
SENYUM YANG KEMBALI
" Bukit? "
Tanya Gea.
" Yap, lebih tepatnya bukan sembarang bukit. "
Jawab Bara asal.
Gea berjalan terlebih dahulu disusul Bara dibelakangnya dengan sedikit berlari.
Mereka tiba di puncak bukit, memang bukitnya tidak terlalu tinggi.
Hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit untuk sampai pada puncaknya.
**Mereka duduk bersebelahan, menghadap langit yang sudah menjingga.
Menandakan matahari sebentar lagi akan tenggelam dan digantikan oleh bulan.
Setelah beberapa saat dalam keheningan akhirnya Bara membuka suaranya**.
" Lo tau gak, ngapain gue ngajak lo kesini? "
Tanyanya sambil menoleh kearah Gea.
Yang ditatap hanya menggelengkan kepalanya.
" Karena ditempat ini gue bisa ngerasa bebas. Ditempat ini gue biasa nenangin diri kalo ada masalah. Dan cuma gue yang tau tempat ini, tapi sekarang sama lo. Lo orang pertama yang gue kasih tau tempat ini. "
Jawab Bara sambil tersenyum, manis sekali. Gea belum pernah melihat senyuman seindah itu, senyum yang benar-benar tulus.
" Makasih buat percayain gue untuk tahu tempat ini. "
**Gea balas tersenyum. Senyuman yang sesungguhnya, senyuman yang sempat hilang bersama perginya seseorang yang paling dia sayang. Dan sekarang senyuman itu kembali.
Bara kaget, tentu saja kata orang-orang seorang Algea Alexsandra si cewek dingin dan anti sosial yang jarang tersenyum bahkan tidak pernah tersenyum itu sekarang tersenyum begitu tulus. Lihat wajahnya dia begitu cantik saat tersenyum seperti itu**.
" Sama-sama, tempat ini juga cocok bual lihat senja. "
NIGHTMARE
Gea sampai dirumahnya pukul 7.15, setelah melihat senja tadi Gea memutuskan untuk meminta Bara mengantarnya pulang.
Dan Bara menyetujui itu dengan alasan anak gadis tidak baik keluar malam\-malam, oh bukankah dia yang mengajak.
**Kenapa Gea seakan yang salah disini. Dan dengan seenaknya dia akan ikut masuk kerumah Gea tanpa permisi, dengan alasan ingin bertemu calon mertua. Alasan macam apa itu, sungguh klasik dan Gea tidak suka itu.
Memasuki rumahnya dengan langkah gontai, menaiki tangga satu persatu. Tubuhnya sangat lengket dan juga lelah. Dia akan mandi lalu tidur, terasa sangat nyaman**.
**Sesampainya di kamarnya dia bergegas membuka satu persatu seragamnya lalu berendam dalam bathtub, nadannya terasa lebih segar sekarang. Memakai piyamanya lalu merebahkan tubuhnya di kasur king size\-nya.
Sampai lama\-kelamaan matanya gelap, rasa kantuk membuat dia terlelap begitu saja.
Gea terbangun dari tidurnya. Tetapi dia merasa ada yang berbeda dengan tempat tidurnya. Tunggu kenapa tempat tidurnya jadi seperti ini**.
Gea yakin ini bukan kamarnya, barang\-barang berserakan dimana\-mana. Tunggu ini bukan kamar. Ruang tamu? Dimana dia sebenarnya. Foto? Terdapat foto Gea waktu kecil di salah satu dindingnya. Juga foto kedua orangtuanya.
BRAK.....PRANGGG .
Suara apa itu batin Gea
Gea menuju sumber suara itu, dia yakin kalau suara itu berasal dari arah dapur. Gea mempercepatnya langkahnya saat mendengar suara seorang perempuan berteriak.
Akhhhh....
***Deg...deg....deg*...
jantungnya berdegup sangat kencang.
Gea** berhenti sebelum sampai di dapur. Suara itu
Suara itu, Gea yakin pernah mendengarnya. Suara yang begitu familiar di telinganya.