisi bahan makanan.
Kedua orang itu menuju dapur. Ratih mengajari Dista dengan telaten, step by step memasak menu kesukaan Daffa. Dista memperhatikan dengan serius peragaan memasak mertuanya itu.
"Coba kamu cicipi Dis!" perintah mama Ratih.
Dista meraih sendok di sampingnya kemudian mencicipi masakan sang mertua. "Emm... Ini enak banget ma!" seru Dista.
"Kalau masakan mama seenak ini, apa aku bisa masak seenak masakan mama." Ucap Dista dengan cemberut.
"Kamu pasti bisa sayang... Mama kan udah kasih resep rahasia andalan mama, kamu sering-sering aja praktekkan. Lama-lama juga kamu mahir." Ratih menyemangati menantu nya.
"Kamu coba telepon Daffa, dia mau makan siang di rumah atau tidak?" perintah Ratih.
"Baik ma" Dista mencoba menghubungi Daffa, tapi tak ada jawaban.
"Gak diangkat ma..." ucap Dista kecewa.
"Ya udah, kita makan berdua aja."
Dista tersenyum. Tapi ada kekecewaan di hatinya, entahlah perasaan apa yang hinggap di hatinya kini.
Bersambung....