Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Siasat Fany


"Kamu yakin sudah mengirimkan foto-foto itu ke nomor yang benar?" tanya Fany kepada seseorang diujung telepon.


"Sudah bos!" jawab seorang lelaki.


"Kamu yakin??" tanyanya memastikan.


"Sangat yakin bos, bahkan sudah dilihat." orang itu meyakinkan, Karena memang tanda centang dua sudah berubah warna menjadi biru.


"Oke, kamu tetap ikuti kemana pun Dista pergi. Jangan sampai lengah!" perintah Fany.


"Siap bos!!" Panggilan berakhir.


Daffa berjalan bersama asisten Beny menuju ruangannya. Tampak baik-baik saja. Tak terpengaruh sama sekali dengan foto yang dikirimkan orang suruhannya.


Fany mendengus kesal. Bagaimana ini bisa terjadi. Apakah pasangan itu benar-benar mempunyai temperamen yang mengesankan? Dista yang masih bocah bau kencur, tidak terpancing sama sekali dengan ulahnya. Dan sekarang Daffa juga mengabaikan hasil pengintaian yang ia manipulasi.


"Baiklah, aku sudah bosan bermain-main. Hampir satu bulan aku berada di perusahaan ini, tapi belum mendapatkan hasil yang aku mau." batin Fany.


Tok..tok...


Fany mengetuk pintu, setelah mendapatkan izin untuk masuk ia segera membuka pintu dan berjalan masuk.


"Selamat siang pak Daffa!" sapa Fany sambil mengangguk.


"Ada apa Fan?" tanya Daffa.


"Maaf pak, ada masalah dengan anak perusahaan di Bandung!" jawab Fany.


"Masalah??" tanya Daffa dengan mengernyitan keningnya.


"Iya pak. Saya baru menerima laporan tadi pagi. Pimpinan cabang mengharapkan kehadiran anda." tambah Fany.


"Apakah Sangat mendesak, sehingga harus aku yang turun tangan?" kesal Daffa.


"Sangat mendesak pak! Beberapa investor besar mengancam akan mencabut investasi mereka." terang Fany.


"Mana laporannya?" tanya Daffa.


"Ini pak!" Fany menyerahkan dokumen laporan cabang perusahaan di Bandung.


"Kau boleh pergi!" titah Daffa.


"Baik pak!!" jawab Fany.


Pukul tiga sore, Daffa meninggalkan kantor bersama asisten Beny. Mereka meluncur ke Bandung.


Dalam perjalanan Daffa menghubungi istrinya.


"Hallo mas!" sapa Dista


"Sayang, aku dalam perjalanan ke Bandung bersama Beny. Mungkin lusa baru pulang!" ujar Daffa.


"Kenapa mendadak mas?" tanya Dista.


"Ada masalah dengan anak perusahaan di Bandung. Aku harus turun tangan sendiri." papar Daffa.


"Baiklah kalau begitu hati-hati mas!" pesan Dista.


"Iya sayang. Jaga diri baik-baik!" balas Daffa.


Usai makan malam seorang diri, Dista merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengotak-atik hapenya. Berharap ada pesan atau telepon dari Daffa.


Dista tak berani menghubungi suaminya duluan, karena takut mengganggu. Ia hanya bisa menunggu dengan sabar kabar dari pujaan hatinya.


Dista membuka matanya saat mendengar hapenya berbunyi. Ia ketiduran setelah menunggu beberapa lama.


Tapi yang muncul di layar ponselnya adalah nomor asing yang tak ia kenal.


"Nomor siapa ya? Kenapa telepon malam-malam begini! Aku angkat atau tidak ya?" gumam Dista sampai panggilan pertama mati.


Tak berselang lama, handphone Dista kembali berbunyi. Dan panggilan dari nomor yang sama.


"Halo... maaf ini dengan siapa?" tanya Dista yang akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut.


"Halo, apakah benar ini dengan Bu Dista?" tanya suara di seberang.


"Kami dari rumah sakit, mau mengabarkan bahwa pak Daffa mengalami kecelakaan. Saat ini sedang dirawat di sini." ujar laki-laki di seberang telepon.


Dista gemetaran, berusaha menguatkan hati untuk menerima berita buruk ini.


"Di.. dimana suami saya sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?" Dista memberondong dengan banyak pertanyaan.


Jantungnya berdegup dengan kencang. Sesak semakin merasuk jantungnya. Air mata mengalir semakin deras membasahi pipinya.


"Orang suruhan pak Daffa akan menjemput anda, silahkan anda bersiap-siap. Mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen anda. Mohon menunggu di loby apartemen." pinta laki-laki tersebut.


"Baiklah. Saya tunggu di loby." jawab Dista cepat.


Dista menghapus air matanya. Kemudian mengambil jaket dari dalam lemari. Ia tak mengganti piyama yang melekat di tubuhnya. Hanya menutupinya dengan jaket.


Diraih ponselnya dan dimasukkan ke dalam saku jaket. Dista bergegas menuju loby. Saat baru keluar dari lift, seseorang menyapanya.


"Selamat malam Bu Dista. Saya ditugaskan untuk menjemput anda. Silahkan ikuti saya!" ucap lelaki tersebut.


"Apa anda orang suruhan mas Daffa?" tanya Dista memastikan.


"Iya benar Bu. Mari.." jawab lelaki tersebut.


Lelaki berbadan tegap itu membukakan pintu untuk Dista. Dista hanya mengikutinya kemudian masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil sudah ada sang pengemudi.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan ibu kota yang tampak sedikit lengang. Tentu saja mobilitas di jalan sudah berkurang, waktu menunjukkan pukul dua dini hari.


"Pak, mas Daffa berada di rumah sakit mana?" tanya Dista yang masih gelisah memikirkan suaminya.


"Rumah sakit di pinggiran Jakarta bu. Bu Dista jangan terlalu cemas, pak Daffa hanya mengalami luka ringan. Beliau cuma butuh istirahat." jawab lelaki tersebut sambil melirik rekannya yang mengemudi.


"Ibu minum dulu, biar lebih rileks." tawar lelaki tersebut sambil menyodorkan minuman kemasan.


"Terima kasih!" jawab Dista sambil menerima minuman itu. Segera Dista teguk minuman kemasan tersebut hingga tinggal setengah.


"Bapak-bapak ini apakah pegawai di kantor Mas Daffa?" tanya Dista kemudian, karena ia merasa asing dan belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.


"Iya Bu, kami orang suruhan Pak Daffa di kantor!" jawab pria yang sedang mengemudi.


"Oh..." gumam Dista. "Kenapa kepala ku tiba-tiba pusing?" ucap Dista lirih. Kepalanya terasa berat, pusing.. dan akhirnya Dista pingsan.


Kedua lelaki tersebut saling pandang dan tersenyum smirk.


Di tempat lain, tampak tiga orang pria muda baru keluar dari klub. Mereka tampak sempoyongan, mungkin karena mabuk.


"Pesan taksi online, mobil mu tinggal di sini saja." ujar salah seorang dari mereka.


"Oke." jawab pria tampan yang tak lain adalah Ramon.


"Aku sudah pesan taksi. Gara-gara kalian aku jadi nggak bisa nyetir." gerutu Ramon sambil menyandarkan tubuhnya ke badan mobil.


"Sorry... sekali-sekali kan nggak apa-apa! Sudah lama kita nggak bersenang-senang!" jawab salah satu temannya sambil terkekeh.


Tak berselang lama sebuah mobil menghampiri mereka.


"Selamat malam tuan Ramon, saya ditugaskan oleh ayah anda untuk menjemput anda. Mari ikut saya." ujar seorang lelaki kepada Ramon.


Ramon menyipitkan matanya, memperhatikan orang tersebut.


"Kamu siapa?" tanya Ramon.


"Saya sopir baru, ini hari pertama saya bekerja untuk tuan Rendra." jawab orang itu santai.


"Bagaimana papa tahu aku kesini? Hah... padahal aku pergi diam-diam!" kekeh Ramon di sahuti kekehan teman-temannya.


"Mari silahkan masuk." ujar orang yang menurut Ramon asing tersebut dengan membuka pintu mobil untuk Ramon.


"Aku pergi dulu, sebentar lagi taksinya datang. Jangan lupa di bayar!" pamit Ramon sambil tertawa. Ia mengikuti sopir tersebut masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh darinya.


"Mobil baru?" tanya Ramon saat sudah berada dalam mobil yang menjemputnya. Ia merasa tak mengenal mobil ini. Apakah papanya membeli mobil baru? Tapi seperti mobil murah.


Akhirnya Ramon pun tertidur...


Bersambung....