Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Nasi goreng cinta


Taksi online yang Dista pesan membawanya menuju sebuah danau di pinggiran kota. Suasana tampak tenang, tak terlalu ramai. Hanya terlihat beberapa orang berjalan-jalan di tepi danau.


Dista duduk di sebuah bangku seorang diri. Tatapannya kosong, segurat kekecewaan tercetak jelas di wajahnya. Di dalam hatinya sedang terjadi pergulatan batin yang rumit.


"Apa yang harus aku lakukan? Masihkah harus aku mengabaikan semuanya. Berpura-pura tidak ada yang terjadi dan semua baik-baik saja?"


"Kalaupun meminta penjelasan dari mas Daffa, pasti dia akan mengelak." Dista masih bengong dengan kepalanya penuh dengan pertanyaan.


Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya.


"Jangan kebanyakan bengong, ntar ayam tetangga pada mati!" ujar suara dari belakang Dista. Suara yang sangat familiar.


Dista menoleh, melihat siapa yang menepuk bahunya dan baru saja menyapanya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Dista heran saat melihat siapa yang datang.


"Aku akan selalu ada untukmu!" jawab Ramon. Ya orang itu adalah Ramon.


"Nggak nyambung jawaban kamu!" kesal Dista.


Ramon tersenyum melihat kekesalan di wajah Dista.


"Aku dari kampus, mau ke kantor papa. Pas lewat depan kantor suami mu, aku lihat kalian. Aku perhatikan raut wajah Daffa sangat khawatir saat kamu pergi meninggalkannya. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti mu." Ramon menjelaskan panjang kali lebar.


"Kamu lagi berantem?" tanya Ramon penasaran.


Dista hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai sanggahan.


Ramon menghela nafas. Memperhatikan ekspresi Dista yang kacau.


"Kalau kamu mau berbagi masalah dengan ku, aku dengan senang hati akan menjadi pendengar yang baik." tawar Ramon.


Dista tak bergeming. Masih diam membisu. Menatap danau di hadapannya yang tampak indah dengan sinar matahari yang hampir tenggelam.


"Apa kamu masih ingat dulu waktu aku harus membersihkan seluruh toilet di sekolah?" Ramon melirik perempuan di sampingnya itu.


Akhirnya Dista bereaksi. "Bukannya setiap hari kamu dapat hukuman itu. Kamu lebih cocok menggantikan mang Ujang tukang kebun sekolah." Dista tersenyum tipis.


"Sembarangan kalau ngomong. Ganteng gini suruh jadi tukang kebun!!" gerutu Ramon tapi di dalam hatinya ia merasa lega, Dista mau menanggapi ucapannya.


Dista tersenyum melihat Ramon tak terima dengan ucapannya.


"Tapi setelah berteman dengan mu, aku menjadi lebih baik. Aku jadi lebih rajin. Dan nggak pernah jadi tukang bersih toilet lagi." ujar Ramon.


"Rajin nyontek maksudnya...?!"


"Setidaknya aku kan mengerjakan semua tugas ku tepat waktu meskipun nyontek pekerjaan mu. Hahaha...." Ramon menertawakan dirinya sendiri.


"Tapi beneran Dis, kamu itu membawa pengaruh positif pada ku. Dan sekarang pun aku yakin kamu masih sama. Selalu membawa pengaruh yang baik pada lingkungan sekitar mu." tutur Ramon.


Dista kembali terdiam.


"Aku nggak tahu ada masalah apa kamu sama Daffa. Tapi aku yakin kamu bisa menyelesaikannya. Kamu adalah perempuan tangguh. Tetaplah bersinar seperti matahari. Jangan sampai masalah rumah tangga, membuat sinar mu meredup!!" oceh Ramon.


Dista menoleh, memandang Ramon dengan kagum. Temannya itu kenapa sekarang bisa berkata bijak. Bukankah biasanya hanya gombalan receh yang ia katakan.


"Kamu belajar dari mana ngomong seperti itu?" tanya Dista.


"Jangan salah, aku ini orang bijak. Kadang juga jiwa pujangga ku tiba-tiba muncul. Belum lagi sisi romantis dalam diri ku yang kadarnya tak perlu diragukan." Ramon membanggakan diri untuk menghibur Dista.


Akhirnya Dista tertawa mendengar ocehan temannya itu. Melupakan sekejap gundah hatinya.


Matahari tak terlihat lagi. Cahayanya digantikan dengan temaram lampu.


"Kamu sedang tidak baik-baik saja. Aku nggak bisa membiarkan kamu pulang sendirian. Aku harus pastikan kamu sampai rumah dengan selamat! Nggak ada bantahan!!" kekeh Ramon membujuk Dista, hingga akhirnya perempuan itu pun setuju.


Pukul 8 malam di apartemen Daffa.


Daffa membuka pintu. Didapatinya seluruh ruangan masih gelap gulita. Pertanda belum ada orang yang datang.


Daffa tampak acak-acakan. Kemeja lusuh, dasi melenceng dan longgar. Rambutnya seperti terkena tornado, awut-awutan tak karuan.


Daffa duduk di sofa masih dengan ponsel di tangannya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor istrinya. Tapi masih tidak aktif.


Daffa memejamkan matanya. Ia lelah mencari keberadaan Dista yang tak kunjung ketemu.


Ceklek..


Segera Daffa menoleh, melihat siapa yang membuka pintu. Ia langsung melompat kegirangan saat tahu sosok di balik pintu adalah orang yang ia cari-cari.


"Sayang, kamu kemana saja? Aku mencari mu kemana-mana. Hp mu juga kenapa tidak bisa dihubungi? Aku mengkhawatirkan mu!" Daffa berhambur memeluk Dista.


"Maaf, aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Tapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak ad hubungan apa-apa dengan Fany. Tadi yang kamu lihat murni kesalah pahaman." Daffa mencoba menjelaskan. Sementara Dista masih diam membisu.


"Sayang!!" Dafa melepaskan pelukannya. Meregangkan dekapannya untuk melihat wajah istrinya.


Wajah ayu itu tampak kusut, tersirat kekecewaan dan kemarahan, tapi tak pernah Dista ungkapan.


"Aku mau mandi mas." ucap Dista kemudian.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Daffa. Dista hanya menggeleng. Ia tak punya nafsu untuk makan. Meskipun saat mengantar pulang, Ramon menawarkan untuk mampir ke restoran tapi Dista tolak.


"Kalau begitu kamu mandi dulu. Biar aku siapkan makan malam untuk kita!" ucap Daffa kemudian mengecup puncak kepala Dista.


Ingin sekali mulutnya bertanya 'apakah Daffa bisa masak' karena selama ini ia tak pernah melihatnya. Tapi nyatanya ia terlalu malas untuk sekedar mengeluarkan kata-kata.


Dista pergi ke kamar. Membersihkan diri, kemudian mengganti pakaiannya. Ia tak berniat untuk memoles wajahnya dengan make up atau sekedar menggunakan skin care.


Dista duduk di tepi ranjang. Ia masih saja melamun. Menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan. Memilih percaya kepada Daffa dan melupakan yang sudah terjadi. Ataukah mempercayai kecurigaannya yang masih membutuhkan bukti.


Ceklek.. Daffa masuk ke dalam kamar.


"Sayang, makan malam sudah siap. Aku mandi dulu, nanti kita makan sama-sama ya!" ucap Daffa kemudian menuju kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Daffa keluar dari kamar mandi. Ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Ia lihat Dista masih diam di tempat. Tidak juga menyiapkan baju untuknya seperti biasa.


Daffa menghela nafas. Ia harus bersabar, harus bisa meluluhkan hati istri kecilnya itu. Daffa pun mengambil sendiri piyama dari dalam lemari pakaian. Segera ia kenakan dan mengeringkan rambutnya, kemudian menghampiri sang istri.


"Ayo kita makan, nanti keburu dingin." ajak Daffa sambil menggenggam tangan Dista.


Dista hanya menurut, mengikuti langkah sang suami. Tiba di meja makan, tampak nasi goreng yang menggugah selera. Nasi goreng sosis dan ada potongan sayuran ditambah telur ceplok.


Daffa menarik kursi untuk Dista. Setelah mereka duduk.


"Kamu tahu sayang, apa nama masakan ku ini?" tanya Daffa sambil menaikkan sebelah alisnya.


Ingin sekali Dista menjawab 'tentu saja nasi goreng'. Tapi ia masih enggan membuka mulutnya. Dista hanya mengernyitkan dahinya.


Daffa terkekeh dan berkata "Ini namanya nasi goreng cinta. Spesial untuk istri ku tercinta."


Dista tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum. Daffa yang melihat senyum di bibir istrinya pun ikut tersenyum.


Senyum Daffa selalu bisa meluluhkan hati wanitanya itu. Hati Dista kembali berbunga dengan perlakuan manis sang suami.


Bersambung....