
"Gadis ini matre juga, memang semua perempuan sama cihh" batin Daffa.
"Baiklah" jawab Daffa.
"Terima kasih pak!" Dista merasa lega, setidaknya dia bisa melunasi hutangnya dengan cepat.
"Sana ikuti Citra, kamu pilih gaun untuk pernikahan kita. Juga untuk kamu pakai nanti siang, kita akan makan siang bersama keluarga ku." titah Daffa.
"Baik pak!"
Dista mengikuti langkah Citra untuk memilih gaun, tapi dia lebih memilih untuk mendengarkan saran Citra. Dista yakin Citra lebih berpengalaman dan mempunyai selera yang bagus. Dibandingkan dengan dirinya yang sama sekali tidak mengerti fashion.
"Mbak Dista, bagaimana kalau yang ini?" sambil menyodorkan sebuah gaun berwarna Biru pastel dengan hiasan payet kristal Swarovski. Dipadu dengan bordir halus menambah kesan mewah dan elegan.
"Terserah mbak Citra saja... Aku pasti suka!" Sahut Dista dengan tersenyum manis.
"Pak Daffa, apakah bapak setuju dengan pilihan saya ini?" Citra memastikan.
"Terserah kalian saja!" jawab Daffa tanpa menoleh dan masih berkutat dengan hape di tangannya.
"Baiklah...!" Citra sangat bersyukur karena pelanggannya kali ini tidak membuatnya repot. Kemudian dia mengambil sebuah kebaya dan memperlihatkannya kepada Dista.
"Bagaimana dengan kebaya ini? Saya rasa sangat cocok mbak Dista pakai saat akad!"
"Aku suka mbk..." Dista juga tidak mau terlalu ribet, lagian pernikahan ini bukanlah pernikahan impiannya.
"Kalau begitu mari kita coba mbak, pak Daffa mari ikut saya ke ruang ganti" Citra melangkah menuju ruang ganti "Silahkan pak, mbak..."
Dista masuk ke ruang ganti yang ditunjuk oleh Citra. Tak berapa lama Dista keluar menggunakan gaun pertama untuk resepsi.
"Wah mbk Dista cocok sekali memakai gaun itu. Bagaimana mbk.. Apa kebesaran atau bagaimana?"
"Sedikit kebesaran mbk.. Tolong disesuaikan ya! mana gaun satu lagi, biar aku coba"
Citra memberikan kebaya kepada Dista, sedangkan Daffa sama sekali tidak memperhatikan kehebohan dua wanita itu.
Dista telah masuk kembali ke ruang ganti. Mengganti gaun tadi dengan kebaya. Kemudian dia keluar.
"Mbak Citra, aku suka dengan kebaya ini... Ukurannya juga pas di badan ku!" Dista tersenyum riang.
"Pak Daffa, silahkan dicoba bajunya." Citra menyodorkan dua buah baju di tangannya.
"Tidak usah, kamu kan tahu size baju-baju saya. Kamu sama kan saja. Oh ya, pilihkan juga baju yang bagus buat Dista untuk menemaniku makan siang hari ini.Jangan bikin aku malu." sambil melirik ke arah Dista.
Dista hanya manyun mendengar ucapan Daffa.
"Bagaimana dengan dress ini mbk?" Citra menunjukkan sebuah dress warna pastel tanpa lengan, dengan panjang rok di bawah lutut.
"Aku coba ya mbk!" Dengan ragu-ragu Dista membawa dress itu masuk kembali ke ruang ganti. Maklum saja, Dista lebih suka memakai jeans dan T-shirt oblong.
"Gimana mbak, apa aku cocok dengan dress ini?"
"Wah ini sangat cocok, benarkan pak?!" Citra melirik ke arah Daffa.
Daffa sekilas melirik Dista, "Hemm..." hanya itu yang keluar dari mulutnya, padahal dalam hatinya mengiyakan kalau Dista sangat cocok dengan dress itu.
"Oh ya mbk, sepatu ini sepertinya cocok dengan dress yang mbak Dista pakai." Citra menyodorkan sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi.
"Harus ya mbak... Aku tidak biasa pakai heels!"
"Ini tidak terlalu tinggi kok"
Setelah Dista memakai sepatu, Daffa segera mengajaknya ke salon yang letaknya tidak jauh dari butik. Daffa sering mengantar dan menjemput mamanya di salon itu, jadi sebagian pegawai salon sudah mengenalnya.
"Selamat siang pak Daffa, ada yang bisa saya bantu!" sapa pegawai salon.
"Kamu dandani dia, jangan terlalu berlebihan." perintah Daffa.
"Baik pak. Mari mbak ikut saya!" Dista mengikuti pegawai salon tersebut.
Tak berapa lama mereka berdua kembali ke hadapan Daffa. "Bagaimana pak?"
Daffa menatap gadis yang sebentar lagi menjadi istrinya dari atas ke bawah, tak dipungkiri dalam hatinya memuji kecantikan gadis ini. Dengan sedikit polesan make up membuatnya tampak begitu mempesona. Sangat serasi dengan dress yang dikenakannya saat ini.
"Oke.. Ayo, papa dan mama sudah menunggu."
Dista mengikuti Daffa keluar dari salon menuju mobil yang terparkir di depan. Mobil pun meluncur menyusuri jalanan yang tidak terlalu padat.
Dista menurut saja dengan semua perkataan Daffa, dalam benaknya yang penting sebentar lagi dia bisa melunasi hutang-hutang yang membebani hidupnya selama ini.
Sampai di depan restoran mewah, mobil pun berhenti. Mereka memasuki restoran dengan beriringan. Dista tampak heran karena restoran cukup ramai dengan keberadaan awak media.
"Iya, kita adakan konferensi pers!"
"Untuk apa?!"
"Tentu saja mengumumkan pernikahan kita."
"Itu mereka sudah datang. Ayo sayang, duduk sini!" Sapa Ratih kepada anak dan calon menantunya. Padahal mereka belum saling kenal, bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.
Dista mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua menghampiri Ratih dan Wiguna yang sudah datang lebih dulu.
"Karena yang ditunggu sudah datang, mari kita mulai." suara Wiguna membuka konferensi pers siang ini. "Saya akan mengumumkan kabar bahagia, bahwasanya anak tertua saya Daffa Wiguna akan melangsungkan pernikahan dengan gadis pilihannya. Acara akan digelar hari minggu ini, di hotel keluarga."
Daffa mengambil alih "Dan saya ingin meluruskan berita yang beredar selama ini yang memojokkan dan sangat merugikan saya. Di Samping saya ini adalah calon istri saya, namanya Dista. Tidak lain adalah gadis yang kalian beritakan mendapat tindakan tidak senonoh dari saya. Yang sebenarnya adalah kami sudah menjalin hubungan beberapa bulan belakangan ini." Daffa tanpa sungkan meraih tangan Dista dan mencium punggung tangannya.
Deg... jantung Dista berdetak kencang. Entah perasaan apa ini.
Konferensi pers pun selesai, dan dilanjutkan makan siang privat di ruang VIP.
"Dista, kami memang belum mengenal kamu. Tapi saya yakin kamu akan menjadi istri yang baik untuk anak saya" ucap Wiguna dengan penuh wibawa.
"Iya pak. Saya akan berusaha menjadi istri yang baik."
"Dimana keluarga mu, apakah mereka setuju dengan pernikahan kalian??"
"Saya yatim piatu pak, hanya ada budhe yang tinggal di surabaya. Tapi saya belum memberi tahu nya, karena semua begitu cepat." jelas Dista.
Ratih tampak prihatin dengan calon menantunya itu. "Sekarang kamu jangan merasa sendirian lagi, ada kami yang akan menjadi keluarga kamu." sambil membelai rambut Dista "oh ya,, mulai sekarang panggil kami mama dan papa ya! jangan sungkan."
"Baik ma!" Dista merasa bahagia dengan perhatian calon mertuanya.Tapi dia juga sedih, karena semua itu hanya sementara. "Apa orang tua pak Daffa tidak mengetahui perjanjian itu?" batin Dista.
Terdengar pintu terbuka, Dista pun menoleh, sesosok pria tampan muncul dari balik pintu tersebut. Ya... Daffy, pria yang selama ini ia idolakan.
Makan siang pun berjalan lancar. Dista yang awalnya grogi, berubah bahagia karena ternyata keluarga Wiguna sangat baik.
********
Hari minggu, jam menunjuk pukul 09.00. Daffa duduk di depan Penghulu yang akan menikahkannya. Para tamu undangan juga telah hadir.
Dista memasuki ruangan didampingi mama Ratih dan Ana sahabatnya. Karena satu-satunya keluarga Dista, yaitu budhe Sumi tidak bisa hadir.
Daffa menoleh kearah calon istrinya, diperhatikannya Dista yang tampak cantik memakai kebaya bernuansa modern tersebut.
Ijab kabul selesai dilaksanakan. Daffa mengucapkannya dalam satu tarikan nafas. Tak ada beban ataupun perasaan gugup yang ia rasakan. Karena pernikahan ini baginya tak lain hanyalah permainan.
Sore hari dilanjutkan acara resepsi yang dilaksanakan di gedung yang sama. Banyak kolega dan rekan bisnis yang hadir. Acara ini sengaja dibuat sesantai mungkin, seperti acara perjamuan biasa.
Daffa sibuk menyambut tamu-tamu yang hadir didampingi sang istri.
"Selamat kak Daffa, semoga kalian bahagia!" ucap Daffy.
"Darimana saja.. Kenapa tadi siang gak datang?" tanya Daffa.
"Jemput dia, sekalian jadi sopir pribadi." sambil melirik ke arah perempuan cantik disebelahnya. Gadis yang tampak elegan, bisa dipastikan bukan dari kalangan biasa.
"Haii... Karin, apa kabar?? Sudah lama tidak berjumpa!" sapa Daffa.
"Aku baik, maaf ya tadi pinjam Daffy sebentar." jawab Karin dengan tersenyum manis.
"Cantik sekali, apa dia pacar pak Daffy.. Sungguh pasangan yang serasi" pikir Dista.
"Aku gak dikenalin nih sama istri kak Daffa?" goda Karin.
"Oh ya... Kenalkan ini Dista istriku. Dis ini Karin, pacarnya Daffy. Pacar doang... Entah kapan ke pelaminan?" goda Daffa.
"Ehmm..." Daffy yang terpojokkan.
"Dista..."
"Karin..." sambil berjabat tangan. "Kak Daffa pinter ya pilih istri, cantik banget!!"
"Makasih... Mbak Karin lebih cantik!" sahut Dista.
"Kalian kapan nyusul??" seloroh Daffa.
"Iya dehh.. Aku ngaku kalah telak sama jones sejati. Gak pernah punya cewek, tiba-tiba kawin...!"
"Apa benar selama ini pak Daffa gak punya pacar". Batin Dista "bukan urusanku juga"
bersambung....