Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Sekretaris baru


Pagi hari di perusahaan Wiguna grup.


"Selamat pagi pak Daffa!" sapa Beny.


"Pagi." jawab Daffa singkat. Ia baru saja tiba di kantor. Duduk di kursi kebesarannya dengan setumpuk berkas di hadapannya.


"Laporan hasil peninjauan kemarin sudah saya taruh di meja Bapak. Semua berjalan dengan baik sesuai rencana." papar Beny.


"Baiklah. Ada lagi?" tanya Daffa.


"Sebelumnya saya minta maaf kalau saya lancang. Beberapa hari ini Bu Fany membantu saya mengurus pekerjaan Bu Della yang terbengkalai. Dan menurut saya beliau cukup kompeten. Apakah Pak Daffa tidak ada niat untuk menarik Bu Fany menjadi sekretaris anda?" tanya Beny dengan hati-hati.


"Ya, akhir-akhir ini aku keteteran menangani semuanya. Dan dari kandidat pendaftar sebagai calon sekretaris ku juga tidak ada yang memenuhi syarat." Daffa menjeda ucapannya sambil mengusap-usap dagunya.


"Apa menurutmu Fany orang yang tepat menggantikan Della?" tambahnya.


"Saya pikir begitu pak! Beliau punya latar belakang pendidikan yang bagus. Dan saya lihat kinerjanya juga mumpuni." jawab Beny meyakinkan.


"Baiklah, kamu panggil Fany sekarang!" perintah Daffa.


"Baik pak!" Beny meninggalkan ruangan Daffa untuk melaksanakan perintahnya.


Tak butuh waktu lama, kini Fany sudah berada di ruangan Daffa.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Fany sopan.


"Beberapa hari ini kamu membantu Beny untuk menghandle pekerjaan Della dengan baik. Apakah kamu tidak tertarik untuk menjadi sekretaris ku?" tanya Daffa memulai pembicaraan.


"Tentu saja saya sangat menginginkan posisi itu pak. Tapi, saya tidak berani ikut mendaftar menjadi sekretaris pak Daffa. Diberikan kesempatan untuk bekerja di sini saja, saya sudah sangat bersyukur. Jadi saya tidak mau berharap terlalu tinggi." jawab Fany.


"Lalu kenapa kamu mau bersusah-susah membantu Beny? Bukannya kamu banyak pekerjaan?"


"Saya membantu pak Beny saat pekerjaan saya sudah selesai pak! Jadi tidak menggangu sama sekali." ucap Fany.


"Bukan susah lagi, mengerjakan dua pekerjaan dalam waktu bersamaan. Huh.. demi mimpi besar, harus rela berkorban! Orang sabar rencana lancar!!" batin Fany menyemangati diri sendiri.


"Saya sudah pikirkan untuk mengangkat kamu menjadi sekretaris saya menggantikan Della. Apakah kamu bersedia?" Daffa memperhatikan ekspresi wajah Fany.


"Tentu saja pak. Dengan senang hati!" jawab Fany antusias. Tampak binar bahagia terpancar dari wajah cantiknya.


Daffa tersenyum melihat sekretaris barunya. "Kalau begitu kamu kemasi barang-barang mu, dan segera tempati meja sekretaris." perintah Daffa.


"Baik pak!" jawab Fany sambil menganggukkan kepala.


Fany bergegas keluar dari ruangan Daffa.


"Yeesss.... akhirnya aku bisa lebih dekat dengan Daffa. Semua berjalan sesuai rencana. Langkah selanjutnya, mengambil kembali hati Daffa. Aku yakin tak akan sulit, dulu Daffa begitu mencintai ku dan sangat memanjakan ku. Hanya butuh sedikit waktu untuk menggeser posisi nyonya Daffa Wiguna." Fany bersorak dalam hati.


Tentu saja ia hanya bisa mengucapkannya dalam hati, bahkan tembok pun bisa mendengar. Fany tentu harus berhati-hati. Ini baru langkah awal, ia tak boleh lengah.


Siang ini Dista mengantar makan siang untuk suaminya. Saat tiba di depan meja sekretaris, Dista mengernyitkan keningnya. Menatap bingung pada Fany.


"Selamat siang Bu Dista, saya sekretaris baru pak Daffa." ucap Fany dengan senyum manisnya.


"Sejak kapan kamu menggantikan Bu Della?" tanya Dista.


"Sejak hari ini. Pak Daffa sendiri yang meminta saya untuk menempati posisi ini." tutur Fany dengan santai.


"Ouwh... !" Dista melangkah menuju pintu, tapi kemudian berhenti tepat di depan pintu ruangan Daffa.


"Siapa namamu?" tanya Dista.


"Nama saya Fany!"


Dista masuk ke dalam ruangan Daffa setelah mendengar Fany menyebutkan namanya. Tentu Dista ingat dengan wajah dan nama itu. Ia hanya memastikan saja.


"Kenapa mereka masih baik-baik saja! Seharusnya mereka bertengkar. Dan gadis kampung itu tidak datang ke kantor ini lagi. Menyebalkan!!" gerutu Fany karena foto yang kemarin ia perlihatkan kepada Daffa tidak membawa dampak apapun pada hubungan suami istri itu.


Daffa beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang istri.


"Selamat siang mas!" sapa Dista.


"Siang sayang!" jawab Daffa memeluk Dista dengan erat.


"Mas Daffa sibuk?" tanya Dista.


"Setiap hari aku sibuk, tapi untuk istri ku tercinta selalu ada waktu luang!" gombal Daffa masih dengan kedua tangan melingkar di pinggang istrinya.


"Mulai deh!!" Dista mencubit lengan kokoh suaminya.


Daffa mengusap-usap tengkuk Dista sambil terkekeh.


"Mas, apa kamu sudah mendapatkan sekretaris baru untuk menggantikan Bu Della?" tanya Dista kemudian membalikkan badannya. Hingga mereka saat ini saling berhadapan.


"Emm.. iya, aku rasa Fany mampu menjadi sekretaris ku!" jawab Daffa tanpa rasa bersalah.


"Apa tidak ada orang lain?" ketus Dista. Akhirnya Daffa sadar istri kecilnya tengah merajuk.


"Sayang... aku sudah mewawancarai beberapa orang pelamar. Tapi tidak ada yang sesuai kriteria. Dan beberapa hari ini, Fany yang membantu Beny untuk mengambil alih tugas Della. Ia cukup cekatan dan kompeten." Daffa menghela nafas.


"Dan, kemarin dia juga berhasil meyakinkan klien untuk tetap bekerja sama dengan perusahaan kita. Jadi aku rasa dia pantas di posisi itu" tambah Daffa.


"Ditambah lagi dia cantik, mantan pacar pula!! Komplit !!" ejek Dista.


"Kamu cemburu?" goda Daffa.


Dista tak menjawab, hanya bibir manyunnya yang menjelaskan semuanya.


"Sayang, di hati ku hanya ada kamu. Cerita aku dan Fany sudah usai. Meskipun butuh banyak waktu untuk menepis bayang-bayang mantan, tapi akhirnya aku berhasil. Dan kehadiran mu semakin membuat aku yakin bahwa aku sudah melupakan dan merelakan masa lalu ku." tutur Daffa dengan lembut sambil mengusap rambut Dista.


Dista masih diam membisu. Ia tak habis pikir, banyak orang yang ingin menjadi sekretaris Daffa, tapi kenapa Fany yang terpilih.


"Tapi mas Daffa janji ya, nggak bakal macem-macem!!" Dista memperingatkan suaminya.


"Iya sayang!" Daffa mencubit hidung mungil Dista.


"Awas saja!!" ucap Dista sambil melotot.


"Janji!" balas Daffa tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang sedang cemburu.


"Kamu masak apa hari ini?" tanya Daffa.


"Cuma sup ikan, perkedel, udang saus pedas dan rendang dari rumah mama kemarin! Mas Daffa mau yang mana?" tawar Dista.


"Mau semua, sekalian yang bawa!" ucap Daffa terkekeh.


"Isshh..." Dista menyiapkan makan siang untuk Daffa. Tapi dengan manja Daffa minta untuk disuapi. Dista menyuapi suaminya dengan sayang dan juga Omelan.


"Kalau mau mengambil keputusan yang berhubungan dengan mantan, bisa kan minta pendapat ku dulu?" oceh Dista sambil menyendokan nasi ke mulut Daffa.


"Iya maaf!!" ucap Daffa dengan mulut penuh makanan.


"Kamu juga makan dong sayang!"


"Aku nanti saja, setelah bayi besar ku selesai makan!" jawab Dista. Daffa terkekeh mendengar jawaban sang istri.


"Kamu makin pinter masak sayang, masakan mu semakin lezat!" puji Daffa. "Tapi kamu harus lebih hati-hati, jangan biarkan tubuh kamu terluka saat memasak!"


"Iya suami ku yang bawel!!" jawab Dista.


Bersambung....