
Jam di pergelangan tangan Daffa masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Dadanya naik turun, bergemuruh seakan ingin meledak.
Beny yang mengemudikan sedan mewah membawa mereka kembali ke Jakarta, ikut merasakan ketegangan yang dirasakan oleh bosnya tersebut.
Daffa tampak gelisah, mengusap wajahnya kasar. Sesekali menatap gawai yang ada di tangannya.
"Lebih cepat Ben!!" perintah Daffa.
"Baik pak!" jawab Beny mengiyakan perintah bosnya yang sedang tidak baik-baik saja.
Dalam waktu dua setengah jam, mobil yang membawa Daffa memasuki kota Jakarta. Beny melajukan mobil menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh maps. Menuju sebuah hotel yang akan memberi mereka jawaban atas foto-foto yang dikirim ke no ponsel Daffa semalam.
Flash back
Daffa menyelesaikan meeting dengan beberapa investor saat malam sudah larut. Setelah para investor meninggalkan hotel tempatnya menginap, Daffa berdiskusi dengan asisten Beny.
Saat dirasa semua sudah beres. Daffa menyuruh Beny untuk beristirahat di kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Daffa.
Ting..
Handphone Daffa menunjukkan sebuah pesan masuk. Daffa yang baru merebahkan tubuhnya di atas ranjang, setelah membersihkan diri. Meraih ponsel tersebut. Daffa membuka pesan yang dikirim dari nomor tidak dikenal.
Daffa membelalakkan mata saat melihat pesan yang berisi foto-foto Dista bersama seorang pria. Mereka tampak tidur bersama di sebuah hotel.
Daffa meremas ponselnya dengan amarah yang memuncak. Dadanya terasa sesak, ada sakit yang tak bisa digambarkan. Setelah seharian belum mengistirahatkan tubuhnya, kini malah berita buruk yang ia terima. Sungguh mengenaskan.
"Ben, kita kembali ke Jakarta sekarang!" ucap Daffa saat sambungan teleponnya dijawab oleh Beny.
Asisten Beny mendengar perintah Daffa yang sungguh menyiksa hanya bisa mengiyakan tanpa bisa membantah. Padahal tubuhnya sungguh sangat lelah. Butuh istirahat barang sejenak. Tapi apa boleh buat, perintah bos adalah mutlak.
"Hufftt..." hanya itu yang keluar dari mulutnya saat sambungan telepon terputus.
Sabar bang Ben.
Flash back off
Daffa dan Beny masuk ke dalam lift di hotel tersebut. Ia sudah tahu di lantai dan kamar nomor berapa Dista berada. Saat sampai di depan pintu kamar tersebut, Daffa menarik nafas dalam-dalam.
Beny mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Saat Daffa mencoba membuka pintu, ternyata pintu dalam keadaan tidak terkunci. Aneh, atau kebetulan. Masa bodoh.
Daffa melangkah masuk ke dalam kamar tersebut diikuti Beny di belakangnya. Mereka dapati dua anak manusia di atas ranjang. Keduanya masih memejamkan mata. Tak ada pergerakan sedikit pun, bahkan kehadiran mereka tidak mengusik tidur keduanya.
"Dista... bangun!!" teriak Daffa memekakkan telinga. Beny yang berada di sampingnya hanya bisa menutup telinganya.
"Bangun!!" teriaknya lagi sambil menggoyangkan tubuh Dista yang tertutup selimut.
Dista berusaha membuka mata yang terasa sangat berat. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya.
Setelah mendapatkan kesadarannya, Dista melihat Daffa berdiri di sebelahnya.
"Mas Daffa?" ucapannya lirih.
"Bangun kamu, dasar murahan!" maki Daffa.
Dista tercengang dengan ucapan Daffa barusan.
"Mas, kamu kenapa?" Dista kebingungan. Kemudian ia ingat tentang kecelakaan yang menimpa Daffa. "Mas Daffa baik-baik saja?"
"Tidak ada yang baik-baik saja!" ucap Daffa masih dengan nada tinggi. Kilat kemarahan tampak nyata di wajah tampan itu.
"Siapa sih berisik!" ucap Ramon sambil menggeliat.
Dista menoleh, betapa kagetnya saat ia dapati Ramon tidur di sebelahnya. Dista menutup mulutnya, matanya membola. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan. Ia semakin kacau saat yakin ini bukan kamarnya. Bukan pula rumah sakit seperti yang ia tuju tadi malam.
"Ramon!!" teriak Dista. "Ngapain kamu di sini?"
Ramon yang perlahan membuka mata, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Bukankah ia berada di kamarnya, tapi mengapa banyak orang ribut-ribut.
"Ka.. kalian kenapa ada di kamar ku?" tanya Ramon kebingungan.
"Tidak usah berpura-pura. Dasar bajingan!?" maki Daffa dengan kekesalan penuh.
"Mas, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." sanggah Daffa.
"Semua sudah jelas Dis, kamu nggak bisa mengelak lagi!" hardik Daffa.
"Aku tunggu kamu di apartemen." Daffa berbalik pergi diikuti oleh asisten Beny. Ia berhenti di pintu dan menoleh. "Menjijikkan!!" gumamnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ramon yang masih merasa pusing akibat minuman semalam.
"Aku nggak tahu!" jawab Dista sambil menangis.
"Kenapa jadi begini?" gumam Ramon, mengusap wajahnya kasar. Ia ingat semalam dijemput oleh supir baru papanya saat ia mabuk. Tapi kenapa berakhir di kamar hotel bersama Dista.
"Kita pasti dijebak!" ujar Ramon.
"Tapi oleh siapa dan untuk apa?" tanya Dista di sela tangisnya. Dista segera berlari ke kamar mandi dengan selimut menutup tubuhnya. Ia meraih bajunya yang berserakan di lantai. Ya, Dista hanya mengenakan pakaian dalam.
Sedangkan Ramon yang bertelanjang dada menatap punggung Dista yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Ramon mencari keberadaan ponselnya. Dan segera menghubungi papanya.
"Pa, apa papa mempekerjakan supir baru?" tanya Ramon saat telepon tersambung.
"Tidak ada. Hei, anak nakal kamu ada dimana? kamu tidak pulang semalam?" tanya Rendra dengan nada tinggi.
"Aku sedang ada sedikit masalah. Aku tutup dulu pa." jawab Ramon.
"Kenapa aku sangat bodoh. Percaya begitu saja sama orang asing!" gumam Ramon.
Dista keluar dari kamar mandi, ia sudah berpakaian lengkap tak lupa jaket ia kenakan. Dista mencari keberadaan ponselnya. Setelah dapat segera ia masukkan kantong.
"Aku pergi dulu Ram!" pamit Dista.
"Tunggu!" cegah Ramon.
"Aku harus segera menemui mas Daffa." jawab Dista.
"Bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Ramon penuh selidik.
Dista mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
"Aku mendapat telepon yang memberi tahukan bahwa mas Daffa kecelakaan. Dan ada dua orang yang menjemput ku di apartemen. Aku sangat cemas dan tidak bisa berpikir jernih. Jadi aku menurut saja saat mereka bilang akan mengantar ku ke rumah sakit dimana mas Daffa dirawat." terang Dista.
"Saat di dalam mobil, aku sangat mengantuk, kepala ku pusing. Jadi aku ketiduran. Dan bangun saat mas Daffa memergoki kita." tambah Dista dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
Ramon bangkit, mendekati Dista. Menepuk bahu Dista berusaha menenangkan hati Dista yang sedang kacau.
"Kamu tenangkan dirimu. Aku janji akan mengusut tuntas semua ini. Ku pastikan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal." janji Ramon pada Dista.
Dista hanya mengangguk dan menyeka air matanya.
"Aku harus pulang!" ujar Dista.
"Biar aku mengantarkan mu!" tawar Ramon.
"Tidak perlu Ram, aku nggak mau memperkeruh suasana. Aku naik taksi saja." jawab Dista.
"Baiklah... hati-hati!" ucap Ramon.
Bersambung....