Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Kejutan.


"Halo mas, apa nanti kamu lembur lagi?" tanya Dista saat Daffa menyapa di ujung telepon.


"Sepertinya begitu sayang. Kenapa, kangen ya?" goda Daffa.


"Nggak usah kepedean!" jawab Dista.


Daffa terkekeh, ia sangat senang menggoda istri manisnya itu.


"Iya maaf. Sebenarnya aku yang sangat merindukan mu. Apa lagi adik kecil!" Daffa menghela nafas.


Beberapa hari ini, saat ia harus selalu lembur. Daffa terlalu lelah untuk menyentuh istrinya. Padahal biasanya, tiada malam tanpa de sahan dan erangan sepasang suami-istri itu. Ranjang yang selalu membara kini dingin sedingin salju.


"Otak mesumnya kumat!" ucap Dista dengan wajah merona.


"Kamu sudah makan mas?" tanya Dista.


"Mesum gini tapi kamu suka. Tenang saja, mesumnya cuma sama istri ku tercinta." jawab Daffa sambil tersenyum lebar.


"Aku baru selesai makan sayang. Gimana makan siangnya dengan Karin? Menyenangkan?" tanya Daffa.


"Sangat menyenangkan. Ternyata Mbak Karin orangnya asyik ya mas. Dan rame banget. Aku pikir dia itu jaim." cerocos Dista yang semakin membuat suaminya itu ketar ketir menahan kerinduan dan hasratnya.


"Karin memang orang yang baik dan mudah bergaul. Di usia muda dia sudah mencapai karir yang cemerlang." tambah Daffa.


"Tapi gara-gara punya karir bagus, jadi nggak nikah-nikah." sesal Dista.


"Ya sudah mas, selamat bekerja. Semangat suami ku!! I love you." Dista mengakhiri sambungan teleponnya.


"I love you too." jawab Daffa sebelum menutup telepon.


Setengah jam kemudian Dista sampai di lantai paling atas gedung perusahaan Wiguna grup. Ia sengaja ingin memberi kejutan untuk suami tercinta, ia tidak memberi tahu Daffa akan kedatangannya kali ini. Dista menenteng kantong plastik berisi kopi, yang ia beli di restoran tadi.


Fany melihat Dista yang baru keluar dari lift khusus petinggi perusahaan. Terlihat senyum mengembang di bibirnya. Tampak bahwa Dista baik-baik saja.


"Bagaimana bocah itu tampak baik-baik saja. Apa dia tidak menangkap sinyal-sinyal yang aku berikan. Bahkan aku berhasil membuat Daffa harus lembur akhir-akhir ini. Atau mungkin memang dia gadis bodoh yang tidak mengerti semua ucapan ku waktu itu." gerutu Fany dalam hati.


"Ternyata menghadapi orang idiot tidak bisa dengan bahasa tersirat. Oke, kali ini lihat saja apa yang akan terjadi." Fany tersenyum smirk.


Fany bergegas menuju ke ruangan Daffa. Ia membawa beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Daffa.


"Kali ini harus berhasil. Kalau aku tidak bisa menarik perhatian Daffa. Maka satu-satunya cara adalah merusak hubungan mereka." batin Fany saat mendekati meja Daffa.


"Maaf pak, ada beberapa dokumen yang harus Bapak tanda tangani." ucap Fany sambil menyerahkan dokumen dokumen tersebut.


Hanya butuh waktu tak sampai satu menit untuk Daffa membubuhkan tanda tangannya. Fany kemudian mengambil dokumen itu kembali. Saat ia yakin pintu akan terbuka, dengan sengaja Fany berpura-pura akan terjatuh.


Daffa refleks menangkap tubuh Fany yang berada di sampingnya. Tangan Daffa melingkar di pinggang wanita itu. Dan tatapan mata mereka bertemu.


Ceklek.. pintu terbuka.


Dista terkesiap melihat pemandangan di depan matanya. Pikirannya tiba-tiba kosong. Kilatan muram tampak menghiasi wajah cantiknya.


Daffa yang menyadari kehadiran istrinya, segera melepaskan tubuh Fany. Ia tampak khawatir kalau Dista salah paham dengan apa yang ia lihat barusan.


Berbeda dengan Fany. Ia nampak puas melihat reaksi wajah Daffa. Meskipun ia belum melihat reaksi Dista.


"Sayang, kamu jangan salah sangka. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Daffa berusaha menjelaskan.


"Maaf, Bu Dista pak Daffa hanya berusaha menolong saya tadi. Saya permisi!"


Fany berjalan keluar dari ruangan Daffa, melewati Dista dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sedangkan Dista masih diam membisu. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. Menggabungkan puzzle kejadian yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.


"Sayang!!" Daffa menghampiri istrinya yang masih diam tak bergerak. Terlihat pandangannya kosong.


"Sayang.. ayo duduk!" Ajak Daffa sambil merangkul pundak istrinya. Dista hanya mengikuti langkah Daffa tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Mas..!!" panggil Dista saat mereka sudah duduk di sofa.


"Ada apa sayang? Kamu jangan berpikir macam-macam. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Fany. Aku hanya membantu Fany yang tadi hampir terjatuh." Daffa mencoba memberikan penjelasan.


"Kamu yakin?" tanya Dista menelisik wajah suaminya. Mencoba mencari kebenaran di sana.


"Aku berani bersumpah sayang!" ucap Daffa meyakinkan.


"Tapi tadi kalian tampak sangat dekat, sangat intim." tutur Dista dengan bergetar.


"Sayang aku mohon percaya padaku. Aku tidak mungkin mengkhianati mu. Aku sangat mencintai mu!" Daffa menggenggam erat tangan Dista. Berharap Dista akan mempercayai ucapannya.


"Aku pulang saja mas, aku ingin sendiri." ujar Dista melepaskan genggaman tangan Daffa.


"Aku hanya ingin memberikan mu kejutan, tapi malah aku yang terkejut." Dista tersenyum miris.


"Jangan lupa diminum kopinya. Aku sengaja membeli untuk mu." ujar Dista tanpa melihat lawan bicaranya, yang wajahnya tampak sangat panik.


"Aku pergi dulu!" pamit Dista.


"Sayang, biar aku antar. Kita pulang sama-sama. Tadi aku juga berencana pulang cepat." tawar Daffa.


Dista berjalan meninggalkan ruangan Daffa. Sedangkan Daffa masih mengikuti di belakangnya. Saat melewati ruangan sekretaris, terdengar suara Fany memanggil


"Pak Daffa, bagaimana dengan rapat nanti sore pak?" tanya Fany mencoba mencegah kepergian Daffa.


"Suruh Beny menggantikan ku!" seru Daffa sambil berlari mengejar sang istri.


"Tapi pak rapat ini sangat penting. Bagaimana mungkin Bapak mengabaikannya?" Fany mencoba mengejar Daffa.


Daffa menghentikan langkahnya. Dan berbalik menatap tajam sekretarisnya itu.


"Istri saya jauh lebih penting dari apapun!! Jangan coba-coba membantah ucapan saya. Mengerti!!" Hardik Daffa dengan sorot mata setajam elang.


"Baik pak!" Fany menggigil ketakutan. Meskipun ia sudah lama mengenal Daffa, tapi baru kali ini ia melihat kemarahan lelaki itu.


Ya, Fany mengenal Daffa di bangku sekolah dengan karakter pendiam dan tidak mudah bergaul. Bahkan selama mereka berpacaran tak pernah sekalipun Fany melihat kemarahan Daffa. Dan saat menghadapi lawan bisnisnya, Daffa juga tampak tenang dan berwibawa. Meskipun tak jarang ia menampilkan sisi tegasnya.


Tapi kali ini ia melihat sisi lain dari Daffa. Ia bisa semarah itu padanya karena seorang perempuan. Betapa pentingnya perempuan itu di hati Daffa.


"Melihat ini aku yakin akan sulit menggeser posisi Dista di hati Daffa. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku harus mendapatkan kembali cinta Daffa." batin Fany.


Sementara Dista sudah berada di loby. Ia menunggu taksi online yang sempat ia pesan.


Daffa menghampiri istrinya dengan tergopoh-gopoh.


"Sayang, kita pulang bareng ya!" bujuk Daffa.


"Aku butuh waktu untuk sendiri mas. Tolong berhenti mengikuti ku." pinta Dista.


Tak lama taksi pesanannya datang. Dista segera naik dan melesat meninggalkan kantor sang suami.


Daffa menatap kepergian Dista dengan sejuta kekhawatiran.


Bersambung....